Kesalahan Penempatan Terminologi Identitas dan Personalitas

Masalah identitas dan personalitas dalam kehidupan sosial sering disalahartikan. Tak jarang keduannya dijadikan perbedaan dan perbandingan. Kedua hal tersebut memang berbeda, namun bukan bearti harus dibedakan dan dipisahkan. Karena secara langsung identitas akan selalu berhubungan dengan personalitas begitu juga sebaliknya. Benang merah dari identitas dan personalitas terletak pada tuntutan pencarian jati diri manusia selaku individu terhadap dirinya sendiri. Kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskan terminologi identitas dan personalitas diri dari aspek psikologi dan makna harfiahnya.

Makna Identitas (Jati Diri)

Secara harfiah identitas berasal dari bahasa inggris yaitu identity, dapat diartikan sebagai ciri-ciri, tanda atau jati diri. Menurut Adam dan Gullota, 1983 (dalam Desmita, 2005 : 211) identitas adalah sebuah fenomena psikologi yang kompleks. Dimana hal itu mungkin adalah sebuah cara pemikiran seseorang dalam kepribadiannnya. Termasuk didalamnya identifikasi dengan individu yang dianggap penting dalam kehidupan mulai dari awal masa kanak-kanak. Termasuk identifikasi peranan seks, ideologi individu, penerimaan norma kelompok, dan banyak lagi.

Dapat disimpulkan identitas merupakan sesuatu yang dibentuk dari dalam pribadi manusia yang bearti bahwa identitas berkaitan dengan personalitas. Senada dengan yang dikatakan Cak Nun dalam Kenduri Cinta pada bulan Oktober, “Identitas merupakan bentuk kreatif dari personalitas, yang terbentuk berdasarkan kebebasan dari suatu individu mengenai pemilihan keputusan terhadap identitasnya sendiri.”

Sebagai contoh misalnya, semasa berkuliah saya mengambil studi program komunikasi, namun pada akhirnya saya memilih untuk berprofesi sebagai bankir yang bukan merupakan background pendidikan saya. Identitas merupakan sesuatu yang dipilih, bukan dipaksakan.

Makna Personalitas (Kepribadian)

Secara harfiah personalitas berasal dari bahasa inggris yaitu personality. Personality sendiri merupakan serapan dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam theater yang menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. George Kelly memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.

Kepribadian (personalitas) bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk oleh proses sosialisasi. Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan. Segala sesuatu yang berasal dari dalam diri baik pemikiran mengenai pandangan mengenai benar atau salah merupakan bentuk personalitas yang juga tak dapat diganggu gugat.

Kesalahan Penggunaan Terminologi

Terlepas dari kajian psikologis mengenai identitas dan personalitas, bayangkan bahwa identitas merupakan software dan personalitas merupakan hardware. Sebagai hardware personalitas merupakan apa yang ada di dalam diri kita dalam bentuk fisik yang menjadi ciri khas seseorang sebagai pembeda antara satu individu dan individu lain. Jenis rambut, bentuk muka, warna kulit yang keseluruhannya merupakan pemberian Allah SWT. Personalitas sifatnya Given dan kita sebagai manusia tidak dapat memilih.

Sementara Identitas sendiri seperti yang sudah dijelaskan diatas merupakan bentuk kreatif dari personalitas. Kita sebagai manusia memiliki hak untuk memilih salah satu identitas dari berbagai opsi. Identitas sebagai software seperti misalnya agama, gender profesi, dll. Jati diri merupakan pilihan hidup yang kedaulatannya tidak dapat diganggu gugat. Namun behati-hatilah dalam memilih identitas, karena apabila pilihan tersebut bukan berasal dari keinginan pribadi anda, maka tanpa anda sadari anda akan gagal identitas karena pemilihan opsi tersebut diambil berdasarkan personalitas orang lain dalam arti terpengaruh dari dorongan luar.

