Mereka Semua Tahu

Langit pun melihat isi kepala ku

Tak pernah sedetik pun bayang mu tergantikan disana

Malam juga tahu

Karena mereka memperbincangkan kerinduan ku bersama jutaan bintang di atas sana

Tidak kah kau sadar?

Embun pagi mengerti bahwa aku hanya bisa mengendus mimpi indah tentang mu

Bahkan ketika fajar merona

Ia mendengarkan doa yang tak henti-hentinya ku lanturkan untuk mu

Guguran daun juga merasakannya

Bilamana keindahan mu hanya bisa kuraba lewat memori di senja itu

Jadi tidakkah kau memahaminya?

Advertisements

Perihal Cinta

Ia yang mengatur, dua jaring yang pada awalnya tak diketahui alurnya. Terpisah, tanpa bentuk dan berserakan menyelimuti pohon kehidupan. Mereka bersinggungan dan membentuk garis baru yang mulai terpola. Menghiasi sepucuk daun di balik ranting yang enggan rapuh termakan usia.

Ia yang memanggil, dua hati yang enggan berbicara kepada mereka yang tidak layak. Berbisik di sela telinga yang kian lelah mendengar kedustaan. Suaranya menggema penuhi ruang kehampaan. Melagukan kerinduan lewat getaran hati yang tak mampu dipahami. Membangunkan mereka dari mimpi panjang dan mengakhiri penantian.

Ia yang menuliskan, rangkaian aksara dari sejuta keinginan. Menguntai kata indah penuh makna. Menggoreskan tinta tanpa sedikitpun kebohongan. Mencatat semua suka dan duka bersama. Merangkai semua tangis dan tawa berdua. Menuangkan memori dalam buku bertajuk ‘kehidupan’.

Ia yang melihat, dua insan yang kerap menadahkan kedua tangan. Memandang mereka yang mulai letih mencari. Menilisik jauh ke dalam hati yang suci. Memperhatikan mereka yang tanpa letih menanti. Mencari mereka yang tanpa henti percaya, bahwa kelak akan dipertemukan lewat apapun itu namanya.

Munkin Kita…

Keterkaitan kita mungkin hanya sebatas rangkaian aksara
yang hanya akan menimbulkan makna apabila ada jarak
Kita juga sama seperti uap air setelah hujan
yang biasnya mampu memberikan keindahan warna dari spektrum pelangi walau hanya sementara
Mungkin kita seperti seseorang dan bintang jatuh yang ditunjuknya
yang hanya dapat memberikan pengharapan ketika ia turun dan lenyap dalam sepersekian detik
Atau mungkin kita sama seperti petapa?
yang dapat mencapai kekhusyukannya dengan melagukan kebisuan
Apakah kita sama seperti cerita
yang tidak selalu berakhir dengan happy ending

Kini, tidak banyak hal yang dapat kita perbincangakan
Ombak yang sama tidak akan pernah membasahi tepi pantai yang sunyi
Karena mungkin arus kini membawa dirinya ketengah samudera tak bertepi
Itukah yang kau inginkan?
Membiarkan dirimu terombang-ambing tanpa pernah ingin mencapai tepian tempat kau bermuara
Atau mungkin dirimu kini sedang berproses menjadi uap air yang siap membasahi pantai yang berbeda?
Capai lah tepian mu dengan cara apapun
Karena kelak, mungkin dirimu lah yang akan menjadi bagian dari pantai terasing danĀ  menunggu ombak yang sama untuk datang memeluk mu

Lubang Pelarian

Diam ku telah salah kau artikan
Lewat bisu yang sebulan ini kerap ku utarakan
Kali ini tak dapat lagi ku sembunyikan
Ledakan amarah yang tak mampu lagi aku tahan

Jikalau saat ini bagi mu aku adalah jarak
di antara 2 jarum jam yang kian berdetak
maka kita berdua bagaikan bom waktu yang siap meledak
di dalam kereta kuda yang kini sedang kau arak

Seharusnya kita terikat
lewat simpul pertalian darah yang kiat menguat
namun mengapa kita selalu berkutat?
memperdepatkan mana pihak yang lebih kuat

seharusnya kau lah yang menjadi rindu ku
yang mengusik kesabaran atas perjalanan pulang ku
yang peluknya tersimpul mendekap erat tubuh ku
sambil berkata bahwa doa mu selalu menyertai ku

diriku kini kehilangan makna dari arti kata “rumah”
tangan ku tak lagi dapat menggambarkan keindahan pekarangannya
penglihatan ku kian memburam tertutup asap kedengkian
kaki ku mulai enggan melangkah mengikuti petunjuk jalan

sampai kapan kita mampu menyembunyikan lubang yang kau tutupi lukisan
yang liangnya perlahan ku kerik diam-diam dengan sendok amukan
hingga sebentar lagi cukup bagi ku untuk dapat keluar dari ruangan
menuju apa yang kusebut sebagai pelarian

Di Balik Duduk Ku

angin menyapa tempat dimana ku terduduk
diam-diam ia menggoda ku untuk beranjak
kesejukannya membisikan sebuah perjalanan panjang
tentang kenikmatan sensasi menelusup alam raya

waktunya hanya sesaat
sebelum pada akhirnya ia kembali menghilang dengan begitu saja
tirai panggung nyaris tertutup sempurna
sebelum pada akhirnya ia mengajak ku untuk mengikutinya

aku menolak

ada yang masih ingin kupandang disini
yang selama ini senantiasa tak pernah luput dari ingatan
senyuman manis seorang gadis berambut pendek
karena belum juga bilur-bilur di telapak kaki sembuh

ada yang masih ingin aku kenang disini
kebersamaan serta canda tawa layaknya rumah
yang masih tak dapat ku ingkari kerinduannya untuk dapat pulang
karena belum juga pilu di hati terobati

ada yang masih ingin ku temukan disini
debu jejak kaki yang nyaris menghilang
yang saat ini tak lagi dapat ku ikuti langkahnya
karena belum juga letih ku mencari