Cahaya dan Selembar Pemahaman

Tak perlu memperdebatkan mana yang lebih dulu muncul, penciptaan atau ketiadaan. Keduanya bukan hal yang bisa dijawab seorang insan yang dibatasi oleh cangkang jasmani, yang terbatas pemahamannya, pengetahuannya, atau bahkan inderanya. Ya, itulah manusia, yang kerap dipaksa untuk berhenti karena keterbatasan yang kita miliki dalam memahami sesuatu.

Jadi mari kita mulai dengan menyebut ‘cahaya’ sebagai satu awal dari perjalanan panjang alam semesta. Suatu bentuk immaterial yang merupakan manifestasi ‘Sang Pencipta’. Suatu esensi yang kerap dilambangkan sebagai petunjuk.

Sejak dulu, nenek moyang kita menatap ke atas dan bertanya-tanya dari lantai bumi mengenai hal yang ada di langit. Mencoba menemukan relasi dari keberadaannya bersama alam semesta dan Tuhan, dengan cara memandang ke atas. Menjadi suatu hal yang logis apabila mereka pernah menyembah bintang dan matahari. Ketidakmampuan mereka meraih hal yang dapat dilihat oleh indera menjadikan dua benda di sistem tata surya sempat dipuja selama berabad-abad lamanya.

Mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Sebagian kecil dari selembar pemahaman mereka dapat dibenarkan. Karena yang pertamakali diciptakan oleh-Nya sebelum malaikat, alam semesta dan manusia adalah ‘Nur Muhammad’. Kita semua berasal dari ‘cahaya’ yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s