Setitik Debu Di Jagad Raya

Bukan rahasia lagi bahwa penciptaan alam semesta bukan hanya diperuntukkan bagi umat manusia yang ada di muka bumi. Dari 9 planet yang berada di dalam solar system atau tata surya kita, untuk saat ini memang hanya bumi yang terdeteksi dapat ditempati oleh makhluk hidup.

Temperatur permukaan di planet Merkurius mencapai 467 derajat celsius. Hampir tidak mungkin rasanya ada makhluk hidup yang dapat bertahan disana.

Hal yang sama juga terjadi di planet yang sering dikunjungi oleh para astronot sebagai tempat penelitian. Tidak nampak setitik pun kehidupan di planet Mars. Keberadaan air sebagai entitas utama penunjang kehidupan memang ditemukan di planet ini, namun komposisi air di planet Mars terlalu berasam dan bergaram, sehingga sulit mendukung kehidupan.

Eksistensi manusia sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya membuat kita terkadang merasa spesial dan memiliki pemikiran bahwa kehidupan di alam semesta hanya ditujukan untuk manusia saja.

Beberapa orang bijak menyatakan bahwa “Manusia Hanyalah Debu Di Padang Pasir”. Bagaimana mungkin itu terjadi ketika kita berpikir bahwa sejauh pangamatan dan penelitian yang dijalani, tidak pernah kita temui makhluk hidup seperti manusia yang mempunyai akal dan pemikiran melebihi dari kita sendiri.

Kata-kata bijak tersebut bukanlah sebuah kebohongan belaka manakala kita mengetahui kebenaran dari keberadaan alam semesta dan seluruh isinya. Menyadari bahwa letak bumi bahkan tidak terlihat di galaksi bima sakti.

Tata Surya (Solar System)

Anda tentu mengetahui bahwa bumi merupakan salah satu dari 9 planet yang bernaung di satu matahari yang berada di dalam Tata Surya.

solarsystem
Ilustrasi Solar System

Dapat dilihat bahwa posisi bumi berada pada urutan ketiga yang terdekat dengan matahari pada sistem tata surya setelah planet Merkurius dan Venus.

Hal tersebut pertama kali disadari oleh seorang astronom dan pendeta berkebangsaan Polandia yaitu Copernicus. Ia menyebutkan bahwa bumi bukanlah poros dari tata surya seperti yang dipikirkan oleh orang-orang pada jamannya. Bahwa bumi sama seperti planet-planet lain, berputar mengelilingi matahari. Apakah hanya sebatas itu saja? Mari kita melihat pada skala yang sedikit lebih besar.

Imajinasi Gila Seorang Biarawan

Gagasan yang lebih besar justru datang bukan dari kalangan astronom atau ilmuwan. Giordano Bruno hanyalah seorang biawaran asal Napoli, Italia. Ia menilai bahwa Copernicus belum terlalu jauh melihat posisi bumi di alam semesta.

Keresahan Bruno terhadap penilaian sempit mengenai Tuhan oleh Gereja dan masyarakat membuat dirinya mencari tahu kebenaran dengan membaca buku sains yang notabene dilarang Gereja pada saat itu. Buku tersebut berisi tentang ilmu perbintangan karangan Lucretius yang mati pada 1500 tahun yang lalu.

Lucretius mengajak para pembacanya untuk membayangkan seorang pemanah berdiri diujung tepian alam semesta. Ketika anak panah tersebut dilepaskan, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, bahwa anak panah tersebut akan terus melaju tanpa henti, ataupun membentur sebuah tembok.

Apabila membentur tembok maka jelaslah bahwa alam semesta yang kita pikirkan masih jauh dari batasnya. Katakanlah kemudian pemanah tersebut berdiri pada ujung tembok dan melakukan hal yang sama. Lucretius menyatakan bahwa pemanah itu akan terus menemui batas temboknya hingga dia akan selalu dapat melakukan hal yang sama secara terus menerus, dalam arti jagat raya memang tidak memiliki batas.

Hidayah yang didapatkan Bruno mempengaruhi pola pikirnya tentang konsep Ketuhanan yang selama ini disalah artikan oleh Gereja, bahwa Tuhan yang ia sembah tidak memiliki batasan. Lalu dia menyebarkan apa yang diyakininya ke seluruh masyarakat Eropa.

Namun, Bruno tidak dapat membuktikan gagasannya secara gamblang dengan berbagai tolak ukur yang jelas. Ia hanya memberitahukan kepada khalayak berdasarkan apa yang ia lihat dari dalam mimpi dan imajinasinya tentang pengalaman spiritualnya yang terbang dan menemukan bahwa ternyata planet dan matahari di alam semesta tidak terhitung jumlahnya.

Hal tersebut sudah barang tentu tidak dapat diterima oleh masyarakat dan menilai bahwa Bruno hanyalah orang gila. Nasibnya sama seperti Socrates, mati karena kebenaran yang diyakininya. Ia dihukum oleh Gereja dengan cara dibakar hidup-hidup karena dinilai telah menyebarkan ajaran sesat.

Solar Interstellar Neighborhood

Terdapat beberapa sistem tata surya lainnya di dalam Solar Interstellar Neighborhood. Tata surya diperkirakan masuk ke dalam tatanan yang berbentuk menyerupai awan ini pada 44.000-150.000 tahun yang lalu dan berada di dalamnya dalam kurun waktu 10.000-20.000 tahun.

earth-location-in-the-universe-solar-interstellar-neighborhood
ilustrasi Solar Interstellar Neighborhood

Galaksi Bima Sakti (Milky Way)

Sepuluh tahun usai kematian Bruno, Galileo Galilei untuk pertama kalinya melihat dengan teleskop dan menyadari bahwa yang dikatakan Bruno selama ini adalah benar. Galaksi Bima Sakti (Milky Way) terdiri dari bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.

