Mengejar Kebahagiaan

Alkisah, seorang pemuda sedang berkelana dalam pencarian jati dirinya, masa lalu yang kelam membuat ia merasa bahwa kebahagian kerap menjauhi dirinya. ia sedang dalam perjalanan mencari kebahagiaan. Di tengah perjalanan pemuda itu melihat seorang kakek tua yang sedang tersenyum sambil melihat aliran sungai di tepi jalan. Pemuda itu mendekatinya lalu berkata.

“wahai orang tua, apakah yang membuat mu tersenyum hanya dengan melihat aliran sungai?”

kakek itu hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan dengan mengajak pemuda itu untuk duduk disebelahnya.

Setelah duduk di bawah pohon, pemuda itu kembali bertanya.

“Dimanakah rumah mu wahai kakek tua?”

“Aku tinggal dimanapun ku mau.” jawab sang kakek.

“Bagaimana bisa seorang kakek yang tua dapat bertahan hidup tanpa memiliki tempat tinggal.”

“alam menyediakan semua hal yang aku butuhkan.”

“aku tidak mengerti maksudmu.” tanya sang pemuda.

“Ikut bersama ku, maka kau akan tahu makna dari kehidupan yang kau miliki.”

Tanpa banyak pertanyaan lagi sang pemuda mengikuti kakek tersebut berkelana. tidak banyak yang dikatakan sang kakek, yang dilihat sang pemuda hanyalah senyuman sang kakek tua yang tanpa henti ia singgungkan disamping pipinya yang mengkerut karena faktor usia.

Sampai suatu ketika di sebuah padang rumput yang luas, sang pemuda milihat kupu-kupu terbang menghampiri mereka berdua. sang pemuda yang merasa bosan akan perjalanannya lalu mencoba mengejar dan menangkapnya. ia terus berlari dan berusaha keras untuk dapat menangkapnya. ia mengambil kayu dan menebas padang rumput yang tinggi mengikuti alur pelarian kupu-kupu. Terus menerus sampai pada akhirnya ia menyerah dan beristirahat sambil berbaring. Ketika ia sedang terengah-engah mengambil napas ia terkejut ketika kakek tua datang menghapirinya sambil memasang muka marah. Untuk pertama kalinya ia melihat sang kakek merubah ekspresi wajahnya. Matanya yang tajam memandang sinis menembus pandangan sang pemuda.

“wahai kakek tua, mengapa tiba-tiba kau mengubah ekspresi wajahmu? apakah kau marah kepada ku? apakah aku melakukan kesalahan?” tanya sang pemuda.

“apakah seperti itu cara mu untuk mengejar kebahagian? dengan cara berlari tanpa mempedulikan kerusakan yang kau perbuat disekitar mu?” kata kakek tua.

“aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” jawab sang pemuda.

“kebahagiaan itu layaknya seekor kupu-kupu yang sedang kau kejar. ia tak mudah di tangkap namun terkadang ia datang secara tiba-tiba tanpa kita sadari. hanya perasaan kecewa yang akan kau dapatkan apabila kau gagal menangkapnya. Jadi biarkanlah kupu-kupu itu terbang bebas dan menghiasi alam ini, biarkanlah ia datang dan menghampiri kita, karena kebahagiaan itu pada dasarnya dekat, kebahagiaan itu berada di sekitar kita, biarkanlah kebahagiaan itu mengiringi jalan kita tanpa harus terperangkap oleh jaring keegoisan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s