Memahami Perasaan, Hati dan Logika

Catatan Penulis:

Membutuhkan waktu cukup lama bagi saya untuk dapat menulis lagi artikel mengenai perasaan, hati dan logika. Itu semua karena pada awalnya saya tidak ingin menulis hanya berdasarkan kepada hasil pemikiran saya, mengingat saya bukanlah seorang filsuf, psikolog, ustadz apalagi ilmuan yang dapat melegitimasi informasi yang saya berikan dengan data yang akurat. Saya menyadari bahwa pemahaman saya tentang filsafat logika sangat kurang, saya juga tidak mengerti tentang pembentukan kepribadian manusia melalui id, ego dan super-ego dari Freud, saya juga tidak memahami dalil atau ayat Al-quran yang dapat menjelaskan tentang perasaan, hati dan logika, saya juga tidak dapat menjelaskan secara ilmiah mengenai proses pemikiran manusia yang begitu kompleks.

Atas alasan di atas, saya selaku penulis artikel meminta maaf kepada anda yang membaca artikel ini karena tidak dapat menjelaskan hal tersebut secara ilmiah. Namun hal tersebut tidak membuat saya berhenti untuk berpikir dan menulis tentang apa yang saya pahami mengenai ketiga hal yang menjadi esensi hidup manusia. Perlu digaris bawahi bahwa yang saya tulis merupakan perspektif pribadi yang berdasarkan pada pengalaman dan hasil pemikiran saya, ini bukanlah suatu hal yang berbau ilmiah, apalagi teori. Semoga seiring berjalannya waktu pengetahuan saya mengenai perasaan, hati dan logika bertambah di berbagai aspek ilmu pengetahuan, sehingga dapat memberikan pengetahuan yang dapat lebih meyakinkan anda. Amin.

Tentang Perasaan, Hati dan Logika

Seperti yang sudah ditulis pada artikel sebelumnya bahwa terdapat benang tipis yang memisahkan antara perasaan dan logika, yaitu hati nurani. Kedua hal tersebut selalu berkutat di dalam akal manusia. Dalam berbagai konteks, ketiganya bagaikan timbangan dengan hati nurani yang berada ditengah sebagai penyeimbang, akal akan selalu berproses untuk mempertimbangkan sisi mana yang lebih berat apakah perasaan yang menjadi juara ataukah logika yang menjadi rajanya. Lalu pertanyaannya adalah, dimanakah andil hati nurani apabila pada akhirnya manusia akan tetap memilih antara perasaan dan logika?

Untuk dapat memahami perasaan, hati dan logika, saya menganjurkan kepada anda untuk menyingkirkan perspektif bahwa logika = akal/otak. Karena apabila anda berpikir demikian, secara tidak langsung anda akan menganggap bahwa orang-orang yang mengatasnamakan sosial dalam setiap aksinya tidak menggunakan akal atau otak dalam pengambilan keputusan.

Hal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa mereka lebih menitikberatkan pilihan mereka kepada perasaan yang lalu direspons otak dengan melakukan kegiatan sosial. Otak merupakan tempat dimana semua informasi diterima lalu diproses hingga kemudian direspons dengan pengambilan keputusan sebagai output dari hasil berpikir. Logika dan otak merupakan dua hal yang berbeda.

Contoh kasus I

misalnya adalah: “D” memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu

Apabila misalnya uang yang dimiliki “D” dalam 1 bulan adalah Rp3 juta dan uang yang akan disumbangkan oleh “D” adalah Rp500 ribu dengan mempertimbangkan biaya hidup untuk satu bulan ke depan.  Saya ilustrasikan seperti ini.

Ilustrasi I:

ilustrasi I

Setiap apapun yang kita lakukan pasti memiliki nilai, begitu pula pengambilan keputusan dengan menggunakan skala perasaan, hati dan logika. Agar lebih mudah dipahami, saya mengilustrasikan perasaan, hati dan logika sebagai sebuah titik dari garis lurus.

Dapat dilihat bahwa posisi hati berada di tengah-tengah diantara perasaan dan logika dengan nilai 0, sedangkan titik perasaan dan logika saya beri nilai maksimal 5, untuk gambar kotak yang tersambung dan melintang antara perasaan dan logika saya sebut sebagai range keputusan, bernilai 2 dengan warna kotak mendekati abu-abu, baik di skala perasaan maupun logika. Dengan begitu maka “D” akan mendapatkan hasil win win solution karena selain dapat memenuhi kebutuhan sosialnya, kebutuhan hidup “D” juga dapat terpenuhi.