Tebakan Bruno memang hanyalah sebuah keberuntungan. Namun yang dilakukannya memancing orang lain untuk paling tidak membuktikan bahwa yang dikatakan Bruno selama ini salah dan itulah yang dilakukan Galileo.

milky way
ilustrasi Milky Way

Gambar diatas merupakan Galaksi Bima Sakti yang memiliki 200-400 miliar bintang dan 3.264 planet. Matahari sebagai pusat tata surya sama seperti bintang-bintang lain yang selama ini kita lihat. Gravitasi beserta efek matahari dapat dirasakan oleh bumi karena letaknya yang begitu dekat dengan bumi yakni sekitar 149.6 juta kilometer.

Sedangkan jarak matahari menuju pusat galaksi yang dikenal sebagai lubang hitam (black hole) adalah 27.700 tahun cahaya. Sebagai informasi, 1 detik cahaya dapat menempuh jarak sejauh 300.000 kilometer.Hampir sama dengan jarak antara Bumi dan Bulan. Kini Anda dapat menghitung sejauh apa jarak kita menuju pusat lubang hitam.

Di dalam Galaksi ini pula terjadi proses kemunculan dan kematian bintang saat terjadi ledakan Suprnova. Dalam satu tahun, Galaksi Bima Sakti tercatat dapat melahirkan 7 bintang baru.

Local Group

Galaksi Andromeda dan beberapa kumpulan galaksi lainnya disebut sebagai sebagai local group.

5_Local_Galactic_Group_(ELitU)
ilustrasi Local Group

 

Virgo Supercluster

Dalam skala yang lebih besar terdapat Superkluster Virgo yang  setidaknya terdapat 100 kelompok galaksi. Setiap cahaya yang terlihat merupakan galaksi yang di dalamnya memiliki miliaran matahari dan planet yang tidak terhitung jumlahnya.

6_Virgo_Supercluster_(ELitU).png
ilustrasi Virgo Supercluster

 

Laniakea Supercluster

Supercluster Laniakea terdiri dari sekitar 100.000 galaksi dan berjarak terbentang sejauh 520 juta tahun cahaya. Terdapat empat supercluster di dalam Laniakea selain supercluster Virgo, yaitu Hydra-Centaurus, Pavo-Indus, dan Fornax-Eridanus ditambah Antlia Wall.

Keberadaannya berhasil ditemukan oleh peneliti Institut Astronomi, Universitas Hawaii, bernama R Brent Tully pada September 2014 lalu dengan bantuan beberapa temannya. Setalah melakukan pengamatan gerak lebih dari 8.000 galaksi, ia menemukan bahwa Galaksi Bima Sakti berkumul bersama grup dan gugus galaksi lain. Mereka bergerak menuju Great Attractor dengan tarikan gravitasi masif di arah Gugus Galaksi Centaurus.

1409766568152_wps_4_National_News_and_Picture
Ilustrasi Laniakea Supercluster

 

Observable Universe

Satu bagian kecil dari Laniakea Supercluster membenteuk Observable Universe atau Jagad Raya. Sebuah jaringan terbesar dari ratusan miliar galaksi. Belum ada waktu yang cukup dalam 13,8 miliar umur alam semesta agar cahaya dapat mencapai bumi dalam skala tersebut. Bahkan kita hanya dapat mengira-ngira dimana letak Galaksi Bima Sakti berada. Siapa tahu disana memang ada makhluk hidup seperti manusia yang memiliki kehidupan yang sama seperti kita di bumi.

lFnDf
ilustrasi Observable Universe

Tuhan yang menciptakan kita bukanlah sebuah entitas yang dapat dengan mudah dipahamai apalagi dicari, melihat kemungkinan yang hampir mustahil untuk dapat menggapai Observable Universe. Sungguh menakjubkan apabila kita memikirkan bagaimana sang Khalik dapat mengatur begitu banyaknya kehidupan yang ada di dalam satu kesatuan Observable Universe.

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa Observable Universe hanyalah satu molekul kecil yang berada di dalam air dengan kehidupan yang tanpa akhir dalam air terjun yang tak berujung. Menelisik keberadaan-Nya tidak akan pernah mampu dicapai oleh kita yang besarnya bahkan lebih kecil dari dari setitik debu, nyaris tak terlihat. Allahu Akbar.

source : Wikipedia, TV Mini-Series – Cosmos a Spacetime Odyssey

“Look at the sky in the night. Above there, a never ending story with many characters lies ahead.  A story about a million stars versus the dark,”

 

 

Advertisements

LGBT = Hak Asasi Manusia?

Catatan Penulis

Tanpa bermaksud mengurangi respek terhadap ciptaan-Nya. Kali ini ijinkan saya membahas permasalahan yang masih akan terus berputar tanpa menemui titik temu. Ini isu yang sangat sensitif, saya berasumsi bahwa anda sebagai pembaca sudah mengetahui hal tersebut. Karena itu, dibutuhkan pemahaman dari banyak sudut pandang.

Mengapa harus dari banyak sudut pandang? Karena diri kita pribadi selaku manusia, etnis, atau golongan bukan merupakan ‘center of the world’, kita tidak hidup sendiri. Kita selaku manusia terikat dan dibatasi oleh beberapa norma yang terkadang memang memaksa kita untuk mematuhinya.

Namun apa jadinya hidup tanpa batas? Penguasa tak lebih dari diktaror tanpa norma. Pistol tak lebih dari alat pembunuh tanpa norma dan manusia tak lebih dari hewan tanpa norma.

