Perjalanan

Manusia, Insan yang pada hakikatnya lahir dengan tajuk yang selalu sama, “Melakukan Perjalanan”. Perjalanan yang sungguh tidak akan pernah mudah, itukah alasan mengapa hal pertama yang kita lakukan ketika terlahir adalah ‘menangis’? karena sejatinya kita tahu, bahwa hidup, tidak akan pernah mudah.

Kita acap kali dipaksa untuk menjadi saksi kerasnya kehidupan yang ada disekitar kita, melalui kisah, kejadian atau bahkan drama yang selalu dilapisi oleh tangisan tak berdaya. Ada banyak cerita yang menguji pemahaman kita, yang mungkin hanya akan berujung pada tanya yang enggan terjawab, mengenai kebenaran yang tak akan pernah sama.

Apa sebenarnya yang kita tuju dari perjalanan hidup kita? Kebahagiaankah? Kebenarankah? Surga? Atau zat sang pencipta yang masih menjadi misteri? Seberapa jauh kita mampu melangkah melihat kegetiran di pinggiran jalan setapak? Sudikah kita untuk berhenti sejenak menengok bilur di kaki mereka yang berjalan tanpa alas?

Tak jarang juga kita menangisi nasib miris kaum pinggiran, kaum yang perlahan mulai kehilangan makna terhadap kehidupannya sendiri, merangkak menghampiri lilin yang perlahan mulai mengecil dan mati sebelum sinarnya mampu membilas wajah, yang tersisa hanyalah puing lelehan tak berbentuk disamping jalan. Memungutnya pun takkan merubah keadaan.

Menanggalkan sifat kemanusiaan dengan terus berjalan atau mungkin berpura-pura tidak tahu dianggap pilihan yang tepat. Yang berlalu biarlah berlalu, begitu kata orang, namun sayangnya yang berlalu itu menguap dan mengkontaminasi udara sekitar dan menyatu bersama ingatan di kepala.

Menangis ku dibuai memori cerita yang menunggu untuk dibayar lunas. Tangisan apa ini? Ketidakberdayaankah? Atau Penyesalankah? Keterbatasan ku sebagai manusia menuntut kesempurnaan yang tak dapat diterima oleh akal sehat. Hingga ku sadari bahwa aku hanya ‘Manusia’ yang terkikat oleh ruang dan waktu.

Menyesalkah aku memilih menjadi ‘Manusia’ dengan keterbatasannya? Menyesalkah aku menjadi serpihan kaca di pelosok jagad raya? Menyadari bahwa aku hanyalah setitik kecil penghuni alam semesta. Haruskah ku tuntaskan perjalanan ini dan memilih jalan pintas untuk berpulang?

Pulang? Pulang kemana? Tujuan akhirpun tak kuketahui dengan jelas! Lalu ku biarkan tangis ku membasahi jalan, pinta ku padanya untuk membersihkan debu dan kerikil, agar lebih mudah ku melangkah melewati takdir ku sendiri. Tuntun aku wahai Zat pemilik jalan ku. Berikan aku setitik keberanian Mu. Bantu aku menemukan batas ku sendiri, di perjalanan yang tak pernah ku ketahui dimana ujungnya.

Advertisements

Catatan Akhir Tahun

Rumah, sebuah entitas berharga yang harus dibayar mahal. Tak jarang untuk mendapatkannya diperlukan sebuah perjuangan atau bahkan pengorbanan. Manusia dalam perjalanan hidupnya selalu haus akan pencarian ‘rumah’. Tempat dimana semuanya berawal dan berakhir. Tempat dimana kita dapat memaknai arti dari sebuah pertemuan dan perpisahan.

Home.jpg

Tahun ini tajuknya ‘rumah’. Di awal tahun ini, pada akhirnya saya harus meninggalkan Jatinangor. Sebuah kota kecil dipinggiran kota Bandung yang selalu saya rindukan kepulangannya. Jatinangor bagi saya sama seperti ketika saya melihat perempuan cantik, semakin lama dilihat semakin betah dipandang, begitu cara saya menganalogikannya.

Disana saya hidup satu atap selama bertahun-tahun dengan orang-orang yang tidak pernah gagal menyinggungkan senyuman hanya dengan mengingat momennya. Semua hal masih terekam jelas dalam ingatan. Terlalu banyak cerita, kenangan atau mungkin penyesalan yang saya tinggalkan disana.

