The Long and Winding Road dan Jumat yang Sama

Jumat itu sama seperti Jumat biasanya, Iril untuk kesekian kalinya sengaja menyempatkan waktu untuk menonton cover music dari band kesukaannya, The Beatles. Penampilan selama kurang lebih 3 jam nyatanya tak pernah gagal membantu merefresh otak setelah seminggu digempur tekanan pekerjaan yang menguras tenaga. Bagaimana tidak? Iril yang merupakan seorang jurnalis bekerja bak kuda, dipaksa berlari sampai tengah malam demi memenuhi tuntutan kantor. Menjadi sangat wajar ketika isu terkini semakin membuatnya terpojok dengan deadline.

Sebuah rutinitas yang sebenarnya tidak membosankan. Bagi Iril, menjadi penulis adalah sebuah mimpi. Dapat memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai realitas hidup yang acapkali hanya dipandang dengan kacamata sempit dari sosial merupakan tujuan hidupnya. Namun, Ia menyadari bahwa ilmunya mengenai penulisan dan kehidupan belum cukup mampu menggugah banyak orang. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis.

Bertemu orang-orang hebat dari berbagai macam bidang membuat pemahamannya semakin mendalam. Belum lagi teman sesama jurnalis punya keterikatan yang saling terkait, saling mambantu memberikan informasi kendati baru bertemu dalam jangka waktu hanya 1 menit. Para jurnalis sadar bahwa kelak mereka akan dihadapkan pada posisi membutuhkan pertolongan, oleh karena itu dengan berazaskan ‘senasib sepenanggungan’ mereka tidak pernah berkeberatan memberikan foto, rekaman maupun ‘tikpad’.

Kolega Iril bertambah banyak semenjak ia menjadi jurnalis. Seiring berjalannya waktu, lingkaran di dalam kehidupannya bertambah besar, tanpa ia sadari di dalamnya terdapat kotak kecil. Sebuah ruang kosong bertuliskan kehampaan menempati sudut di relung hati kecilnya.

***

Seperti pada Jumat yang lain, sore itu ia duduk di depan cafe dengan segelas minuman dingin yang berbahan dasar teh. Sambil menunggu penampilan cover music The Beatles, Iril melansir beberapa berita yang infonya ia dapatkan dari teman sesama jurnalis, atau pun mengutip dari kantor berita pusat milik pemerintah.

Di depan meja yang ia tempati merupakan jalan tempat orang-orang berhulu-lalang. Ia duduk di kursi sofa panjang yang cukup nyaman untuk didiami selama berjam-jam. Iril sengaja untuk duduk di outdoor agar dirinya dapat merokok sambil melansir berita.

Seperti biasa, ia mengetik dengan menggunakan laptop. Bukan hanya laptop, cafe dan minuman dingin juga menjadi teman karibnya hari itu. Sofa dan meja yang berada di pojok cafe didaulat olehnya sebagai singgasana pribadi. Orang-orang seperti satpam dan penjaga cafe yang lain sudah terbiasa melihat Iril duduk di sofa pojok setiap Jumat.

Terlalu seringnya hingga pada suatu Jumat, seorang penjaga cafe ‘gatal’ ingin mengetahui apa yang ia lakukan. Alih-alih meminjam korek, salah satu penjaga cafe bertingkah layaknya jurnalis sungguhan, mengumpulkan data hingga lalu disebar ke khalayak.

“Mas, boleh minjem korek?” pinta petugas cafe.

“Silahkan mas,” tutur Iril seraya memberikan koreknya.

“Numpang duduk ya mas,”

“sok-sok,” jawab Iril spontan dengan menggunakan bahasa Sunda.

“lagi ngapain mas?” kata petugas cafe.

“ini mas, ngetik berita, kerja,” jawab Iril.

Iril sedikit lega karena pada akhirnya ada seseorang yang memberanikan diri untuk bertanya, setelah sebelumnya, beberapa dari mereka hanya memandang aneh dirinya yang duduk selama lebih dari 6 jam di cafe hanya dengan segelas minuman dingin dan laptop. Terlebih lagi ia ‘sendiri’.