Saya akui artikel ini merupakan asumsi pribadi, karena itu saya selaku penulis meminta maaf apabila sekiranya apa yang saya pahami dan saya tumpahkan di balik tulisan ini menyinggung beberapa pihak. Ini bukan masalah “Siapa yang Benar dan Siapa yang Salah,bukan ranah kita sebagai manusia yang berhak menentukan hal tersebut melainkan Sang Pencipta. Mari kita serahkan kepada Zat yang Maha Mengetahui.

Namun, dengan cara memahami segala sesuatu dari berbagai macam norma, mari kita mencari jawaban dari pertanyaan “Apa yang Benar dan Apa yang Salah”. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan anda mengenai LGBT dan Hak Asasi.

Semua jawaban dari segala keresahan diri ada di sekitar kita. Kebenaran itu tersembunyi di balik kegelapan dan enggan menunjukkan dirinya kepada orang yang menolak untuk melihat sisi lain dari apa yang sedang ia lihat. Kebenaran itu memberi tahu mu lewat bisikan kecil yang tak akan terdengar bagi yang menutup telinga. Kebenaran itu ada di dalam hati yang bersih tanpa setitik pun noda dari ‘perasaan’ atau ‘logika’

Mari kita buka mata, hati dan telinga. Lihatlah, rasakanlah dan dengarkanlah mereka sebagai suatu kebenaran yang hakiki dengan memahami semua hal dari berbagai macam aspek dan norma.

Sejarah Singkat LGBT dan Hak Asasi

LGBT

LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender) bukan suatu hal yang baru. Terminologi ini mulai populer sejak tahun 1990an untuk menggantikan terminologi sebelumnya yang hanya menggunakan ‘gay’. Gay dianggap kurang mampu mewakili beberapa komunitas yang tergabung dalam LGBT Community. Singkatnya mereka akhirnya sepakat untuk menggunakan inisial mereka dari berbagai macam komunitas, yaitu LGBT.

Sejarahnya sendiri tertuang dalam Al Quran surah Al-Anbiya : 74, Al-A’raf : 81, Al-Ankabut : 30-31, QS Al-A’raf: 80-84 dan Hud : 82-83. Anda pasti juga sudah mengetahui cerita berikut azab yang diturunkan Allah SWT kepada kaum Sodom dan Gomora. Saya tidak akan berbicara banyak mengenai hal tersebut. Karena sudah banyak artikel yang membahas mengenai hal tersebut secara lebih mendalam. Dapat dilihat dari sejarahnya bahwa yang dijelaskan diatas merupakan norma agama.

Hak Asasi Manusia (HAM)

Menurut John Locke, HAM merupakan hak-hak yang langsung diberikan Tuhan kepada manusia sebagai hak yang kodrati. Oleh karenanya, tidak ada kekuatan apapun di dunia yang bisa mencabutnya. HAM ini sifatnya mendasar (fundamental) bagi kehidupan manusia dan pada hakikatnya sangat suci.

Undang-Undang Dasar 1945 juga menetapkan HAM dan tercantum dalam pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1 dan pasal 31 ayat 1. Begitu banyaknya pasal yang terkait dengan HAM menunjukkan bahwa negara Indonesia menjunjung tinggi HAM masyarakat Indonesia.

Negara yang mengesahkan undang-undang pernikahan sesama jenis

Beberapa negara barat sudah mulai mengesahkan pernikahan sesama jenis dengan propaganda yang mengatasnamakan Hak Asasi. Sebanyak 23 negara seperti Belanda, Belgia, Spanyol, Kanada, Afsel, Norwegia, Swedia, Portugal, Argentina, Denmark, dan Amerika.

Hakim Agung Amerika Serikat, Anthony Kennedy menyatakan sepenggal kata yang menjadi dalil pengesahan undang-undang pernikahan sesama jenis. They ask for equal dignity in the eyes of the law, the Constitution grants them that rights”.

Sampai saat ini, belum ada negara di benua Asia yang mengesahkan undang-undang tersebut selain Australia. Undang-undang pernikahan sesama jenis belum dapat diterima karena terbentur adat timur yang memegang teguh kesantunan dan kesopanan. Terlebih lagi banyak negara di bagian Timur masih memegang teguh ajaran Agama, tidak seperti di Eropa atau Amerika.

Selain itu pengaruh ideologi sebuah negara juga berandil besar dalam pengesahan undang-undang LGBT. Ideologi Demokrasi Liberal yang banyak dianut negara barat sudah tentu menjunjung tinggi norma hukum dengan patokan Hak Asasi Manusia merupakan mutlak dan berada di atas semua norma.

LGBT di Indonesia

Indonesia menganut ideologi Demokrasi Pancasila. Ideologi ini merupakan gabungan dari paham Demokrasi yang disesuaikan dengan nilai luhur budaya bangsa yang ada dalam dasar negara yaitu Pancasila.

Tujuannya adalah dengan mengambil nilai-nilai terbaik dari ideologi Demokrasi dan Pancasila diharapkan negara Indonesia tetap dapat menerapkan bentuk ideologi yang tidak hanya berlandaskan pada Hak Asasi Manusia dan mekanisme kedaulatan rakyat, namun juga aspek-aspek yang tertuang dalam 5 sila di Pancasila.

Hal tersebut jelas diungkapkan di 5 sila yang ada di Pancasila. Bahwa Indonesia merupakan negara yang berdasarkan kepada Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusian yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oelh Hikmat Kebijaksanaan dan Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sedangkan prinsip yang tertuang dalam demokrasi pancasila bukan berlandaskan pada kemenangan suara terbanyak, namun ide-ide yang paling baik bagi seluruh masyarakat Indonesia yang lebih diutamakan (wikipedia).

