Catatan Akhir Tahun

Rumah, sebuah entitas berharga yang harus dibayar mahal. Tak jarang untuk mendapatkannya diperlukan sebuah perjuangan atau bahkan pengorbanan. Manusia dalam perjalanan hidupnya selalu haus akan pencarian ‘rumah’. Tempat dimana semuanya berawal dan berakhir. Tempat dimana kita dapat memaknai arti dari sebuah pertemuan dan perpisahan.

Home.jpg

Tahun ini tajuknya ‘rumah’. Di awal tahun ini, pada akhirnya saya harus meninggalkan Jatinangor. Sebuah kota kecil dipinggiran kota Bandung yang selalu saya rindukan kepulangannya. Jatinangor bagi saya sama seperti ketika saya melihat perempuan cantik, semakin lama dilihat semakin betah dipandang, begitu cara saya menganalogikannya.

Disana saya hidup satu atap selama bertahun-tahun dengan orang-orang yang tidak pernah gagal menyinggungkan senyuman hanya dengan mengingat momennya. Semua hal masih terekam jelas dalam ingatan. Terlalu banyak cerita, kenangan atau mungkin penyesalan yang saya tinggalkan disana.

***

Tepat di bulan Agustus, saya ditugaskan untuk meliput penggusuran warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur. Negosiasi antara Pemprov DKI Jakarta bersama masyarakat sekitar menemui jalan buntu. Pemprov akhirnya melakukan penggusuran secara paksa meskipun masyarakat memutuskan untuk bertahan.

Saya menjadi saksi bagaimana puluhan backhoe dengan angkuhnya meratakan rumah penduduk. Aparat dan masyarakat bertindak anarkis. Ini merupakan bukti gagalnya Pemprov DKI menjembatani warganya dalam mencapai kesejahteraan.

Dua hari berselang setelah penggusuran, saya kembali kesana. Kali ini saya ditugaskan untuk mewawancarai warga yang terkena penggusuran. Di ujung sana kira-kira 10 meter jauhnya dari tempat saya berdiri. Saya melihat seorang ibu menangis, ia ditemani oleh dua ibu lain yang sedang mengelus-elus pundaknya. Saya memberanikan diri untuk mewawancarainya.

kampung_pulo_top_0.jpg

Namanya Iyah, tempat dimana ia menangis dulunya merupakan titik dimana dirinya berlindung dari panas dan dingin bersama keluarganya. Pada awalnya saya heran mengapa ia meratapi nasibnya di depan puing-puing reruntuhan rumahnya. Karena sepengetahuan saya, warga yang terkena penggusuran mendapatkan 1 unit tempat tinggal di Rusun Jatinegara. Jadi menurut saya tidak seharusnya ia berada disini.

Setelah ia bercerita, barulah saya mengerti. Ternyata dirinya hanya mengontrak di rumah yang sudah ditempatinya selama lebih dari 20 tahun. Alhasil jatah 1 unit rusun menjadi hak dari si pemilik rumah. Dirinya kembali untuk memeriksa beberapa barang yang masih dapat terpakai dengan mengais-ngais reruntuhan tersebut.

Secara hukum, dirinya dan beberapa warga yang terkena penggusuran mungkin salah. Bahwa tak seharusnya mereka mendirikan rumah di tanah negara tanpa ijin. Hal tersebut membuat sebagian besar warga di Kampung Pulo tidak memiliki sertifikat resmi kepemilikan rumah. Dengan dalil tersebut, Pemprov menolak untuk memberikan uang kerohiman kepada mereka yang terkena penggusuran. Warga seakan tidak diberikan pilihan dalam menentukan nasibnya karena Pemprov hanya bersedia untuk mengganti mereka dengan 1 unit rusun. Bagaimana dengan orang-orang seperti Iyah? Tak sepeser pun ia dapat.

Begitu rendahnya pemerintah menilai makna sebuah ‘rumah’. Hukum seakan melegitimasi perbuatan mereka yang tidak beradab. Mata, hati dan telinga mereka seakan-akan tertutup. Mereka enggan melihat kebawah karena pemandangan di atas sana jauh lebih indah, hal tersebut membuat hati mereka terkunci dan enggan mendengarkan suara rakyat kecil yang ada di bawah sana.

Dalam diri saya bertanya, apakah mereka para pemimpin tahu betul makna dari pancasila? Bagaimana mungkin kita dapat dipimpin oleh pemimpin yang tidak beradab? (sila ke-2), mereka seakan-akan tidak mau bersatu bersama masyarakat (sila ke-3) untuk memusyawarahkan (sila ke-4) jalan tengah demi kepentingan bersama, maka jangan pernah berharap dan berbicara mengenai keadilan (sila ke-5) karena sejatinya mereka telah mengubah Jakarta menjadi hutan belantara dimana hukum alam lah yang diberlakukan.

***

Di bulan yang sama, pada akhir bulan Agustus saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan dari seko.ci (sekolah kolong Cikini) yaitu ‘berlayar’. Kegiatan tersebut melibatkan anak-anak jalanan di daerah Cikini yang dipandu oleh beberapa alumni-alumni almamater saya terdahulu. ‘Berlayar’ merupakan kegiatan belajar sambil jalan-jalan. Kebetulan kegiatan ‘berlayar’ pada saat itu merupakan ‘berlayar’ yang pertama.

Beberapa dari mereka benar-benar hidup di bawah rel kereta (homeless). Pekerjaan kedua orang tuanya sebagian besar merupakan pemulung. Tak jarang Satpol PP mengusir mereka apabila sedang melakukan razia.

1450881007371.jpg

Anak-anak terlihat senang dan bergembira, hal tersebut menutupi rasa iba saya kepada mereka. Saya pribadi mengetahui bahwa ‘uang bukanlah segalanya’, namun setelah beberapa bulan bersama mereka baru lah saya benar-benar memahami maksudnya. Meskipun mereka hanya setitik kecil penghuni alam semesta yang hidup dibawah garis kemiskinan, mereka masih dapat tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban.

Tidak sedikit pun mereka berkecil hati dan bersedih terhadap takdir yang harus mereka jalani. Mungkin menjadi hal yang wajar karena mereka masih anak-anak yang belum dapat sepenuhnya memahami kondisi mereka sendiri. Namun tidak pernah saya bayangkan rasanya mengalami pengusiran paksa, atau mungkin harus tidur di luar menahan dingin dan tidak memiliki tujuan hidup yang lain kecuali mencari uang  hanya untuk makan hari ini.

Yang saya ajarkan kepada mereka hanya membaca dan menulis, namun nilai-nilai kehidupan yang mereka berikan jauh lebih banyak dan lebih besar. Bahwa ‘rumah’ terbaik bukanlah ‘rumah’ dalam bentuk fisik, sadar bahwa kita masih memiliki orang-orang yang peduli terhadap diri kita menggambarkan bentuk ‘rumah’ yang sebenarnya. Cheer up sons! Never let the world change your smile, we will guide you as far as we can!

 

 

Advertisements