refleksi semu 5 buah cermin

terpampang di hadapanku 5 cermin masa silam
tergambar sayup-sayup lirik mendayu penuh tanya

kuhadapkan diriku pada cermin pertama
terlukis foto diri bersama setitik sinar kecil
aku terduduk bersamanya dengan membawa satu tanya
tentang bentuk material dari ilahi
hal yang aku dan dia cari di jalan nan sepi penuh lirih
adakah DIA memberi arti? walau tak sekalipun aku melihatnya berdiri
adakah DIA peduli? walau tak sedetikpun ia datang menampakkan diri
adakah DIA mengasihi? walau sosok suci selalu mengamini
ku tutup gambaran sosok ilahi
hingga tak terasa sudah jam 3 pagi
ku genggam tangannya untuk bangun dari dunia mimpi

cermin ke dua bercerita tentang cinta
hal yang menurutku menjadi esensi dari apa yang disebut dengan hayati
berdua kita menyelami dasar telaga hati
agar aku dan dia berjalan tegap penuh arti
cinta itu berbagi
kukatakan padanya sambil mengelus jari
sesekali kulihat ia tersipu malu
lalu kubelai rambutnya yang sepundak
sambil berkata di dalam diri
engkau akan selalu ku sayangi
hingga tak terasa sudah jam 3 pagi
ku genggam tangannya untuk bangun dari dunia mimpi

cermin ke tiga berisi tentang fantasi
diajaknya ku melayang terbang tinggi
membayangkan sensasi dari ketidakadaan
menikmati mimpi yang seakan jadi kenyataan
pergolakan timbul dari dalam hati
karena ku menyadari keberadaan selalu muncul dari proses ketidakadaan
walaupun begitu aku tetap berlari
menjauh dari alam material yang masih mengikuti
berdua kita tertawa melupakan duniawi
hingga tak terasa sudah jam 3 pagi
ku genggam tangannya untuk bangun dari dunia mimpi

benar salah menjadi tajuk di cermin ke empat
baginya aku adalah kaum skeptis
kebenaran relatif dianggapnya sebagai pesimis
ku bentangkan meja tempat kita mengadu hipotesis
sampai dimana aku dan dia mencapai sebuah premis
ku katakan kebenaran sejati berada dari dalam diri
tak seorang pun yang berhak menjustifikasi
hanyalah dia dan Tuhan yang tahu pasti
tentang hakikat dari kejujuran hati
hingga tak terasa sudah jam 3 pagi
ku genggam tangannya untuk bangun dari dunia mimpi

cermin terakhir bercerita tentang kita
agar kesalahan tinta masa lalu tak ingin terulang kembali
meski tak semua pemikirannya dapat kuraih
kita berdua mencoba mengalir melewati iringan detak nadi
walau terkadang tak kumengerti
yang jelas aku menikmati
setiap canda tawa dari luapan emosi
setiap senyum yang tersinggung di pipi
setiap pelukan dari sang bidadari
hingga tak terasa sudah jam 3 pagi
ku genggam tangannya untuk bangun dari dunia mimpi

mimpi itu kini membangunkan ku
menjauh ku ditarik menuju alam sadar
hingga kini kutersadar bahwa aku sendiri
demi perjalanan yang lebih berarti
demi kasih sayang yang ku lantunkan tanpa henti
dan demi rentang waktu yang terus berulir
untuk itu semua, aku mencari
hingga tak terasa sudah jam 3 pagi
ku seret kaki ku untuk terus melangkah berjalan di dunia yang penuh batas

Pelarian

Melangkah ku pergi meninggalkan semua hal fana yang nyaris membuat ku fana. Dari dalam kota beserta isinya yang mulai menunjukkan keangkuhannya. Mulai dari gedung tinggi yang berdiri tegak dengan sombongnya menutupi cahaya mentari pagi, sampai sosok manusia-manusia yang secara sadar menutup mata batinnya untuk dapat melihat kebobrokan moral mereka sendiri dan lebih memilih untuk tidak peduli. Disini, aku bersembunyi.

Kutinggalkan mereka yang berpikir pasif. Mereka yang mencari keamanan dalam ketidakamanan, kepastiaan dalam ketidakpastian dan keberadaan dari ketidakberadaan. Bahagia ku untuk mereka yang sudah merasa aman. Peluk ku kepada mereka yang melangkah pasti penuh keyakinan dan senyum ku bagi mereka yang sudah berada. Tapi maafkan aku teman, bahagia ku berbeda dengan bahagia mu.

Bahagia ku adalah ketika dapat memanjat tebing menuju kebenaran hakiki dari jurang ketidakamanan. Bahagia ku adalah ketika pada akhirnya aku dapat bernapas menuju permukaan dari pengapnya dasar laut ketidakpastian. Dan bahagia ku adalah ketika pada akhirnya aku dapat terbang melihat dunia luas dari daratan ketidakberadaan yang penuh dengan keterbatasan.

Disini aku bersembunyi. Pada tempat dimana aku tidak perlu mendengarkan keluh kesah problematika kehidupan. Pada tempat dimana aku tak perlu mendengar semua kemunafikan dan pada tempat dimana aku dapat melemparkan beban sejauh-jauhnya menuju garis khatulistiwa.

Ketika sekitarku tak lagi dapat memberikan ketenangan, kepada mereka aku mengadu. Mereka yang diam namun membisikan kedamaian. Mereka yang jujur dan berpenampilan apa adanya dan mereka yang mampu menerima tanpa harus menilai ku terlalu jauh.

Di puncak ini aku berdiri, meninggalkan sejuta kebohongan dari dasar jurang yang terdalam. Di puncak ini aku berlari, meninggalkan semua kenyataan pahit dari garis takdir ku sendiri. Di puncak ini aku menepi, dari semua kelelahan ku menghadapi keangkuhan sosok duniawi. Hingga nanti, sampai mereka dapat mengobati. Dan hingga nanti, sampai mereka menyuruhku untuk pergi.