Kesalahan penggunaan terminologi identitas dan personalitas terjadi pada penggunaan istilah tersebut di beberapa kartu identitas pribadi seperti KTP, passport dan SIM yang mencantumkan kolom nama, golongan darah, kebangsaan dan kelamin. Padahal sesuatu yang sifatnya Given seharusnya masuk dalam ranah personalitas bukan identitas, karena kita tidak dapat memilih beberapa hal tersebut. Karena itu seharusnya kartu tersebut seharusnya dinamai dengan ‘personalitas pribadi’ bukan ‘identitas pribadi’.

“Identitas merupakan sesuatu yang kita adopsi dari lingkungan yang sifatnya nurture, sedangkan personalitas merupakan sesuatu yang kita dapat tanpa bisa memilih yang sifatnya nature.” Sabrang (Kenduri Cinta, TIM, Jakarta, 9 Oktober 2015)

Advertisements

Penyalahgunaan Bahasa: “Pengidentikkan Kata ‘Terorisme’ Dengan Agama Islam”

Pada hari Sabtu tanggal 14 November 2015 saya membaca pemberitaan di beberapa media bahwa Prancis diserang 7 aksi serangan serentak di 6 lokasi berbeda. Ada satu kutipan yang membuat saya kecewa di media tersebut.

Dikutip dari New York Times bahwa, saksi mata serangan teroris menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mereka terhadap hal buruk yang di lakukan Presiden Francois Hollande yang  menimpa masyarakat muslim di seluruh pelosok dunia.

Dari kutipan tersebut, saya menyimpulkan aksi teror tersebut dilakukan oleh oknum yang lagi-lagi mengatas namakan agama untuk berbuat hal yang menurut mereka benar dan layak. Pemikiran bodoh yang datang dari beberapa orang yang putus asa.

Ya, benar putus asa. Mereka menyadari bahwa kekuatan mereka tidak sebanding apabila ingin menyerang orang yang membuat mereka kecewa. Alhasil, mereka menyerang orang-orang yang tidak bersalah dan tidak bersenjata dan terlebih lagi, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang kekecewaan mereka.

Beberapa oknum merusak citra agama Islam karena mereka mengatas namakan agama Islam dalam setiap aksi yang menurut saya bodoh. Haruskah Islam lagi-lagi dijadikan kambing hitam? Haruskah orang-orang yang beragama Islam menerima cacian dari masyarakat dunia hanya karena ulah beberapa oknum?

Aksi terorisme pada kenyataannya memang lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang memeluk agama Islam. Namun, haruskah Islam diidentikan dengan terorisme? Saya akan mencoba membahas pengertian kata Terorisme hingga pada akhirnya kata tersebut menjadi identik dan seolah-olah menjadi identitas agama Islam yang berkembang di kalangan masyarakat.

Pengidentikkan Kata “Terorisme” Dengan Agama Islam

Terorisme berasal dari kata teror dan -isme, merupakan serapan dari bahasa inggris yaitu terrorism yang berarti bahwa penggunaan kekerasan untuk tujuan-tujuan politis, termasuk menggunakan kekerasan untuk membuat masyarakat atau anggota masyarakat ketakutan (The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act, 1984, pasal 14 ayat 1).

Teror sendiri berasal dari kata latin “terrere yang kurang lebih berarti membuat gemetar atau menggetarkan dan -isme merupakan sufiks yang berasal dari Yunani -ismos, Latin -ismus, Perancis Kuna -isme, dan Inggris -ism. Akhiran ini menimbulkan arti yang berbeda-beda bergantung dari awalan yang dikenakan oleh sufiks –isme. Dapat diartikan sebagai gerakan politis (feminisme), karateristik (nasionalisme), diskriminasi (rasisme), tindakan (terorime), dan yang lainnya.

Aksi terorisme (menurut wikipedia) mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Pada abad ke-11, organisasi bernama Hashhashin atau yang lebih dikenal dengan nama “Assassins” yang berkembang di Iran dan Syria juga merupakan bentuk aksi terorisme. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19.

Aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.

