Mereka Semua Tahu

Langit pun melihat isi kepala ku

Tak pernah sedetik pun bayang mu tergantikan disana

Malam juga tahu

Karena mereka memperbincangkan kerinduan ku bersama jutaan bintang di atas sana

Tidak kah kau sadar?

Embun pagi mengerti bahwa aku hanya bisa mengendus mimpi indah tentang mu

Bahkan ketika fajar merona

Ia mendengarkan doa yang tak henti-hentinya ku lanturkan untuk mu

Guguran daun juga merasakannya

Bilamana keindahan mu hanya bisa kuraba lewat memori di senja itu

Jadi tidakkah kau memahaminya?

Advertisements

Manifestasi Simbol

Suatu hal yang berbentuk abstrak memerlukan wadah agar membuatnya seoalah-olah menjadi nyata. Menurut saya, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengubah dimensi immaterial menjadi material, agar gejolak emosi dapat dirasakan juga secara mutlak oleh orang lain.

Realitas pertama, lazimnya manusia, menumpahkan emosi –yang merupakan hal berbentuk abstrak-  melalui perbuatan. Seperti layakanya menunjukkan kebencian dengan cara merubah raut muka atau bahkan tindakan nyata.

Kedua, menumpahkannya melalui gagasan berupa penciptaan simbol, agar terlihat nyata oleh panca indera yang notabene hanya mampu menangkap objek yang kasatmata. Seperti misalnya, simbol hati melambangkan cinta, atau bahkan membuat simbol matahari yang sempat dipuja selama berabad-abad.

Kedua hal tersebut merupakan manifestasi pikiran yang kemudian simbol tersebut dilegetimasi secara universal agar bisa diterima khalayak. Bisa dikatakan bahwa hal itu merupakan upaya manusia menghadirkan realitas. Ini merupakan suatu keistimewaan manusia yang selalu bisa menemukan caranya sendiri dalam menciptakan gagasan dari fenomena yang dialaminya.

Sama halnya dengan perlambagan mengenai Tuhan yang kerap dipertanyakan keberadaannya. Kerap dicari letaknya. Kerap diharapkan kedekatakannya sejak zaman nenek moyang. Begitu kuatnya perasaan spiritual yang meledak-ledak menjadikan mereka, nenek moyang kita, mempercayai ada kekuatan besar yang hanya dapat dirasa, bukan dilihat, maupun disentuh.

Minimnya informasi mengenai sang khalik ketika itu membuat mereka beranggapan bahwa hal yang tak mampu mereka gapai, seperti matahari dan bintang, patut dipuja. Karena itu, mereka memerlukan sebuah media untuk bisa memanisfestasikan simbol ketuhanan versi mereka sendiri. Agar dekat dan tetap menjaga keturunannya aman dari marah bahaya di alam semesta.

Tak heran simbol-simbol di goa atau bahkan tempat spiritual lain melambangkan hal-hal yang sifatnya magis. Goresan di dinding goa nyatanya mampu menuntun mereka meraih kedamaian temporer.

Seiring berjalannya waktu, goresan tersebut kemudian bertransformasi menjadi bentuk yang dipercantik oleh tangan-tangan mereka sendiri. Manifestasi ketuhanan yang awalanya hanya berupa gambar, perlahan berubah menjadi bentuk patung. Kreativitas meningkat seiring bertambahnya pola pikir manusia.

Manusia dengan segala keterbatasannya…

Cahaya dan Selembar Pemahaman

Tak perlu memperdebatkan mana yang lebih dulu muncul, penciptaan atau ketiadaan. Keduanya bukan hal yang bisa dijawab seorang insan yang dibatasi oleh cangkang jasmani, yang terbatas pemahamannya, pengetahuannya, atau bahkan inderanya. Ya, itulah manusia, yang kerap dipaksa untuk berhenti karena keterbatasan yang kita miliki dalam memahami sesuatu.

Jadi mari kita mulai dengan menyebut ‘cahaya’ sebagai satu awal dari perjalanan panjang alam semesta. Suatu bentuk immaterial yang merupakan manifestasi ‘Sang Pencipta’. Suatu esensi yang kerap dilambangkan sebagai petunjuk.

Sejak dulu, nenek moyang kita menatap ke atas dan bertanya-tanya dari lantai bumi mengenai hal yang ada di langit. Mencoba menemukan relasi dari keberadaannya bersama alam semesta dan Tuhan, dengan cara memandang ke atas. Menjadi suatu hal yang logis apabila mereka pernah menyembah bintang dan matahari. Ketidakmampuan mereka meraih hal yang dapat dilihat oleh indera menjadikan dua benda di sistem tata surya sempat dipuja selama berabad-abad lamanya.

Mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Sebagian kecil dari selembar pemahaman mereka dapat dibenarkan. Karena yang pertamakali diciptakan oleh-Nya sebelum malaikat, alam semesta dan manusia adalah ‘Nur Muhammad’. Kita semua berasal dari ‘cahaya’ yang sama.