Penyalahgunaan Bahasa: “Pengidentikkan Kata ‘Terorisme’ Dengan Agama Islam”

Pada hari Sabtu tanggal 14 November 2015 saya membaca pemberitaan di beberapa media bahwa Prancis diserang 7 aksi serangan serentak di 6 lokasi berbeda. Ada satu kutipan yang membuat saya kecewa di media tersebut.

Dikutip dari New York Times bahwa, saksi mata serangan teroris menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mereka terhadap hal buruk yang di lakukan Presiden Francois Hollande yang  menimpa masyarakat muslim di seluruh pelosok dunia.

Dari kutipan tersebut, saya menyimpulkan aksi teror tersebut dilakukan oleh oknum yang lagi-lagi mengatas namakan agama untuk berbuat hal yang menurut mereka benar dan layak. Pemikiran bodoh yang datang dari beberapa orang yang putus asa.

Ya, benar putus asa. Mereka menyadari bahwa kekuatan mereka tidak sebanding apabila ingin menyerang orang yang membuat mereka kecewa. Alhasil, mereka menyerang orang-orang yang tidak bersalah dan tidak bersenjata dan terlebih lagi, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang kekecewaan mereka.

Beberapa oknum merusak citra agama Islam karena mereka mengatas namakan agama Islam dalam setiap aksi yang menurut saya bodoh. Haruskah Islam lagi-lagi dijadikan kambing hitam? Haruskah orang-orang yang beragama Islam menerima cacian dari masyarakat dunia hanya karena ulah beberapa oknum?

Aksi terorisme pada kenyataannya memang lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang memeluk agama Islam. Namun, haruskah Islam diidentikan dengan terorisme? Saya akan mencoba membahas pengertian kata Terorisme hingga pada akhirnya kata tersebut menjadi identik dan seolah-olah menjadi identitas agama Islam yang berkembang di kalangan masyarakat.

Pengidentikkan Kata “Terorisme” Dengan Agama Islam

Terorisme berasal dari kata teror dan -isme, merupakan serapan dari bahasa inggris yaitu terrorism yang berarti bahwa penggunaan kekerasan untuk tujuan-tujuan politis, termasuk menggunakan kekerasan untuk membuat masyarakat atau anggota masyarakat ketakutan (The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act, 1984, pasal 14 ayat 1).

Teror sendiri berasal dari kata latin “terrere yang kurang lebih berarti membuat gemetar atau menggetarkan dan -isme merupakan sufiks yang berasal dari Yunani -ismos, Latin -ismus, Perancis Kuna -isme, dan Inggris -ism. Akhiran ini menimbulkan arti yang berbeda-beda bergantung dari awalan yang dikenakan oleh sufiks –isme. Dapat diartikan sebagai gerakan politis (feminisme), karateristik (nasionalisme), diskriminasi (rasisme), tindakan (terorime), dan yang lainnya.

Aksi terorisme (menurut wikipedia) mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Pada abad ke-11, organisasi bernama Hashhashin atau yang lebih dikenal dengan nama “Assassins” yang berkembang di Iran dan Syria juga merupakan bentuk aksi terorisme. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19.

Aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.

Beberapa aksi terorisme lainnya yang tercatat dalam sejarah seperti aksi Narodnaya Volya di Rusia yang berkembang pada tahun 1879. Irish Republican Army berlatar belakang pemisahan diri Katolik Irlandia di bawah kekuasan Great Britania pada tahun 1950an. Selain itu gerakan Kurdistan Worker’s Party pada tahun 1970an dan Macan Tamil di Sri Lanka.

Namun hal yang membuat terorisme identik dengan agama Islam terjadi pada tahun 1990an ketika banyak gerakan terorisme yang berbasis di timur tengah lewat kelompok Al Qaeda, Hamas dan Hezbollah mengatas namakan agama Islam dalam setiap aksinya. Dengan membawa dalil “Jihad”, tanpa berpikir panjang mereka bukan hanya mencoba untuk menghancurkan musuh, tanpa mereka sadari citra baik agama Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW lewat perjuangannya juga ikut hancur.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, pemberitaan terhadap aksi terorisme pun terangkat secara terus menerus. Sialnya lagi, aksi terorisme yang berkembang pada saat itu sampai sekarang banyak dilakukan di timur tengah dan oknum yang melakukannya lagi-lagi mengatas namakan agama Islam. Maka jadilah beberapa masyarakat dunia mulai memiliki pemikiran bahwa “terorisme itu identitas Islam”.

Kesalahan Penafsiran Masyarakat

Mari berpikir logis dalam menyikapi permasalah terorisme yang selalu dikaitkan dengan agama Islam. Analoginya seperti ini :

  1. Menurut saya ‘agama’ itu seperti kendaraan yang dimiliki oleh setiap umat manusia. Kendaraan tersebut dapat menuntun setiap pemiliknya menuju kebaikan. Apabila dalam perjalanannya kendaraan tersebut menabrak kendaraan lain hingga menyebabkan orang-orang tewas. Apakah anda akan menyalahkan kendaraannya? Bukankah yang menjadi logis adalah anda menyalahkan pengendaranya? Sama seperti hal yang terjadi pada saat ini. Masyarakat kerap menyalahkan label kendaraan sama yang dikendarai oleh oknum pengendara yang menyebebakan kecelakaan. Seakan-akan orang lain yang menggunakan label kendaraan yang sama juga harus bertanggung jawab terhadap kecelakaan tersebut. Masalah itu terus berputar tanpa ada yang menyadari bahwa yang mereka hakimi adalah benda mati. Apakah ada persidangan yang dikhususkan untuk benda mati?
  2. Daging babi banyak dikonsumsi oleh orang-orang beragama non-muslim. Apabila pada suatu saat saya yang beragama islam ingin mencicipi daging babi, apakah Identitas awal saya akan berubah menjadi non-muslim ketika saya memakan daging babi? Hanya dengan memakan daging babi tidak akan cukup untuk menjelaskan apa identitas saya. Sama seperti hal yang saat ini sedang terjadi. Aksi terorisme dapat dilakukan oleh semua etnis atau agama. Haruskah Terorisme menjadi identitas agama Islam hanya karena kasus yang banyak berkembang saat ini dilakukan oleh oknum-oknum yang memeluk agama Islam? Pada kenyataannya mayoritas oknum dari organisasi Macan Tamil di Sri Lanka merupakan mereka yang beragama Hindu.

Dapat dilihat bahwa permasalahan terorisme bukan merupakan perkara identitas, dan agama hanya sesuatu yang sifatnya ‘abstrak’, tak berbentuk, yang tidak dapat melakukan apa-apa. Agama itu jelas merupakan ‘kekuatan’ yang dijadikan fasilitas bagi umat manusia ke arah yang lebih baik. Tindakan beberapa oknumlah yang membuat ‘kekuatan’ tersebut membawa dampak yang buruk bagi umat manusia. Bahkan Einstein menangis ketika ilmu relativitas yang ditemukannya dikembangkan untuk membuat bom nuklir. Mari melihat sebuah permasalahan bukan dari identitas yang melekat, karena kesalahan yang terjadi merupakan bentuk personalitas bukan identitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s