***

Tepat di bulan Agustus, saya ditugaskan untuk meliput penggusuran warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur. Negosiasi antara Pemprov DKI Jakarta bersama masyarakat sekitar menemui jalan buntu. Pemprov akhirnya melakukan penggusuran secara paksa meskipun masyarakat memutuskan untuk bertahan.

Saya menjadi saksi bagaimana puluhan backhoe dengan angkuhnya meratakan rumah penduduk. Aparat dan masyarakat bertindak anarkis. Ini merupakan bukti gagalnya Pemprov DKI menjembatani warganya dalam mencapai kesejahteraan.

Dua hari berselang setelah penggusuran, saya kembali kesana. Kali ini saya ditugaskan untuk mewawancarai warga yang terkena penggusuran. Di ujung sana kira-kira 10 meter jauhnya dari tempat saya berdiri. Saya melihat seorang ibu menangis, ia ditemani oleh dua ibu lain yang sedang mengelus-elus pundaknya. Saya memberanikan diri untuk mewawancarainya.

kampung_pulo_top_0.jpg

Namanya Iyah, tempat dimana ia menangis dulunya merupakan titik dimana dirinya berlindung dari panas dan dingin bersama keluarganya. Pada awalnya saya heran mengapa ia meratapi nasibnya di depan puing-puing reruntuhan rumahnya. Karena sepengetahuan saya, warga yang terkena penggusuran mendapatkan 1 unit tempat tinggal di Rusun Jatinegara. Jadi menurut saya tidak seharusnya ia berada disini.

Setelah ia bercerita, barulah saya mengerti. Ternyata dirinya hanya mengontrak di rumah yang sudah ditempatinya selama lebih dari 20 tahun. Alhasil jatah 1 unit rusun menjadi hak dari si pemilik rumah. Dirinya kembali untuk memeriksa beberapa barang yang masih dapat terpakai dengan mengais-ngais reruntuhan tersebut.

Secara hukum, dirinya dan beberapa warga yang terkena penggusuran mungkin salah. Bahwa tak seharusnya mereka mendirikan rumah di tanah negara tanpa ijin. Hal tersebut membuat sebagian besar warga di Kampung Pulo tidak memiliki sertifikat resmi kepemilikan rumah. Dengan dalil tersebut, Pemprov menolak untuk memberikan uang kerohiman kepada mereka yang terkena penggusuran. Warga seakan tidak diberikan pilihan dalam menentukan nasibnya karena Pemprov hanya bersedia untuk mengganti mereka dengan 1 unit rusun. Bagaimana dengan orang-orang seperti Iyah? Tak sepeser pun ia dapat.

Begitu rendahnya pemerintah menilai makna sebuah ‘rumah’. Hukum seakan melegitimasi perbuatan mereka yang tidak beradab. Mata, hati dan telinga mereka seakan-akan tertutup. Mereka enggan melihat kebawah karena pemandangan di atas sana jauh lebih indah, hal tersebut membuat hati mereka terkunci dan enggan mendengarkan suara rakyat kecil yang ada di bawah sana.

Dalam diri saya bertanya, apakah mereka para pemimpin tahu betul makna dari pancasila? Bagaimana mungkin kita dapat dipimpin oleh pemimpin yang tidak beradab? (sila ke-2), mereka seakan-akan tidak mau bersatu bersama masyarakat (sila ke-3) untuk memusyawarahkan (sila ke-4) jalan tengah demi kepentingan bersama, maka jangan pernah berharap dan berbicara mengenai keadilan (sila ke-5) karena sejatinya mereka telah mengubah Jakarta menjadi hutan belantara dimana hukum alam lah yang diberlakukan.

***

Di bulan yang sama, pada akhir bulan Agustus saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan dari seko.ci (sekolah kolong Cikini) yaitu ‘berlayar’. Kegiatan tersebut melibatkan anak-anak jalanan di daerah Cikini yang dipandu oleh beberapa alumni-alumni almamater saya terdahulu. ‘Berlayar’ merupakan kegiatan belajar sambil jalan-jalan. Kebetulan kegiatan ‘berlayar’ pada saat itu merupakan ‘berlayar’ yang pertama.