Musyawarah untuk mencapai mufakat bukan mengartikan bahwa suara rakyat merupakan fokus utama dalam penyelesaian masalah. Mekanisme kedaulatan rakyat yang dimaksud tetap harus bertanggung jawab kepada Tuhan YME, diri sendiri, masyarakat, dan negara ataupun orang lain.

Posisi Tuhan YME masih berada diatas segala bentuk aspek. Karena itu LGBT kurang dapat diterima di negara Indonesia yang berdasarkan pada ideologi Demokrasi Pancasila.

“Akan tiba suatu masa ketika cinta bukanlah segalanya, karena sejauh apapun perjalanan cinta yang ditempuh, kita akan selalu berpulang kepada-Nya. Adakah cinta untuk-Nya ketika kita datang menghadap Sang Khalik?”

Kesalahan Penempatan Terminologi Identitas dan Personalitas

Masalah identitas dan personalitas dalam kehidupan sosial sering disalahartikan. Tak jarang keduannya dijadikan perbedaan dan perbandingan. Kedua hal tersebut memang berbeda, namun bukan bearti harus dibedakan dan dipisahkan. Karena secara langsung identitas akan selalu berhubungan dengan personalitas begitu juga sebaliknya. Benang merah dari identitas dan personalitas terletak pada tuntutan pencarian jati diri manusia selaku individu terhadap dirinya sendiri. Kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskan terminologi identitas dan personalitas diri dari aspek psikologi dan makna harfiahnya.

Makna Identitas (Jati Diri)

Secara harfiah identitas berasal dari bahasa inggris yaitu identity, dapat diartikan sebagai ciri-ciri, tanda atau jati diri. Menurut Adam dan Gullota, 1983 (dalam Desmita, 2005 : 211) identitas adalah sebuah fenomena psikologi yang kompleks. Dimana hal itu mungkin adalah sebuah cara pemikiran seseorang dalam kepribadiannnya. Termasuk didalamnya identifikasi dengan individu yang dianggap penting dalam kehidupan mulai dari awal masa kanak-kanak. Termasuk identifikasi peranan seks, ideologi individu, penerimaan norma kelompok, dan banyak lagi.

Dapat disimpulkan identitas merupakan sesuatu yang dibentuk dari dalam pribadi manusia yang bearti bahwa identitas berkaitan dengan personalitas. Senada dengan yang dikatakan Cak Nun dalam Kenduri Cinta pada bulan Oktober, “Identitas merupakan bentuk kreatif dari personalitas, yang terbentuk berdasarkan kebebasan dari suatu individu mengenai pemilihan keputusan terhadap identitasnya sendiri.”

Sebagai contoh misalnya, semasa berkuliah saya mengambil studi program komunikasi, namun pada akhirnya saya memilih untuk berprofesi sebagai bankir yang bukan merupakan background pendidikan saya. Identitas merupakan sesuatu yang dipilih, bukan dipaksakan.

Makna Personalitas (Kepribadian)

Secara harfiah personalitas berasal dari bahasa inggris yaitu personality. Personality sendiri merupakan serapan dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam theater yang menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. George Kelly memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.

Kepribadian (personalitas) bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk oleh proses sosialisasi. Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan. Segala sesuatu yang berasal dari dalam diri baik pemikiran mengenai pandangan mengenai benar atau salah merupakan bentuk personalitas yang juga tak dapat diganggu gugat.

Kesalahan Penggunaan Terminologi

Terlepas dari kajian psikologis mengenai identitas dan personalitas, bayangkan bahwa identitas merupakan software dan personalitas merupakan hardware. Sebagai hardware personalitas merupakan apa yang ada di dalam diri kita dalam bentuk fisik yang menjadi ciri khas seseorang sebagai pembeda antara satu individu dan individu lain. Jenis rambut, bentuk muka, warna kulit yang keseluruhannya merupakan pemberian Allah SWT. Personalitas sifatnya Given dan kita sebagai manusia tidak dapat memilih.

Sementara Identitas sendiri seperti yang sudah dijelaskan diatas merupakan bentuk kreatif dari personalitas. Kita sebagai manusia memiliki hak untuk memilih salah satu identitas dari berbagai opsi. Identitas sebagai software seperti misalnya agama, gender profesi, dll. Jati diri merupakan pilihan hidup yang kedaulatannya tidak dapat diganggu gugat. Namun behati-hatilah dalam memilih identitas, karena apabila pilihan tersebut bukan berasal dari keinginan pribadi anda, maka tanpa anda sadari anda akan gagal identitas karena pemilihan opsi tersebut diambil berdasarkan personalitas orang lain dalam arti terpengaruh dari dorongan luar.

Kesalahan penggunaan terminologi identitas dan personalitas terjadi pada penggunaan istilah tersebut di beberapa kartu identitas pribadi seperti KTP, passport dan SIM yang mencantumkan kolom nama, golongan darah, kebangsaan dan kelamin. Padahal sesuatu yang sifatnya Given seharusnya masuk dalam ranah personalitas bukan identitas, karena kita tidak dapat memilih beberapa hal tersebut. Karena itu seharusnya kartu tersebut seharusnya dinamai dengan ‘personalitas pribadi’ bukan ‘identitas pribadi’.

“Identitas merupakan sesuatu yang kita adopsi dari lingkungan yang sifatnya nurture, sedangkan personalitas merupakan sesuatu yang kita dapat tanpa bisa memilih yang sifatnya nature.” Sabrang (Kenduri Cinta, TIM, Jakarta, 9 Oktober 2015)

Penyalahgunaan Bahasa: “Pengidentikkan Kata ‘Terorisme’ Dengan Agama Islam”

Pada hari Sabtu tanggal 14 November 2015 saya membaca pemberitaan di beberapa media bahwa Prancis diserang 7 aksi serangan serentak di 6 lokasi berbeda. Ada satu kutipan yang membuat saya kecewa di media tersebut.

