Kebenaran (part 1)

Saya termasuk salah satu orang yang percaya bahwa tidak ada satu orang pun yang berhak menjustifikasi dirinya bahwa yang dilakukan orang lain adalah benar atau salah. Bahkan seorang pembunuh memiliki alasannya sendiri untuk melakukan pembunuhan, namun segala sesuatu tetap memiliki standard dan prosedurnya masing-masing. Beberapa aspek seperti norma hukum, sosial dan agama memberikan kita batasan untuk dapat melakukan apapun yang kita mau. Intinya bahwa ketiga aspek tersebut melarang kita untuk melakukan sesuatu yang dapat merugikan orang lain. Kontroversi kembali muncul kepermukaan ketika sebuah pertanyaan terngiang di kepala saya bahwa “apakah benar menurut saya akan menjadi benar bagi anda?”

Siapa yang berhak menilai bahwa apa yang dilakukan seseorang adalah benar atau salah? Dirinya sendiri? Sosial? Atau mungkin Tuhan? Sokrates berkata bahwa kebenaran sejati berasal dari dalam diri. Sementara sosial mengklaim bahwa suara terbanyaklah yang berhak menjadi juara. Sedangkan Tuhan menjawab bahwa ikutilah apa yang ada di dalam kitab suci agar engkau selamat dunia dan akhirat.

Apa itu kebenaran sejati? Mengapa yang menjadi benar untuk anda belum tentu benar bagi saya? Mengapa tidak ada suatu acuan secara universal mengenai kebenaran? Sosok kebenaran seperti apa yang anda dan saya cari agar kita dapat menuju kebenaran sejati? Kebenaran itu harga mati, hal itulah yang mengantarkan Sokrates menuju akhir hidupnya ketika ia dinilai sesat oleh banyak orang, eksekusi mati. Kebenaran mudah diputar balikkan, hal itu lah yang membuat Sri Mulyani tersingkir dari panggung kabinet ketika keputusannya dianggap merugikan bangsa dan negara dan kebenaran itu lucu, itulah yang membuat seorang nenek dipenjara hanya karena mencuri 2 buah kakao dari kebun sang pemilik.

Sosial tidak dapat menjawab pertanyaan saya mengenai konsep benar atau salah. Kebenaran dari dalam diri sendiri pun tidak dapat diutamakan karena hanya akan membuat saya menjadi orang yang egois. Apabila Tuhan yang berhak menilai benar dan salah, pertanyaannya adalah benar atau salah yang seperti apa yang Tuhan maksud? Untuk itu saya merasa harus lebih mengenal siapa dan dimana Tuhan saya, surat Al-Baqarah ayat 186 menyatakan bahwa “Aku itu dekat,” surat Al-Qaaf ayat 16 menyatakan bahwa “Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,” beberapa orang menyatakan bahwa “kenali dirimu, maka kau akan mengenal Tuhan mu.” Rangkaian kalimat tersebut ternyata kembali membawa kebenaran sejati ke dalam diri saya sendiri seperti apa yang dikatakan Sokrates.

Hal yang saya pahami sekarang adalah, apabila hanya Tuhan yang berhak menilai masalah benar atau salah dan apabila Tuhan itu dekat dan berada di dalam diri saya, maka saya sendiri berhak untuk menilai bahwa rasio benar atau salah ternyata ada di dalam diri saya. Pertanyaannya, apakah saya sudah mengenal Tuhan saya? Sedekat apa saya mengenal Tuhan saya? Dan apakah saya yakin bahwa keberadaan-Nya memang benar-benar ada di dalam diri saya? Selama saya belum bisa menjawab ketiga hal tersebut, maka saya tidak berhak untuk berkata bahwa benar atau salah datangnya dari diri saya sendiri. Well, long way to go to know My Creator. Lagi-lagi itu hanya dapat di jawab melalui proses yang panjang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s