Beberapa dari mereka benar-benar hidup di bawah rel kereta (homeless). Pekerjaan kedua orang tuanya sebagian besar merupakan pemulung. Tak jarang Satpol PP mengusir mereka apabila sedang melakukan razia.

1450881007371.jpg

Anak-anak terlihat senang dan bergembira, hal tersebut menutupi rasa iba saya kepada mereka. Saya pribadi mengetahui bahwa ‘uang bukanlah segalanya’, namun setelah beberapa bulan bersama mereka baru lah saya benar-benar memahami maksudnya. Meskipun mereka hanya setitik kecil penghuni alam semesta yang hidup dibawah garis kemiskinan, mereka masih dapat tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban.

Tidak sedikit pun mereka berkecil hati dan bersedih terhadap takdir yang harus mereka jalani. Mungkin menjadi hal yang wajar karena mereka masih anak-anak yang belum dapat sepenuhnya memahami kondisi mereka sendiri. Namun tidak pernah saya bayangkan rasanya mengalami pengusiran paksa, atau mungkin harus tidur di luar menahan dingin dan tidak memiliki tujuan hidup yang lain kecuali mencari uang  hanya untuk makan hari ini.

Yang saya ajarkan kepada mereka hanya membaca dan menulis, namun nilai-nilai kehidupan yang mereka berikan jauh lebih banyak dan lebih besar. Bahwa ‘rumah’ terbaik bukanlah ‘rumah’ dalam bentuk fisik, sadar bahwa kita masih memiliki orang-orang yang peduli terhadap diri kita menggambarkan bentuk ‘rumah’ yang sebenarnya. Cheer up sons! Never let the world change your smile, we will guide you as far as we can!

 

 

Kesalahan Penempatan Terminologi Identitas dan Personalitas

Masalah identitas dan personalitas dalam kehidupan sosial sering disalahartikan. Tak jarang keduannya dijadikan perbedaan dan perbandingan. Kedua hal tersebut memang berbeda, namun bukan bearti harus dibedakan dan dipisahkan. Karena secara langsung identitas akan selalu berhubungan dengan personalitas begitu juga sebaliknya. Benang merah dari identitas dan personalitas terletak pada tuntutan pencarian jati diri manusia selaku individu terhadap dirinya sendiri. Kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskan terminologi identitas dan personalitas diri dari aspek psikologi dan makna harfiahnya.

Makna Identitas (Jati Diri)

Secara harfiah identitas berasal dari bahasa inggris yaitu identity, dapat diartikan sebagai ciri-ciri, tanda atau jati diri. Menurut Adam dan Gullota, 1983 (dalam Desmita, 2005 : 211) identitas adalah sebuah fenomena psikologi yang kompleks. Dimana hal itu mungkin adalah sebuah cara pemikiran seseorang dalam kepribadiannnya. Termasuk didalamnya identifikasi dengan individu yang dianggap penting dalam kehidupan mulai dari awal masa kanak-kanak. Termasuk identifikasi peranan seks, ideologi individu, penerimaan norma kelompok, dan banyak lagi.

Dapat disimpulkan identitas merupakan sesuatu yang dibentuk dari dalam pribadi manusia yang bearti bahwa identitas berkaitan dengan personalitas. Senada dengan yang dikatakan Cak Nun dalam Kenduri Cinta pada bulan Oktober, “Identitas merupakan bentuk kreatif dari personalitas, yang terbentuk berdasarkan kebebasan dari suatu individu mengenai pemilihan keputusan terhadap identitasnya sendiri.”

Sebagai contoh misalnya, semasa berkuliah saya mengambil studi program komunikasi, namun pada akhirnya saya memilih untuk berprofesi sebagai bankir yang bukan merupakan background pendidikan saya. Identitas merupakan sesuatu yang dipilih, bukan dipaksakan.

Makna Personalitas (Kepribadian)

Secara harfiah personalitas berasal dari bahasa inggris yaitu personality. Personality sendiri merupakan serapan dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam theater yang menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. George Kelly memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.

Kepribadian (personalitas) bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk oleh proses sosialisasi. Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan. Segala sesuatu yang berasal dari dalam diri baik pemikiran mengenai pandangan mengenai benar atau salah merupakan bentuk personalitas yang juga tak dapat diganggu gugat.