Dikutip dari New York Times bahwa, saksi mata serangan teroris menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mereka terhadap hal buruk yang di lakukan Presiden Francois Hollande yang  menimpa masyarakat muslim di seluruh pelosok dunia.

Dari kutipan tersebut, saya menyimpulkan aksi teror tersebut dilakukan oleh oknum yang lagi-lagi mengatas namakan agama untuk berbuat hal yang menurut mereka benar dan layak. Pemikiran bodoh yang datang dari beberapa orang yang putus asa.

Ya, benar putus asa. Mereka menyadari bahwa kekuatan mereka tidak sebanding apabila ingin menyerang orang yang membuat mereka kecewa. Alhasil, mereka menyerang orang-orang yang tidak bersalah dan tidak bersenjata dan terlebih lagi, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang kekecewaan mereka.

Beberapa oknum merusak citra agama Islam karena mereka mengatas namakan agama Islam dalam setiap aksi yang menurut saya bodoh. Haruskah Islam lagi-lagi dijadikan kambing hitam? Haruskah orang-orang yang beragama Islam menerima cacian dari masyarakat dunia hanya karena ulah beberapa oknum?

Aksi terorisme pada kenyataannya memang lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang memeluk agama Islam. Namun, haruskah Islam diidentikan dengan terorisme? Saya akan mencoba membahas pengertian kata Terorisme hingga pada akhirnya kata tersebut menjadi identik dan seolah-olah menjadi identitas agama Islam yang berkembang di kalangan masyarakat.

Pengidentikkan Kata “Terorisme” Dengan Agama Islam

Terorisme berasal dari kata teror dan -isme, merupakan serapan dari bahasa inggris yaitu terrorism yang berarti bahwa penggunaan kekerasan untuk tujuan-tujuan politis, termasuk menggunakan kekerasan untuk membuat masyarakat atau anggota masyarakat ketakutan (The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act, 1984, pasal 14 ayat 1).

Teror sendiri berasal dari kata latin “terrere yang kurang lebih berarti membuat gemetar atau menggetarkan dan -isme merupakan sufiks yang berasal dari Yunani -ismos, Latin -ismus, Perancis Kuna -isme, dan Inggris -ism. Akhiran ini menimbulkan arti yang berbeda-beda bergantung dari awalan yang dikenakan oleh sufiks –isme. Dapat diartikan sebagai gerakan politis (feminisme), karateristik (nasionalisme), diskriminasi (rasisme), tindakan (terorime), dan yang lainnya.

Aksi terorisme (menurut wikipedia) mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Pada abad ke-11, organisasi bernama Hashhashin atau yang lebih dikenal dengan nama “Assassins” yang berkembang di Iran dan Syria juga merupakan bentuk aksi terorisme. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19.

Aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.

Beberapa aksi terorisme lainnya yang tercatat dalam sejarah seperti aksi Narodnaya Volya di Rusia yang berkembang pada tahun 1879. Irish Republican Army berlatar belakang pemisahan diri Katolik Irlandia di bawah kekuasan Great Britania pada tahun 1950an. Selain itu gerakan Kurdistan Worker’s Party pada tahun 1970an dan Macan Tamil di Sri Lanka.

Namun hal yang membuat terorisme identik dengan agama Islam terjadi pada tahun 1990an ketika banyak gerakan terorisme yang berbasis di timur tengah lewat kelompok Al Qaeda, Hamas dan Hezbollah mengatas namakan agama Islam dalam setiap aksinya. Dengan membawa dalil “Jihad”, tanpa berpikir panjang mereka bukan hanya mencoba untuk menghancurkan musuh, tanpa mereka sadari citra baik agama Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW lewat perjuangannya juga ikut hancur.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, pemberitaan terhadap aksi terorisme pun terangkat secara terus menerus. Sialnya lagi, aksi terorisme yang berkembang pada saat itu sampai sekarang banyak dilakukan di timur tengah dan oknum yang melakukannya lagi-lagi mengatas namakan agama Islam. Maka jadilah beberapa masyarakat dunia mulai memiliki pemikiran bahwa “terorisme itu identitas Islam”.

Kesalahan Penafsiran Masyarakat

Mari berpikir logis dalam menyikapi permasalah terorisme yang selalu dikaitkan dengan agama Islam. Analoginya seperti ini :

  1. Menurut saya ‘agama’ itu seperti kendaraan yang dimiliki oleh setiap umat manusia. Kendaraan tersebut dapat menuntun setiap pemiliknya menuju kebaikan. Apabila dalam perjalanannya kendaraan tersebut menabrak kendaraan lain hingga menyebabkan orang-orang tewas. Apakah anda akan menyalahkan kendaraannya? Bukankah yang menjadi logis adalah anda menyalahkan pengendaranya? Sama seperti hal yang terjadi pada saat ini. Masyarakat kerap menyalahkan label kendaraan sama yang dikendarai oleh oknum pengendara yang menyebebakan kecelakaan. Seakan-akan orang lain yang menggunakan label kendaraan yang sama juga harus bertanggung jawab terhadap kecelakaan tersebut. Masalah itu terus berputar tanpa ada yang menyadari bahwa yang mereka hakimi adalah benda mati. Apakah ada persidangan yang dikhususkan untuk benda mati?
  2. Daging babi banyak dikonsumsi oleh orang-orang beragama non-muslim. Apabila pada suatu saat saya yang beragama islam ingin mencicipi daging babi, apakah Identitas awal saya akan berubah menjadi non-muslim ketika saya memakan daging babi? Hanya dengan memakan daging babi tidak akan cukup untuk menjelaskan apa identitas saya. Sama seperti hal yang saat ini sedang terjadi. Aksi terorisme dapat dilakukan oleh semua etnis atau agama. Haruskah Terorisme menjadi identitas agama Islam hanya karena kasus yang banyak berkembang saat ini dilakukan oleh oknum-oknum yang memeluk agama Islam? Pada kenyataannya mayoritas oknum dari organisasi Macan Tamil di Sri Lanka merupakan mereka yang beragama Hindu.

