Untuk yang Akan Mati Atau yang Akan Hidup

satu tanya hadir membawa sekop penggali tanah

kegelisahan menggandeng erat jemari tangannya

tanpa permisi mereka duduk disebelahku sambil membuka kotak pandora berisikan korek api

pemantik dinyalakan dan mereka berdua mulai menggali tanah tepat di hadapan ku

sejenak ku terdiam melihat mereka berdua

mereka hanya berkata bahwa lubang ini untuk yang akan mati atau mungkin yang akan hidup

yang akan mati adalah aku

dan yang akan hidup adalah yang tak kumiliki saat ini, bibit pengetahuan

hembusan angin menambah keterasingan ku

datang menusuk bagian tubuh terdalam yang selama ini berusaha kusembunyikan

haruskah aku mati disini?

atau haruskah ku berjalan mencari bibit itu?

kulihat di atas sana satu bintang yang kutunjuk jatuh

ekornya memanjang hanya sepersekian detik

begitu indah jejak garis yang diciptakannya

sebelum akhirnya ia menghilang bersama pengharapan yang kulantunkan layaknya doa

nyala lilin semakin mengecil

mereka berdua mendesak jawab ku

tak kumengerti apa arti dari semua ini

satu tanya beranak-pinak tanpa menghadirkan sedikit pun makna

inikah liang yang harus kumasuki?

atau haruskah ku kubur kembali bongkahan tanah dan ku tanaman bibit yang saat ini masih ku cari

namun aku pasrah, langkah tak dapat ku kontrol menuju liang lahat, mereka berdua menarik ku

mereka bilang belum saatnya kau jatuh

secarik kertas bertuliskan pesan diberikan kepada ku

mereka bilang bahwa itu dari sang waktu

ku baca kertas tersebut di dalam cahaya yang hampir meredum

ia menyuruhku untuk datang menemuinya bersama mereka berdua

ia berpesan kepada ku untuk mempersiapkan diri dalam menempuh pencarian menemukan bibit mawar

kutunda penguburan diriku sendiri

kelak aku akan kembali kesini dengan membawa sebibit pengetahuan

akan kutanamkan ia sebaik-baiknya.

sampai pada suatu masa, ia lah yang akan menemani ku, bukan mereka berdua

Advertisements

Senja Di Pinggir Ibu Kota

Hitam nyaris menutupi senja di pinggir ibu kota
langit hari ini terlihat tidak biasa
ia memancarkan warna kemerahan bekas hujan
keindahan itu sebentar lagi menghilang ditelan malam
aneh, karena ia sama seperti mu
yang hanya singgah sebentar
namun kehadirannya selalu dapat menyinggungkan senyum di pipi

disela kenikmatan, akan ku coba tuliskan sebait lirik
akan ku coba untuk mengabadikan keindahan yang tinggal sepersekian detik
seperti yang terus-menerus aku lakukan di saat mimpi mu, sekarang, adalah nyata bagi ku
“menghilang”
itu hal yang selalu dilakukan orang-orang bukan?
mencoba untuk mengabadikan bagian kecil dari dirinya sebelum pergi
dengan meninggalkan jejak kaki di tanah

meskipun ketika merah di langit nyaris menghilang
kau akan selalu ku siasati untuk tetap hadir
lewat canda tawa pertanyaan “sederhana” yang kerap kau utarakan
meskipun ketika rona di pipi mu tak bisa lagi dapat ku lihat
memori tentang mu akan selalu ku lindungi
lewat goresan tinta bertuliskan 25 Juli 2016
dan meskipun ketika suara merdu mu tak lagi jelas dapat ku dengar
melodi tentang mu akan selalu melagukan makna penuh arti
lewat lantunan lagu “here, there and everywhere”

(SMB, 15 September 2015)

Di Balik Duduk Ku

angin menyapa tempat dimana ku terduduk
diam-diam ia menggoda ku untuk beranjak
kesejukannya membisikan sebuah perjalanan panjang
tentang kenikmatan sensasi menelusup alam raya

waktunya hanya sesaat
sebelum pada akhirnya ia kembali menghilang dengan begitu saja
tirai panggung nyaris tertutup sempurna
sebelum pada akhirnya ia mengajak ku untuk mengikutinya

aku menolak

ada yang masih ingin kupandang disini
yang selama ini senantiasa tak pernah luput dari ingatan
senyuman manis seorang gadis berambut pendek
karena belum juga bilur-bilur di telapak kaki sembuh

ada yang masih ingin aku kenang disini
kebersamaan serta canda tawa layaknya rumah
yang masih tak dapat ku ingkari kerinduannya untuk dapat pulang
karena belum juga pilu di hati terobati

ada yang masih ingin ku temukan disini
debu jejak kaki yang nyaris menghilang
yang saat ini tak lagi dapat ku ikuti langkahnya
karena belum juga letih ku mencari