Kesalahan Penggunaan Terminologi

Terlepas dari kajian psikologis mengenai identitas dan personalitas, bayangkan bahwa identitas merupakan software dan personalitas merupakan hardware. Sebagai hardware personalitas merupakan apa yang ada di dalam diri kita dalam bentuk fisik yang menjadi ciri khas seseorang sebagai pembeda antara satu individu dan individu lain. Jenis rambut, bentuk muka, warna kulit yang keseluruhannya merupakan pemberian Allah SWT. Personalitas sifatnya Given dan kita sebagai manusia tidak dapat memilih.

Sementara Identitas sendiri seperti yang sudah dijelaskan diatas merupakan bentuk kreatif dari personalitas. Kita sebagai manusia memiliki hak untuk memilih salah satu identitas dari berbagai opsi. Identitas sebagai software seperti misalnya agama, gender profesi, dll. Jati diri merupakan pilihan hidup yang kedaulatannya tidak dapat diganggu gugat. Namun behati-hatilah dalam memilih identitas, karena apabila pilihan tersebut bukan berasal dari keinginan pribadi anda, maka tanpa anda sadari anda akan gagal identitas karena pemilihan opsi tersebut diambil berdasarkan personalitas orang lain dalam arti terpengaruh dari dorongan luar.

Kesalahan penggunaan terminologi identitas dan personalitas terjadi pada penggunaan istilah tersebut di beberapa kartu identitas pribadi seperti KTP, passport dan SIM yang mencantumkan kolom nama, golongan darah, kebangsaan dan kelamin. Padahal sesuatu yang sifatnya Given seharusnya masuk dalam ranah personalitas bukan identitas, karena kita tidak dapat memilih beberapa hal tersebut. Karena itu seharusnya kartu tersebut seharusnya dinamai dengan ‘personalitas pribadi’ bukan ‘identitas pribadi’.

“Identitas merupakan sesuatu yang kita adopsi dari lingkungan yang sifatnya nurture, sedangkan personalitas merupakan sesuatu yang kita dapat tanpa bisa memilih yang sifatnya nature.” Sabrang (Kenduri Cinta, TIM, Jakarta, 9 Oktober 2015)

Penyalahgunaan Bahasa: “Pengidentikkan Kata ‘Terorisme’ Dengan Agama Islam”

Pada hari Sabtu tanggal 14 November 2015 saya membaca pemberitaan di beberapa media bahwa Prancis diserang 7 aksi serangan serentak di 6 lokasi berbeda. Ada satu kutipan yang membuat saya kecewa di media tersebut.

Dikutip dari New York Times bahwa, saksi mata serangan teroris menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mereka terhadap hal buruk yang di lakukan Presiden Francois Hollande yang  menimpa masyarakat muslim di seluruh pelosok dunia.

Dari kutipan tersebut, saya menyimpulkan aksi teror tersebut dilakukan oleh oknum yang lagi-lagi mengatas namakan agama untuk berbuat hal yang menurut mereka benar dan layak. Pemikiran bodoh yang datang dari beberapa orang yang putus asa.

Ya, benar putus asa. Mereka menyadari bahwa kekuatan mereka tidak sebanding apabila ingin menyerang orang yang membuat mereka kecewa. Alhasil, mereka menyerang orang-orang yang tidak bersalah dan tidak bersenjata dan terlebih lagi, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang kekecewaan mereka.

Beberapa oknum merusak citra agama Islam karena mereka mengatas namakan agama Islam dalam setiap aksi yang menurut saya bodoh. Haruskah Islam lagi-lagi dijadikan kambing hitam? Haruskah orang-orang yang beragama Islam menerima cacian dari masyarakat dunia hanya karena ulah beberapa oknum?

Aksi terorisme pada kenyataannya memang lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang memeluk agama Islam. Namun, haruskah Islam diidentikan dengan terorisme? Saya akan mencoba membahas pengertian kata Terorisme hingga pada akhirnya kata tersebut menjadi identik dan seolah-olah menjadi identitas agama Islam yang berkembang di kalangan masyarakat.

Pengidentikkan Kata “Terorisme” Dengan Agama Islam

Terorisme berasal dari kata teror dan -isme, merupakan serapan dari bahasa inggris yaitu terrorism yang berarti bahwa penggunaan kekerasan untuk tujuan-tujuan politis, termasuk menggunakan kekerasan untuk membuat masyarakat atau anggota masyarakat ketakutan (The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act, 1984, pasal 14 ayat 1).