Dapat dilihat bahwa permasalahan terorisme bukan merupakan perkara identitas, dan agama hanya sesuatu yang sifatnya ‘abstrak’, tak berbentuk, yang tidak dapat melakukan apa-apa. Agama itu jelas merupakan ‘kekuatan’ yang dijadikan fasilitas bagi umat manusia ke arah yang lebih baik. Tindakan beberapa oknumlah yang membuat ‘kekuatan’ tersebut membawa dampak yang buruk bagi umat manusia. Bahkan Einstein menangis ketika ilmu relativitas yang ditemukannya dikembangkan untuk membuat bom nuklir. Mari melihat sebuah permasalahan bukan dari identitas yang melekat, karena kesalahan yang terjadi merupakan bentuk personalitas bukan identitas.

Memahami Perasaan, Hati dan Logika

Catatan Penulis:

Membutuhkan waktu cukup lama bagi saya untuk dapat menulis lagi artikel mengenai perasaan, hati dan logika. Itu semua karena pada awalnya saya tidak ingin menulis hanya berdasarkan kepada hasil pemikiran saya, mengingat saya bukanlah seorang filsuf, psikolog, ustadz apalagi ilmuan yang dapat melegitimasi informasi yang saya berikan dengan data yang akurat. Saya menyadari bahwa pemahaman saya tentang filsafat logika sangat kurang, saya juga tidak mengerti tentang pembentukan kepribadian manusia melalui id, ego dan super-ego dari Freud, saya juga tidak memahami dalil atau ayat Al-quran yang dapat menjelaskan tentang perasaan, hati dan logika, saya juga tidak dapat menjelaskan secara ilmiah mengenai proses pemikiran manusia yang begitu kompleks.

Atas alasan di atas, saya selaku penulis artikel meminta maaf kepada anda yang membaca artikel ini karena tidak dapat menjelaskan hal tersebut secara ilmiah. Namun hal tersebut tidak membuat saya berhenti untuk berpikir dan menulis tentang apa yang saya pahami mengenai ketiga hal yang menjadi esensi hidup manusia. Perlu digaris bawahi bahwa yang saya tulis merupakan perspektif pribadi yang berdasarkan pada pengalaman dan hasil pemikiran saya, ini bukanlah suatu hal yang berbau ilmiah, apalagi teori. Semoga seiring berjalannya waktu pengetahuan saya mengenai perasaan, hati dan logika bertambah di berbagai aspek ilmu pengetahuan, sehingga dapat memberikan pengetahuan yang dapat lebih meyakinkan anda. Amin.

Tentang Perasaan, Hati dan Logika

Seperti yang sudah ditulis pada artikel sebelumnya bahwa terdapat benang tipis yang memisahkan antara perasaan dan logika, yaitu hati nurani. Kedua hal tersebut selalu berkutat di dalam akal manusia. Dalam berbagai konteks, ketiganya bagaikan timbangan dengan hati nurani yang berada ditengah sebagai penyeimbang, akal akan selalu berproses untuk mempertimbangkan sisi mana yang lebih berat apakah perasaan yang menjadi juara ataukah logika yang menjadi rajanya. Lalu pertanyaannya adalah, dimanakah andil hati nurani apabila pada akhirnya manusia akan tetap memilih antara perasaan dan logika?

Untuk dapat memahami perasaan, hati dan logika, saya menganjurkan kepada anda untuk menyingkirkan perspektif bahwa logika = akal/otak. Karena apabila anda berpikir demikian, secara tidak langsung anda akan menganggap bahwa orang-orang yang mengatasnamakan sosial dalam setiap aksinya tidak menggunakan akal atau otak dalam pengambilan keputusan.

Hal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa mereka lebih menitikberatkan pilihan mereka kepada perasaan yang lalu direspons otak dengan melakukan kegiatan sosial. Otak merupakan tempat dimana semua informasi diterima lalu diproses hingga kemudian direspons dengan pengambilan keputusan sebagai output dari hasil berpikir. Logika dan otak merupakan dua hal yang berbeda.

Contoh kasus I

misalnya adalah: “D” memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu

Apabila misalnya uang yang dimiliki “D” dalam 1 bulan adalah Rp3 juta dan uang yang akan disumbangkan oleh “D” adalah Rp500 ribu dengan mempertimbangkan biaya hidup untuk satu bulan ke depan.  Saya ilustrasikan seperti ini.

Ilustrasi I:

ilustrasi I

Setiap apapun yang kita lakukan pasti memiliki nilai, begitu pula pengambilan keputusan dengan menggunakan skala perasaan, hati dan logika. Agar lebih mudah dipahami, saya mengilustrasikan perasaan, hati dan logika sebagai sebuah titik dari garis lurus.

Dapat dilihat bahwa posisi hati berada di tengah-tengah diantara perasaan dan logika dengan nilai 0, sedangkan titik perasaan dan logika saya beri nilai maksimal 5, untuk gambar kotak yang tersambung dan melintang antara perasaan dan logika saya sebut sebagai range keputusan, bernilai 2 dengan warna kotak mendekati abu-abu, baik di skala perasaan maupun logika. Dengan begitu maka “D” akan mendapatkan hasil win win solution karena selain dapat memenuhi kebutuhan sosialnya, kebutuhan hidup “D” juga dapat terpenuhi.

