Manifestasi Simbol

Suatu hal yang berbentuk abstrak memerlukan wadah agar membuatnya seoalah-olah menjadi nyata. Menurut saya, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengubah dimensi immaterial menjadi material, agar gejolak emosi dapat dirasakan juga secara mutlak oleh orang lain.

Realitas pertama, lazimnya manusia, menumpahkan emosi –yang merupakan hal berbentuk abstrak-  melalui perbuatan. Seperti layakanya menunjukkan kebencian dengan cara merubah raut muka atau bahkan tindakan nyata.

Kedua, menumpahkannya melalui gagasan berupa penciptaan simbol, agar terlihat nyata oleh panca indera yang notabene hanya mampu menangkap objek yang kasatmata. Seperti misalnya, simbol hati melambangkan cinta, atau bahkan membuat simbol matahari yang sempat dipuja selama berabad-abad.

Kedua hal tersebut merupakan manifestasi pikiran yang kemudian simbol tersebut dilegetimasi secara universal agar bisa diterima khalayak. Bisa dikatakan bahwa hal itu merupakan upaya manusia menghadirkan realitas. Ini merupakan suatu keistimewaan manusia yang selalu bisa menemukan caranya sendiri dalam menciptakan gagasan dari fenomena yang dialaminya.

Sama halnya dengan perlambagan mengenai Tuhan yang kerap dipertanyakan keberadaannya. Kerap dicari letaknya. Kerap diharapkan kedekatakannya sejak zaman nenek moyang. Begitu kuatnya perasaan spiritual yang meledak-ledak menjadikan mereka, nenek moyang kita, mempercayai ada kekuatan besar yang hanya dapat dirasa, bukan dilihat, maupun disentuh.

Minimnya informasi mengenai sang khalik ketika itu membuat mereka beranggapan bahwa hal yang tak mampu mereka gapai, seperti matahari dan bintang, patut dipuja. Karena itu, mereka memerlukan sebuah media untuk bisa memanisfestasikan simbol ketuhanan versi mereka sendiri. Agar dekat dan tetap menjaga keturunannya aman dari marah bahaya di alam semesta.

Tak heran simbol-simbol di goa atau bahkan tempat spiritual lain melambangkan hal-hal yang sifatnya magis. Goresan di dinding goa nyatanya mampu menuntun mereka meraih kedamaian temporer.

Seiring berjalannya waktu, goresan tersebut kemudian bertransformasi menjadi bentuk yang dipercantik oleh tangan-tangan mereka sendiri. Manifestasi ketuhanan yang awalanya hanya berupa gambar, perlahan berubah menjadi bentuk patung. Kreativitas meningkat seiring bertambahnya pola pikir manusia.

Manusia dengan segala keterbatasannya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s