Teror sendiri berasal dari kata latin “terrere yang kurang lebih berarti membuat gemetar atau menggetarkan dan -isme merupakan sufiks yang berasal dari Yunani -ismos, Latin -ismus, Perancis Kuna -isme, dan Inggris -ism. Akhiran ini menimbulkan arti yang berbeda-beda bergantung dari awalan yang dikenakan oleh sufiks –isme. Dapat diartikan sebagai gerakan politis (feminisme), karateristik (nasionalisme), diskriminasi (rasisme), tindakan (terorime), dan yang lainnya.

Aksi terorisme (menurut wikipedia) mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Pada abad ke-11, organisasi bernama Hashhashin atau yang lebih dikenal dengan nama “Assassins” yang berkembang di Iran dan Syria juga merupakan bentuk aksi terorisme. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19.

Aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.

Beberapa aksi terorisme lainnya yang tercatat dalam sejarah seperti aksi Narodnaya Volya di Rusia yang berkembang pada tahun 1879. Irish Republican Army berlatar belakang pemisahan diri Katolik Irlandia di bawah kekuasan Great Britania pada tahun 1950an. Selain itu gerakan Kurdistan Worker’s Party pada tahun 1970an dan Macan Tamil di Sri Lanka.

Namun hal yang membuat terorisme identik dengan agama Islam terjadi pada tahun 1990an ketika banyak gerakan terorisme yang berbasis di timur tengah lewat kelompok Al Qaeda, Hamas dan Hezbollah mengatas namakan agama Islam dalam setiap aksinya. Dengan membawa dalil “Jihad”, tanpa berpikir panjang mereka bukan hanya mencoba untuk menghancurkan musuh, tanpa mereka sadari citra baik agama Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW lewat perjuangannya juga ikut hancur.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, pemberitaan terhadap aksi terorisme pun terangkat secara terus menerus. Sialnya lagi, aksi terorisme yang berkembang pada saat itu sampai sekarang banyak dilakukan di timur tengah dan oknum yang melakukannya lagi-lagi mengatas namakan agama Islam. Maka jadilah beberapa masyarakat dunia mulai memiliki pemikiran bahwa “terorisme itu identitas Islam”.

Kesalahan Penafsiran Masyarakat

Mari berpikir logis dalam menyikapi permasalah terorisme yang selalu dikaitkan dengan agama Islam. Analoginya seperti ini :

  1. Menurut saya ‘agama’ itu seperti kendaraan yang dimiliki oleh setiap umat manusia. Kendaraan tersebut dapat menuntun setiap pemiliknya menuju kebaikan. Apabila dalam perjalanannya kendaraan tersebut menabrak kendaraan lain hingga menyebabkan orang-orang tewas. Apakah anda akan menyalahkan kendaraannya? Bukankah yang menjadi logis adalah anda menyalahkan pengendaranya? Sama seperti hal yang terjadi pada saat ini. Masyarakat kerap menyalahkan label kendaraan sama yang dikendarai oleh oknum pengendara yang menyebebakan kecelakaan. Seakan-akan orang lain yang menggunakan label kendaraan yang sama juga harus bertanggung jawab terhadap kecelakaan tersebut. Masalah itu terus berputar tanpa ada yang menyadari bahwa yang mereka hakimi adalah benda mati. Apakah ada persidangan yang dikhususkan untuk benda mati?
  2. Daging babi banyak dikonsumsi oleh orang-orang beragama non-muslim. Apabila pada suatu saat saya yang beragama islam ingin mencicipi daging babi, apakah Identitas awal saya akan berubah menjadi non-muslim ketika saya memakan daging babi? Hanya dengan memakan daging babi tidak akan cukup untuk menjelaskan apa identitas saya. Sama seperti hal yang saat ini sedang terjadi. Aksi terorisme dapat dilakukan oleh semua etnis atau agama. Haruskah Terorisme menjadi identitas agama Islam hanya karena kasus yang banyak berkembang saat ini dilakukan oleh oknum-oknum yang memeluk agama Islam? Pada kenyataannya mayoritas oknum dari organisasi Macan Tamil di Sri Lanka merupakan mereka yang beragama Hindu.