Range keputusan merupakan skala dari pengambilan keputusan yang dilakukan oleh “D”. Ilustrasi range tersebut memiliki jarak sebanyak 5 poin. Jarak tersebut memiliki arti bahwa dalam pengambilan keputusan, “D” dapat dikatakan bijak karena sama-sama bernilai 2, dengan warna abu-abu yang sama baik di skala perasaan maupun logika. Menjadi bijak berarti bahwa seseorang tidak mimihak kepada salah satu sisi, tidak bewarna hitam maupun putih melainkan menempatkan posisi ditengah-tengah dengan warna abu-abu.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang terjadi apabila “D” tidak peduli dengan anak-anak yatim piatu? Berikut ilustrasinya:

Ilustrasi II:

Contoh kasus II, misalnya adalah: “D” masa bodoh dengan anak-anak yatim piatu

Ilustrasi II

Ilustrasi II menunjukan bahwa skala range keputusan bernilai 1 sampai 5, bewarna abu-abu dan hitam di sisi logika. Katakanlah bahwa cara “D” memandang anak-anak yatim piatu bernilai 1, saya asumsikan bahwa hal yang dilakukan “D” hanyalah memandang iba kepada mereka tanpa melakukan sesuatu yang berarti, karena range keputusan sama sekali tidak menyentuh titik pada garis perasaan. Nasib anak-anak yatim piatu mungkin masih dijadikan sebagai bahan pemikiran karena kotak bernilai 1 yang bewarna abu-abu mendekati titik 0 (hati), “D” mungkin juga memperbincangkan nasib mereka kepada teman sebayanya, tapi sayang tidak ada aksi nyata (NATO: No Action, Talk Only).

Apa yang terjadi apabila “D” berada di titik 5 bewarna hitam pada skala logika? Jangankan memperbincangkan, memikirkan nasib anak-anak yatim pun mungkin tidak akan pernah terlintas di dalam didirinya karena titik tersebut jauh dari titik netral (hati) maupun titik perasaan.

Menjadi Bijak dengan Range Keputusan

Berada dititik 0 (hati) tanpa adanya range keputusan sangat mungkin dilakukan. Namun dengan begitu anda tidak akan berpihak kepada satu sisi yang mengartikan bahwa anda tidak akan melakukan sesuatu meskipun anda mengetahui atau memikirkan hal tersebut. Pengambilan keputusan tanpa memilih salah satu sisi dan tak berbuat apa-apa merupakan salah satu bentuk berpikir secara apatis (acuh tak acuh, tidak peduli, masa bodoh,who cares? Whatever, you name it). Itulah salah satu fungsi dari range keputusan, menghindari saya berpikir secara apatis. Karena kata orang bijak, “hidup itu sebuah pilihan”.

Menjadi bijak dengan mempertimbangkan perasaan dan logika melalui hati nurani merupakan hal yang sulit dilakukan, kendati demikian bukan bearti hal tersebut tidak dapat dilakukan. Hal tersebut karena range keputusan bersifat fleksibel, arah pergerakannya tergantung dari sejauh mana kita melibatkan hati kita sendiri dalam pengambilan keputusan. Menengok pintu hati yang hanya sedikit merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan agar kita dapat melihat segala sesuatu dari 2 sisi yang berbeda yaitu perasaan dan logika.

Terlalu minitikberatkan 1 aspek tanpa menyentuh titik 0 (hati) tidak akan berdampak baik. Hal tersebut hanya akan medatangkan kerugian karena dengan begitu kita melupakan celah cahaya kecil dari pintu hati yang terbuka. apabila anda merasa bahwa jalan yang anda tuju semakin gelap, tengoklah kebelakang, karena disana cahaya dari pintu hati akan senantiasa menerangi jalan anda dalam pengambilan keputusan walaupun hanya setitik.

“Manusia bagaikan semut yang berada di dalam lingkaran api yang terus berjalan, salah satu cara bagi kita untuk dapat terhindar dari api adalah berusaha mendekati titik tengah.”

Tentang UNESCO World Heritage

Warisan adalah salah satu produk dari sejarah. Keberadaan beberapa warisan muncul bukan tanpa alasan. Warisan berbentuk bangunan seperti candi and situs memiliki beberapa cerita dan sejarahnya masing-masing. Cerita tersebut muncul di kalangan masyarakat dengan cara yang beragam, baik lewat mitos atau cerita yang berkembang di masyarakat. Beberapa orang tidak menganggap bahwa warisan tersebut penting bagi kehidupan, mereka hanya dianggap sebagai bangunan usang. Padahal, beberapa produk sejarah tersebut menampakan bukti nyata kejayaan suatu bangsa di masa lalu. Beruntung dunia memiliki organisasi yang concern terhadap para saksi bisu ini. Mereka tidak hanya peduli, namun menghargai setiap jerih payah manusia yang berusaha untuk meninggalkan hal penting bagi anak cucunya di kemudian hari lewat produk sejarah.