Beberapa aksi terorisme lainnya yang tercatat dalam sejarah seperti aksi Narodnaya Volya di Rusia yang berkembang pada tahun 1879. Irish Republican Army berlatar belakang pemisahan diri Katolik Irlandia di bawah kekuasan Great Britania pada tahun 1950an. Selain itu gerakan Kurdistan Worker’s Party pada tahun 1970an dan Macan Tamil di Sri Lanka.

Namun hal yang membuat terorisme identik dengan agama Islam terjadi pada tahun 1990an ketika banyak gerakan terorisme yang berbasis di timur tengah lewat kelompok Al Qaeda, Hamas dan Hezbollah mengatas namakan agama Islam dalam setiap aksinya. Dengan membawa dalil “Jihad”, tanpa berpikir panjang mereka bukan hanya mencoba untuk menghancurkan musuh, tanpa mereka sadari citra baik agama Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW lewat perjuangannya juga ikut hancur.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, pemberitaan terhadap aksi terorisme pun terangkat secara terus menerus. Sialnya lagi, aksi terorisme yang berkembang pada saat itu sampai sekarang banyak dilakukan di timur tengah dan oknum yang melakukannya lagi-lagi mengatas namakan agama Islam. Maka jadilah beberapa masyarakat dunia mulai memiliki pemikiran bahwa “terorisme itu identitas Islam”.

Kesalahan Penafsiran Masyarakat

Mari berpikir logis dalam menyikapi permasalah terorisme yang selalu dikaitkan dengan agama Islam. Analoginya seperti ini :

  1. Menurut saya ‘agama’ itu seperti kendaraan yang dimiliki oleh setiap umat manusia. Kendaraan tersebut dapat menuntun setiap pemiliknya menuju kebaikan. Apabila dalam perjalanannya kendaraan tersebut menabrak kendaraan lain hingga menyebabkan orang-orang tewas. Apakah anda akan menyalahkan kendaraannya? Bukankah yang menjadi logis adalah anda menyalahkan pengendaranya? Sama seperti hal yang terjadi pada saat ini. Masyarakat kerap menyalahkan label kendaraan sama yang dikendarai oleh oknum pengendara yang menyebebakan kecelakaan. Seakan-akan orang lain yang menggunakan label kendaraan yang sama juga harus bertanggung jawab terhadap kecelakaan tersebut. Masalah itu terus berputar tanpa ada yang menyadari bahwa yang mereka hakimi adalah benda mati. Apakah ada persidangan yang dikhususkan untuk benda mati?
  2. Daging babi banyak dikonsumsi oleh orang-orang beragama non-muslim. Apabila pada suatu saat saya yang beragama islam ingin mencicipi daging babi, apakah Identitas awal saya akan berubah menjadi non-muslim ketika saya memakan daging babi? Hanya dengan memakan daging babi tidak akan cukup untuk menjelaskan apa identitas saya. Sama seperti hal yang saat ini sedang terjadi. Aksi terorisme dapat dilakukan oleh semua etnis atau agama. Haruskah Terorisme menjadi identitas agama Islam hanya karena kasus yang banyak berkembang saat ini dilakukan oleh oknum-oknum yang memeluk agama Islam? Pada kenyataannya mayoritas oknum dari organisasi Macan Tamil di Sri Lanka merupakan mereka yang beragama Hindu.

Dapat dilihat bahwa permasalahan terorisme bukan merupakan perkara identitas, dan agama hanya sesuatu yang sifatnya ‘abstrak’, tak berbentuk, yang tidak dapat melakukan apa-apa. Agama itu jelas merupakan ‘kekuatan’ yang dijadikan fasilitas bagi umat manusia ke arah yang lebih baik. Tindakan beberapa oknumlah yang membuat ‘kekuatan’ tersebut membawa dampak yang buruk bagi umat manusia. Bahkan Einstein menangis ketika ilmu relativitas yang ditemukannya dikembangkan untuk membuat bom nuklir. Mari melihat sebuah permasalahan bukan dari identitas yang melekat, karena kesalahan yang terjadi merupakan bentuk personalitas bukan identitas.