Pencarian Cahaya sang Burung Camar

Alkisah, seekor burung camar sedang dalam perjalanannya untuk mecari cahaya. untuk membantunya mencari cahaya, ia seringkali bertanya pada burung-burung lainnya, tak jarang burung camar terbang bersama burung-burung tersebut, namun karena tujuan mereka tidak sama, burung camar harus berpisah dengan mereka. Suatu ketika seekor burung nuri dengan sayap yang sedang diperban datang menghampiri burung camar.

“hey, hendak kemana kau pergi?” kata burung nuri.

“aku sedang dalam perjalanan mencari cahaya.” jawab burung camar.

“aku dapat mengantarkanmu kesana, kebetulan aku juga dalam perjalanan menuju kesana.” kata burung nuri.

“benarkah? apakah cahaya yang kita tuju benar-benar sama? cahaya yang kucari sangat besar dan mampu menerangi seluruh dunia ku.” burung camar menjawab.

“cahaya yang ku tuju hanya mampu memancarkan setitik sinar kecil, namun percayalah, setitik sinar itu cukup dapat menerangi malam-malam mu.” kata burung nuri

“aku mencari cahaya yang lebih besar, lagipula bagaimana kau dapat menemaniku ketika sayapmu masih terluka?” kata burung camar.

“apabila kau berkenan kita dapat berhenti sementara waktu untuk mengistirahatkan sayapku yang belum pulih.” kata burung nuri.

“maaf aku sedang terburu-buru.” kata burung camar yang lalu pergi begitu saja meninggalkan burung nuri.

Hari terus berlalu namun burung camar belum juga tahu dimana letak cahaya yang ia tuju. Sampai suatu ketika seekor elang memaksanya untuk menghentikan perjalanannya untuk sementara. Beruntung ia dapat selamat walaupun harus mengorbankan sayap sebelah kanannya yang tergigit oleh burung elang. Ketika ia sedang menahan sakit diatas pohon oak burung nuri secara tidak sengaja melihat burung camar. Lalu ia datang menghampirinya.

“hey, apakah kau masih mengingatku?” tanya burung nuri.

“tentu saja aku masih mengingatmu, kau burung nuri yang hendak pergi mencari setitik cahaya kecil.” kata burung camar.

“ada apa dengan sayapmu?” tanya burung nuri.

“seekor elang menerkamku dari belakang tanpa ku ketahui, beruntung aku masih hidup.” kata burung camar.

“mari kubantu untuk mengobati lukamu.” kata burung nuri.

Burung nuri menemani burung camar yang baru saja diobati sambil melewati malam. Perasaan bersalah menyelimuti diri burung camar. ia teringat dulu ketika ia meninggalkan burung nuri disaat sayapnya terluka. Lebih dari itu bahkan sekarang ia mengobati dan menemaninya malam ini.

“maafkan aku karena pergi ketika sayapmu terluka, tidak seharusnya aku pergi meninggalkan mu begitu saja hanya karena jalan kita berbeda.” kata burung camar

“tidak perlu kau pikirkan. lagipula aku masih memiliki keyakinan bahwa cahaya yang kita tuju adalah tempat yang sama dan sekarang aku membutuhkan teman untuk dapat terbang kesana bersama-sama.” kata burung nuri.

“bukankah cahaya yang kau tuju itu berbeda dengan ku?” tanya burung camar.

“apakah kau belum cukup memahami arti dari cahaya yang kau tuju? setitik cahaya kecil dari kejauhan sejatinya adalah cahaya besar yang mampu menyinari seisi dunia mu, kau baru akan menyadarinya ketika kau berada di akhir kegelapan yang selama ini kau lalui. sekarang istirahatkan sayapmu, karena esok hari petualangan baru akan menanti kita berdua.”

burung camar terdiam sambil menyadari betapa bodohnya ia yang pergi mencari sesuatu tanpa mngetahui arti dari apa yang ia cari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s