Range keputusan merupakan skala dari pengambilan keputusan yang dilakukan oleh “D”. Ilustrasi range tersebut memiliki jarak sebanyak 5 poin. Jarak tersebut memiliki arti bahwa dalam pengambilan keputusan, “D” dapat dikatakan bijak karena sama-sama bernilai 2, dengan warna abu-abu yang sama baik di skala perasaan maupun logika. Menjadi bijak berarti bahwa seseorang tidak mimihak kepada salah satu sisi, tidak bewarna hitam maupun putih melainkan menempatkan posisi ditengah-tengah dengan warna abu-abu.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang terjadi apabila “D” tidak peduli dengan anak-anak yatim piatu? Berikut ilustrasinya:

Ilustrasi II:

Contoh kasus II, misalnya adalah: “D” masa bodoh dengan anak-anak yatim piatu

Ilustrasi II

Ilustrasi II menunjukan bahwa skala range keputusan bernilai 1 sampai 5, bewarna abu-abu dan hitam di sisi logika. Katakanlah bahwa cara “D” memandang anak-anak yatim piatu bernilai 1, saya asumsikan bahwa hal yang dilakukan “D” hanyalah memandang iba kepada mereka tanpa melakukan sesuatu yang berarti, karena range keputusan sama sekali tidak menyentuh titik pada garis perasaan. Nasib anak-anak yatim piatu mungkin masih dijadikan sebagai bahan pemikiran karena kotak bernilai 1 yang bewarna abu-abu mendekati titik 0 (hati), “D” mungkin juga memperbincangkan nasib mereka kepada teman sebayanya, tapi sayang tidak ada aksi nyata (NATO: No Action, Talk Only).

Apa yang terjadi apabila “D” berada di titik 5 bewarna hitam pada skala logika? Jangankan memperbincangkan, memikirkan nasib anak-anak yatim pun mungkin tidak akan pernah terlintas di dalam didirinya karena titik tersebut jauh dari titik netral (hati) maupun titik perasaan.

Menjadi Bijak dengan Range Keputusan

Berada dititik 0 (hati) tanpa adanya range keputusan sangat mungkin dilakukan. Namun dengan begitu anda tidak akan berpihak kepada satu sisi yang mengartikan bahwa anda tidak akan melakukan sesuatu meskipun anda mengetahui atau memikirkan hal tersebut. Pengambilan keputusan tanpa memilih salah satu sisi dan tak berbuat apa-apa merupakan salah satu bentuk berpikir secara apatis (acuh tak acuh, tidak peduli, masa bodoh,who cares? Whatever, you name it). Itulah salah satu fungsi dari range keputusan, menghindari saya berpikir secara apatis. Karena kata orang bijak, “hidup itu sebuah pilihan”.

Menjadi bijak dengan mempertimbangkan perasaan dan logika melalui hati nurani merupakan hal yang sulit dilakukan, kendati demikian bukan bearti hal tersebut tidak dapat dilakukan. Hal tersebut karena range keputusan bersifat fleksibel, arah pergerakannya tergantung dari sejauh mana kita melibatkan hati kita sendiri dalam pengambilan keputusan. Menengok pintu hati yang hanya sedikit merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan agar kita dapat melihat segala sesuatu dari 2 sisi yang berbeda yaitu perasaan dan logika.

Terlalu minitikberatkan 1 aspek tanpa menyentuh titik 0 (hati) tidak akan berdampak baik. Hal tersebut hanya akan medatangkan kerugian karena dengan begitu kita melupakan celah cahaya kecil dari pintu hati yang terbuka. apabila anda merasa bahwa jalan yang anda tuju semakin gelap, tengoklah kebelakang, karena disana cahaya dari pintu hati akan senantiasa menerangi jalan anda dalam pengambilan keputusan walaupun hanya setitik.

“Manusia bagaikan semut yang berada di dalam lingkaran api yang terus berjalan, salah satu cara bagi kita untuk dapat terhindar dari api adalah berusaha mendekati titik tengah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s