Lubang Pelarian

Diam ku telah salah kau artikan
Lewat bisu yang sebulan ini kerap ku utarakan
Kali ini tak dapat lagi ku sembunyikan
Ledakan amarah yang tak mampu lagi aku tahan

Jikalau saat ini bagi mu aku adalah jarak
di antara 2 jarum jam yang kian berdetak
maka kita berdua bagaikan bom waktu yang siap meledak
di dalam kereta kuda yang kini sedang kau arak

Seharusnya kita terikat
lewat simpul pertalian darah yang kiat menguat
namun mengapa kita selalu berkutat?
memperdepatkan mana pihak yang lebih kuat

seharusnya kau lah yang menjadi rindu ku
yang mengusik kesabaran atas perjalanan pulang ku
yang peluknya tersimpul mendekap erat tubuh ku
sambil berkata bahwa doa mu selalu menyertai ku

diriku kini kehilangan makna dari arti kata “rumah”
tangan ku tak lagi dapat menggambarkan keindahan pekarangannya
penglihatan ku kian memburam tertutup asap kedengkian
kaki ku mulai enggan melangkah mengikuti petunjuk jalan

sampai kapan kita mampu menyembunyikan lubang yang kau tutupi lukisan
yang liangnya perlahan ku kerik diam-diam dengan sendok amukan
hingga sebentar lagi cukup bagi ku untuk dapat keluar dari ruangan
menuju apa yang kusebut sebagai pelarian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s