Perjalanan

Manusia, Insan yang pada hakikatnya lahir dengan tajuk yang selalu sama, “Melakukan Perjalanan”. Perjalanan yang sungguh tidak akan pernah mudah, itukah alasan mengapa hal pertama yang kita lakukan ketika terlahir adalah ‘menangis’? karena sejatinya kita tahu, bahwa hidup, tidak akan pernah mudah.

Kita acap kali dipaksa untuk menjadi saksi kerasnya kehidupan yang ada disekitar kita, melalui kisah, kejadian atau bahkan drama yang selalu dilapisi oleh tangisan tak berdaya. Ada banyak cerita yang menguji pemahaman kita, yang mungkin hanya akan berujung pada tanya yang enggan terjawab, mengenai kebenaran yang tak akan pernah sama.

Apa sebenarnya yang kita tuju dari perjalanan hidup kita? Kebahagiaankah? Kebenarankah? Surga? Atau zat sang pencipta yang masih menjadi misteri? Seberapa jauh kita mampu melangkah melihat kegetiran di pinggiran jalan setapak? Sudikah kita untuk berhenti sejenak menengok bilur di kaki mereka yang berjalan tanpa alas?

Tak jarang juga kita menangisi nasib miris kaum pinggiran, kaum yang perlahan mulai kehilangan makna terhadap kehidupannya sendiri, merangkak menghampiri lilin yang perlahan mulai mengecil dan mati sebelum sinarnya mampu membilas wajah, yang tersisa hanyalah puing lelehan tak berbentuk disamping jalan. Memungutnya pun takkan merubah keadaan.

Menanggalkan sifat kemanusiaan dengan terus berjalan atau mungkin berpura-pura tidak tahu dianggap pilihan yang tepat. Yang berlalu biarlah berlalu, begitu kata orang, namun sayangnya yang berlalu itu menguap dan mengkontaminasi udara sekitar dan menyatu bersama ingatan di kepala.

Menangis ku dibuai memori cerita yang menunggu untuk dibayar lunas. Tangisan apa ini? Ketidakberdayaankah? Atau Penyesalankah? Keterbatasan ku sebagai manusia menuntut kesempurnaan yang tak dapat diterima oleh akal sehat. Hingga ku sadari bahwa aku hanya ‘Manusia’ yang terkikat oleh ruang dan waktu.

Menyesalkah aku memilih menjadi ‘Manusia’ dengan keterbatasannya? Menyesalkah aku menjadi serpihan kaca di pelosok jagad raya? Menyadari bahwa aku hanyalah setitik kecil penghuni alam semesta. Haruskah ku tuntaskan perjalanan ini dan memilih jalan pintas untuk berpulang?

Pulang? Pulang kemana? Tujuan akhirpun tak kuketahui dengan jelas! Lalu ku biarkan tangis ku membasahi jalan, pinta ku padanya untuk membersihkan debu dan kerikil, agar lebih mudah ku melangkah melewati takdir ku sendiri. Tuntun aku wahai Zat pemilik jalan ku. Berikan aku setitik keberanian Mu. Bantu aku menemukan batas ku sendiri, di perjalanan yang tak pernah ku ketahui dimana ujungnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s