Dapat dilihat bahwa permasalahan terorisme bukan merupakan perkara identitas, dan agama hanya sesuatu yang sifatnya ‘abstrak’, tak berbentuk, yang tidak dapat melakukan apa-apa. Agama itu jelas merupakan ‘kekuatan’ yang dijadikan fasilitas bagi umat manusia ke arah yang lebih baik. Tindakan beberapa oknumlah yang membuat ‘kekuatan’ tersebut membawa dampak yang buruk bagi umat manusia. Bahkan Einstein menangis ketika ilmu relativitas yang ditemukannya dikembangkan untuk membuat bom nuklir. Mari melihat sebuah permasalahan bukan dari identitas yang melekat, karena kesalahan yang terjadi merupakan bentuk personalitas bukan identitas.

Munkin Kita…

Keterkaitan kita mungkin hanya sebatas rangkaian aksara
yang hanya akan menimbulkan makna apabila ada jarak
Kita juga sama seperti uap air setelah hujan
yang biasnya mampu memberikan keindahan warna dari spektrum pelangi walau hanya sementara
Mungkin kita seperti seseorang dan bintang jatuh yang ditunjuknya
yang hanya dapat memberikan pengharapan ketika ia turun dan lenyap dalam sepersekian detik
Atau mungkin kita sama seperti petapa?
yang dapat mencapai kekhusyukannya dengan melagukan kebisuan
Apakah kita sama seperti cerita
yang tidak selalu berakhir dengan happy ending

Kini, tidak banyak hal yang dapat kita perbincangakan
Ombak yang sama tidak akan pernah membasahi tepi pantai yang sunyi
Karena mungkin arus kini membawa dirinya ketengah samudera tak bertepi
Itukah yang kau inginkan?
Membiarkan dirimu terombang-ambing tanpa pernah ingin mencapai tepian tempat kau bermuara
Atau mungkin dirimu kini sedang berproses menjadi uap air yang siap membasahi pantai yang berbeda?
Capai lah tepian mu dengan cara apapun
Karena kelak, mungkin dirimu lah yang akan menjadi bagian dari pantai terasing dan  menunggu ombak yang sama untuk datang memeluk mu

Doa Untuk Negeri

Ya Tuhan, semoga program pemerintah yang membiayai pendidikan orang yang sudah pintar ke luar negeri memang tepat sasaran.

Ya Tuhan, aku hanyalah hamba-Mu yang menilai sesuatu berdasarkan perspektif dan pengalaman masa lalu yang hamba jadikan pelajaran

Bahwasanya negara ini telah gagal untuk dapat memberikan tempat bagi mereka yang ingin menghadirkan perubahan ke arah yang lebih baik

Bahwasanya menjadi pintar terkadang tidak cukup untuk dapat mencairkan kebobrokan para petinggi

Bahwasanya bukan kepintaran yang mampu memecahkan kebisuan mulut yang selama ini kerap terkunci oleh berbagai ancaman

Bahwa pada akhirnya hanya keberanian lah yang mampu memercikan setitik cahaya di kamar gelap bernama Indonesia Raya

Ya Tuhan, karena itu aku meminta padamu untuk tidak hanya menjadikan mereka pintar, tapi berani melawan otoritas petinggi yang acap kali mampu menghanguskan semangat para pejuang kebatilan.

Ya Tuhan, jangan lah Engkau menjadikan mereka sombong atas capaian strata sosial yang lebih tinggi

Jangan pula Kau jadikan mereka tikus berdasi yang kerap bersembunyi dan merampas di balik sarang intelektualitas

Ya Tuhan, berikanlah kaum-kaum marjinal kekuatan untuk tetap dapat mengamini janji para pemimpin bangsa dan negara

Berikanlah para orang tua pengetahuan agar dapat memberikan pemahaman bagi anak-anak mereka bahwa pemerataan bukanlah sebuah lelucon belaka

Berikanlah anak-anak ibu pertiwi kecerdasan dibalik keterbatasan yang selama ini masih menghantui keterasingan mereka dalam mendapatkan akses pendidikan

Semoga ilmu yang mereka dapatkan di negeri orang mampu mendatangkan manfaat untuk bangsa dan negara, bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri

Semoga ketakutan ku tetap menjadi prasangka dalam kurun waktu 10 sampai 20 tahun mendatang.

AMIN