“ohh, wartawan ya mas? Wah hebat dong,” puji petugas cafe.

“iya mas, ahh biasa aja kok,” jawab Iril.

Sisanya, obrolan mereka tidak terlepas dari curhat mengenai pekerjaan dan gaji yang tidak seberapa. Iril sudah mulai terbiasa melihat tatapan aneh orang-orang mengenai dirinya yang duduk sendirian selama berjam-jam. Tatapan mereka semakin tajam ketika Iril pindah ke kursi di dekat panggung untuk menikmati music cover setelah jam 8 malam. Iril tahu percis arti dari tatapan merendahkan mereka. Tak jarang beberapa dari mereka melemparkan senyum meledek dan sambil lalu melewati Iril. Ia hanya dapat berkata dalam hati sembari menguatkan diri, “kalian semua menertawakan ku karena aku berbeda, tapi ijinkan saya menertawakan kalian, karena kalian semua sama,” ucap suara yang berasal dari ‘ruang kosong’.

***

Pada awalnya, Iril tidak terlalu mengindahkan penilaian mereka. Namun setelah sekian lama ia seperti ditarik mendekati pusaran mata sosial. Indera penglihatannya memberikan refleksi kehidupan Iril secara jelas. Matanya sendiri seolah-olah berbicara lantang dan tak mampu terelakkan.

Melihat gelak tawa orang-orang yang datang bersama sahabatnya, memperhatikan kasih sayang kedua orang tua yang mengajak anaknya merayakan akhir pekan, atau menyaksikan kedua insan yang tidak malu memperlihatkan cintanya lewat genggaman tangan. Mereka yang berusaha keras mengabadikan momen dengan berfoto bersama, mereka yang bersama-sama menertawakan masa kejayaannya, atau mereka yang sedang melewati malam dengan sebuah lilin di tengah meja sambil menceritakan kebahagiaannya.

Apa yang dilihat Iril bertranformasi menjadi sebuah tanya besar dan menuntut untuk dijawab. Seperti debt collector, ia menagih hutangnya untuk dibayar lunas tanpa ada tenggang waktu. “Apakah aku kesepian? Hingga selalu datang sendiri di setiap Jumat.”

Terlalu sering Iril dan ‘sahabat-sahabatnya’ menjadi saksi perayaan akhir pekan orang-orang yang secara sosial hidup dengan cara berbagi kasih antara sesama. Sebuah gambaran bentuk cinta kasih insan manusia yang jarang dilukis oleh Iril. Mungkin ia hampir lupa bahwa warna langit di kanvas bukan hanya oranye senja, bahwa cuaca yang indah untuk digambar bukan hanya hujan dan tidak semua goresan gambar dermaga dilabuhi hanya dengan satu kapal.

Ia tidak menyadari bahwa dirinya semakin akrab berdialog dengan ‘kesendirian’, bukti bahwa pada awalnya ia tidak menghiraukan perkataan orang lain merupakan wujud nyata bahwa Iril mulai menikmati kesepiannya. Hati kecilnya menuntut eksistensi yang selama ini kerap disangkalnya dengan pembenaran dan kata-kata bijak penghibur diri.

“Mungkin mereka benar, bahwa aku aneh. Dan mungkin kau (hati kecil) benar, bahwa aku kesepian,” ucap Iril dalam hati. “The Long and Winding Road” mengalun selepas pengakuan diri. “Ahh, lagu ini mungkin pas buat kamu (hati kecil), selamat menikmati,” kata Iril dalam hati sambil tersenyum.

“The wild and windy night that the rain washed away
Has left a pool of tears, crying for the day
Why leave me standing here, let me know the way

Many times I’ve been alone and many times I’ve cried
Anyway you’ll never know the many ways I’ve tried

And still they lead me back to the long and winding road
You left me standing here a long, long time ago
Don’t leave me waiting here, lead me to you door”

(The Beatles – The Long and Winding Road)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s