Pada awalnya warisan budaya yang tersebar diseluruh dunia hanya menjadi warisan budaya nasional yang menjadi hak dan tanggung jawab negara tersebut untuk dapat memelihara dan menjaga warisan nasional mereka sendiri agar tidak punah, namun karena beberapa faktor, salah satu badan PBB -yang khusus mengatasi 5 masalah global yaitu pendidikan, budaya, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan komunikasi atau informasi- yaitu UNESCO merasa bahwa beberapa warisan budaya tersebut -baik secara sengaja atau tidak- seperti dilupakan keberadaannya yang nantinya dikhawatirkan akan punah atau hancur. Dengan alasan tersebut, pada tanggal 17 Oktober sampai 21 November 1972, UNESCO membentuk World Heritage Committee (Komite Warisan Budaya Dunia) yang diselenggarakan di Paris untuk membahas usaha penyelamatan beberapa warisan budaya nasional. Permasalahan ini dianggap menjadi isu global yang menjadi cikal bakal naiknya level warisan budaya nasional menjadi warisan budaya dunia. Seluruh warisan budaya adalah milik semua warga dunia tanpa memandang lokasi dimana warisan budaya tersebut berada untuk menghargai nilai kemanusiaan luar biasa yang terkandung dalam warisan budaya tersebut, ini menjadi alasan utama mengapa UNESCO menganggap permasalahan ini sebagai isu global.

world heritage map
world heritage map

UNESCO sendiri membagi warisan budaya tersebut menjadi 3 golongan menurut jenisnya, yaitu cultural, natural dan mixed. Cultural adalah warisan budaya yang biasanya berbentuk bangunan kuno seperti candi dan kuil, diberi keterangan bewarna kuning, sedangkan natural adalah warisan budaya yang terbentuk karena proses alam, diberi keterangan bewarna hijau, misalnya adalah hutan lindung dan gua. Sedangkan mixed adalah perpaduan antara keduanya, diberi keterangan bewarna setengah hijau dan setengah kuning, seperti wilayah konservasi yang didalamnya terdapat unsur budaya dan alam. Selain itu UNESCO juga menggolongkan beberapa tempat yang dianggap sedang berada dalam ancaman kepunahan, tropical rainforest heritage di pulau sumatera adalah salah satunya dan diberi keterangan bewarna merah.

Sejarah mencatat beberapa momen penting yang diabadikan lewat bangunan kuno. Tidak ada satu bangsa yang lahir tanpa adanya sejarah atau warisan. Pada kenyataannya hal yang ada disekeliling kita memberikan kpelajaran berharga lewat keberadaannya yang masih ada sampai sekarang. Memang benar bahwa mereka hanyalah saksi bisu, namun sebenarnya mereka berbicara, kita hanya perlu untuk membuka mata dan melihat cerita mereka lewat bentuk dan relief yang ditinggalkan melalui setiap corak dan pahatan dari perkakas sederhana.

Heritage is our legacy from the past, what we live with today, and what we pass on to future generations. Our cultural and natural heritage are both irreplaceable sources of life and inspiration. –UNESCO-

Source : en.unesco.org

Tentang opium, morfin, heroin dan sabu

Banyak sekali jenis-jenis narkoba yang pasti sudah pernah anda dengar seperti, opium, morfin, heroin dan sabu. Namun, tahukah anda bahwa ke empat jenis narkoba tersebut saling berhubungan? Bagaimana sebuah getah dapat di proses menjadi barang yang terlarang untuk di konsumsi? Berikut adalah penjelasannya. Opium berasal dari kata oh-pee-oyds, yang disebut dengan opioid dan lebih dikenal dikalangan masyarakat sebagai opium adalah tanaman yang hanya dapat dibudidayakan di pegunungan kawasan sub-tropis dan memiliki nama latin yaitu Papaver Somniferum, tergolong sebagai tumbuhan perdu dengan ciri-ciri memiliki bunga yang mencolok, memiliki getah dan biji bulat berbentuk kapsul. Getah tersebutlah yang menjadi bahan mentah untuk membuat narkoba seperti morfin, heroin dan sabu-sabu.

Getah kering (latex) dari irisan biji mentah atau dinamakan poppy menghasilkan morfin. Morfin dalam bentuk serbuk biasanya digunakan untuk penghilang rasa sakit (mungkin anda pernah melihat hal tersebut dalam film bergenre perang), namun morfin sering disalahgunakan sebagai candu dengan cara disuntik, atau diminum apabila sudah dalam bentuk kapsul. Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat dengan efek samping yaitu penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu dan kaburnya penglihatan.

Sementara itu, heroin adalah hasil sintesis diasetilmorfin yang merupakan derivasi senyawa morfin. Senyawa tersebut berbentuk kristal bewarna putih. Pada tahun 1898 ilmuwan Jerman bernama Heinrich Dreser ingin menemukan obat penghilang rasa sakit yang tidak menimbulkan efek kecanduan seperti morfin. Setelah mengalami beberapa percobaan, heroin pada waktu itu dipercaya dapat mengobati penyakit yang berhubungan dengan pernapasan seperti bronchitis, asma dan tuberculosis (TBC). Namun keganjilan timbul dikalangan masyarakat karena permintaan obat yang sangat meningkat, akhirnya disimpulkan bahwa ternyata heroin menimbulkan efek kecanduan yang lebih kuat dari morfin. Pada tahun 1913, Bayer sebagai perusahaan yang memproduksi obat menghentikan produksi dan pemasaran obat tersebut.

Sabu-sabu (Metamfetamina) sebenarnya adalah limbah ekstrak dari heroin yang diproses sedemikian rupa hingga menjadi kristal yang lebih halus. Sabu-sabu dikenal para pemakainya dengan sebutan met, kristal, gold river, dll. Efek yang ditimbulkan sabu-sabu adalah euforia yang berlebihan serta menimbulkan semangat. Hal itu terjadi karena terpicunya jantung yang berdetak sangat cepat akibat efek dari sabu-sabu.

Dapat disimpulkan bahwa tanaman opium sangat berbahaya apabila pertumbuhannya tidak dapat dikontrol karena tumbuhan ini berfungsi sebagai bahan utama pembuatan jenis narkotika lainnya. Semua ciptaan-Nya memang memiliki efek baik dan buruk, tinggal bagaimana kita mempergunakan barang tersebut secara bijak. Seperti biasa, yang baik itu datang selalu dari Yang Kuasa dan yang buruk itu selalu dari manusia.