“Vitruvian Man” an image that define everything

EZT6ryM268Uf1RrmqCFd35VP

Vitruvian Man adalah salah satu masterpiece Leonardo da Vinci selain the last supper dan monalisa yang dibuat pada tahun 1487. Disebut masterpiece karena interpretasi dari karya ini banyak memunculkan pengetahuan baru di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Beberapa ilmuwan memiliki interpretasinya masing-masing mengenai Vitruvian Man. Vituvian Man dibuat oleh Leonardo da Vinci berdasarkan buku ke III karya Ilmuwan terdahulu yaitu Vitruvius, De architectura. Seorang arsitek yang rancangannya banyak mengilhami Leonardo da Vinci dalam membuat rancangan di bidang teknologi militer dan arsitektur. Bidang Ilmu pengetahuan yang diwariskan Leonardo da Vinci dalam Vituvian Man diantaranya adalah seni, geometri, arsitektur, anatomi, matematika dan bahkan filosofi.

Leonardo da Vinci menjelaskan bahwa apabila kita melebarkan kedua kaki, lalu mengangkat tangan kita keatas, maka yang menjadi pusat adalah pusar kita. Namun ilustrasi Vituvian Man yang digambar Leonardo da Vinci dibuat dengan posisi tangan terbuka kesamping agar gambar tersebut menjadi simetris dengan kotak. Secara logika kita dapat menyimpulkan bahwa setelah menggambar bentuk tubuh manusia yang berdiri tegap dengan tangan yang terbuka kesamping, Leonardo da Vinci lalu menggambar kotak sesuai dengan ujung di atas kepala, di bawah kaki dan kedua jari. Lalu ia menggambarkan lingkaran dengan pusar sebagai pusat, setelah itu ia baru membuat posisi kaki dan tangan yang terbuka. Namun dapat dilihat bahwa posisi kotak dan lingkaran tidak simetris, bentuk lingkaran terlihat lebih besar daripada kotak, jarak panjang antara lingkaran dan kotak yang menghasilkan golden rasio pada sisi kotak. Selain itu jarak antara kaki yang terbuka akan membentuk segitiga sama sisi. Masalah tersebut terkait dengan matematika dan geometri.

Menurut Vitruvius, tubuh manusia menghasilkan bahasa dalam ilmu arsitektur, tubuh manusia adalah sumber inspirasi yang sempurna sebagai model karya bangunan klasik. Tubuh manusia dianggap sebagai masterpiece yang sesungguhnya, ditopang dengan fondasi (kaki) yang kuat dengan diberkati Tuhan dengan tangan sebagai penyeimbang tubuh. Vitruvius berpendapat bahwa proporsi dan simetri merupakan faktor yang dianggap mempengaruhi keindahan. Bagian tubuh manusia yang proporsional memiliki simetri diantara bagian-bagiannya. Seperti yang tertera pada penjelasan mengenai Vitruvian Man oleh Leonardo da Vinci bahwa jarak antara kaki yang terbuka akan membentuk segitiga sama sisi, jarak antara siku sampai ujung jari adalah seperempat tinggi manusia, jarak di bawah dagu sampai atas kepala adalah seperdelapan tinggi manusia, dari bawah kaki sampai bawah lutut adalah seperempat tinggi manusia, dsb. Kesimetrisan bagian tubuh manusia yang proporsional mengilhami Vitruvius dan Leonardo da Vinci dalam membuat karya-karya arsitektur klasik. Menurut saya, alasan mengapa kita lebih menikmati bangunan-bangunan kuno dari pada modern adalah karena bentuk bangunan tersebut sejatinya adalah model bentuk tubuh manusia itu sendiri. Apabila saya diizinkan untuk menarik kesimpulan, mungkin menara Eiffel juga terinspirasi dari Vitruvian Man dengan mengambil model tubuh manusia yang membuka kedua kakinya dan menggerakan kedua tangannya di atas kepala sampai membentuk sebuah sudut di kedua jari tangan kanan dan kiri. Bagian tubuh manusia yang proporsional juga menjadi pembelajaran di bidang anatomi yang juga dikuasai oleh Leonardo da Vinci.

Interpretasi lain berpendapat bahwa kotak yang ada pada Vitruvian Man menunjukan bahwa manusia secara langsung terkait dengan dunia fisik yang memiliki 4 sisi berbeda, 4 arah mata angin (utara, selatan, timur dan barat), 4 musim (panas, semi, gugur dan dingin) dan 4 elemen (air, api, tanah dan angin). Bentuk kotak banyak ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Interpretasi lain mengatakan kaitan antara kotak dan lingkaran menunjukan bahwa kotak adalah wujud wujud dari ilmu pengetahuan dan lingkaran adalah wujud dari humanitarian service, dengan menggunakan paradigma imu pengetahuan manusia dapat memahami segala sesuatu yang ada di dunia. Ilmu pengetahuan adalah berada di atas dengan mempertanyakan “bagaimana?” dengan menggunakan dasar humanitarian service dengan mempertanyakan “kenapa?” dua aspek tersebut selalu menemani hidup manusia dalam pencarian jati diri, dalam cakupan yang lebih besar, pertanyaan tersebut nantinya akan menghasilkan sebuah inovasi.

Banyak sekali ilmuwan yang mencoba untuk memahami segala jenis aspek yang masih menjadi misteri dalam sosok Vitruvian Man. Mengenai versi mana yang benar, hanyalah sang kreator dari masterpiece tersebut dan Tuhan yang tahu pasti. “Pertanyaan mengenai versi sejarah mana yang benar hanya dapat dijawab dengan kematian” (Mal’akh, The Lost Symbol : Dan Brown).

“Jika Tuhan adalah seorang ahli matematika dan tubuh manusia yang simetris itu sesuai dengan bentuk ideal Tuhan, apakah manusia bukan merupakan sebuah bentuk refleksi dari kesempurnaan ilahi? Sebuah gambaran skala kecil dari alam semesta yang harmonis dan simetris? Sebuah mikro cosmos dari cosmos yang lebih besar?” Leonardo da Vinci.

The man who wanted to know everything “Leonardo da Vinci”

https://i0.wp.com/www.acikbilim.com/wp-content/uploads/2012/09/Leonardo-Da-Vinci.jpg

Apabila ada seorang ilmuwan yang mampu untuk mengkoneksikan berbagai macam ilmu pengetahuan menjadi satu kesatuan yang berbentuk fisik, Leonardo da Vinci adalah salah satunya. Orang yang mendedikasikan seumur hidupnya di bidang ilmu pengetahuan dan seni ini adalah salah satu orang paling genius yang pernah hidup di muka bumi. Semasa hidupnya, dia tidak hanya mendalami dan mengembangkan satu cabang ilmu saja, namun dia juga tercatat sebagai ahli di bidang anatomi, teknologi, astrologi, arsitektur, seni dan fisika. Teknologi modern yang ada pada saat sekarang tidak terlepas dari rancangan model yang diciptakan olehnya, seperti mobil, mesin uap, helikopter, kapal terbang dan kapal selam.

Dimasa hidupnya, dia menolak pandangan gereja yang pada saat itu tidak memperbolehkan kaumnya untuk belajar dan mengembangkan sains karena ilmu pengetahuan dipandang dan digunakan untuk melegetimasi keyakinan yang didasarkan pada dogma-dogma agama, namun Leonardo da Vinci percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan ciptakan memiliki arti dan makna yang harus terus menerus digali agar seorang manusia dapat menjadi manusia yang seutuhnya, seperti yang dikatakan oleh seorang filsuf pada zaman renaissance, Descartes, cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada).

Teknologi modern banyak mengambil model dari ilmuwan-ilmuwan pada zaman renaissance. Tidak terhitung jumlahnya teknologi yang ditemukan pada zaman tersebut. Pada saat zaman kegelapan, eropa diserang wabah pes yang membunuh sekitar sepertiga bangsa eropa dan dikenal sebagai black death. Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang munculnya zaman renaissance yang banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan terkemuka di dunia. Salah satu cara Tuhan untuk membuat manusia lebih berpikir adalah lewat cobaan yang diberikannya. Tidak dapat dibayangkan apabila manusia-manusia yang hidup pada zaman itu tidak berevolusi menjadi manusia yang berkembang secara intelektual, maka mungkin tidak akan pernah ada teknologi yang bisa kita nikmati pada saat ini.

Leonardo da Vinci bukan hanya sekedar ilmuwan, lebih dari itu dia adalah seorang visioner yang mampu menginovasi suatu hal yang baru walaupun pada saat itu ia dibatasi oleh ketersediaan teknologi. Untuk mengetahui struktur organ dalam manusia, Leonardo da Vinci mencuri mayat orang untuk dianalsis dan dipelajari struktur organ dalamnya. Dia juga senang memperhatikan burung-burung pada saat terbang yang mengilhaminya membuat model pesawat terbang, walaupun bukan dia orang pertama yang mampu melakukan penerbangan sederhana. Ia rela melakukan hal-hal yang tidak pada umumnya dilakukan oleh orang-orang hanya untuk mencari tahu berbagai hal yang ingin ia ketahui. Ia juga menolak pandangan para ahli astrologi sebelumnya yang menilai bahwa bumi adalah pusat tata surya (geosentris), Leonardo da Vinci berpendapat bahwa matahari adalah pusat tata surya dengan bumi dan planet-planet lain yang mengelilingi matahari. Hal ini juga mengilhaminya untuk membuat model kompas yang membantu ekspedisi Christoper Colombus menuju benua Amerika (New World), yang menjadi latar belakang lahirnya zaman kolonialisme.

Meskipun dia menentang ketetapan dari gereja, namun dia bukanlah seseorang yang atheis. Terbukti dari beberapa Masterpiece yang menggambarkan perjamuan terakhir (the last supper) sebelum Yesus disalip atau lukisan terkenal dia yang lain seperti Monalisa. Banyak literature yang mencoba untuk menganalisis dan menginterpretasi kedua lukisan tersebut, mengenai versi sejarah mana yang benar? Tidak ada yang dapat memastikannya. Leonardo da Vinci ingin menciptakan pandangan bahwa agama bukanlah sebuah tembok atau halangan bagi manusia untuk dapat mempelajari hal-hal diluar dari ketetapan agama. Bahwa seorang manusia yang dibekali dengan akal dan pikirian mampu menjelaskan beberapa kejadian dengan perhitungan yang logis bukan mistis. Bahwa inovasi adalah salah satu jalan menuju revolusi bukan distorsi, dan bahwa sains adalah suatu hal yang harus dikembangkan bukan diacuhkan. Leonardo da Vinci tidak hanya seseorang yang mampu mendobrak nalar pemikirian orang-orang pada umumnya, lebih dari itu dia adalah seseorang yang mampu mengaplikasikan ide-ide brilian kedalam bentuk fisik yang mampu dipercaya oleh orang-orang awam pada saat itu. Seisi dunia patut berterima kasih atas warisan-warisan yang telah ditinggalkannya

“The noblest pleasure is the joy of understanding.” (Leonardo da Vinci)