Sekilas Dibalik Foto “Vulture Stalking a Child”

Apakah anda tertarik dengan dunia fotografi dan jurnalistik? Kalau anda menyukai kedua hal tersebut salah satu profesi yang cocok untuk anda adalah menjadi seorang jurnalis foto. Jurnalis foto ditugaskan untuk memfoto situasi yang sedang terjadi tentang hal yang ingin dia liput. Ternyata foto-foto yang ditampilkan didalam sebuah berita tidak hanya asal “ngejepret” aja. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan agar foto tersebut layak untuk dijadikan sebuah deskripsi tentang berita yang ingin anda liput. Dalam buku serial photo journalistic yang diterbitkan oleh Time Life, dikatakan bahwa sebuah foto yang layak ditampilkan untuk menjadi deskripsi sebuah berita adalah harus menceritakan sesuatu yang akan membuat orang lain memberikan feed back dan bertindak. Berbicara tentang jurnalis foto, saya jadi teringat kisah hidup seorang jurnalis foto yang berhasil merubah tidak hanya kehidupan pribadinya, namun kehidupan orang banyak.

title of the picture : vulture stalking a child
title of the picture : vulture stalking a child

Foto tersebut diambil oleh seorang jurnalis foto yang berasal dari Afrika Selatan bernama Kevin Carter. Ia lahir pada tanggal 13 September 1960. Pada tahun 1993 ia bertugas di Sudan untuk meliput berita tentang situasi negara Sudan yang pada saat itu sedang dilanda badai kelaparan. Sampai pada suatu ketika ia melihat seorang anak yang sedang menghadapi situasi antara hidup dan mati. Dibelakang anak tersebut burung pemakan bangkai sedang berdiri seakan-akan menanti anak tersebut mati. Burung tersebut sedang menanti makanannya untuk disantap. Sungguh Ironis. Foto itu memenangkan Pulitzer Prizes setahun setalah foto tersebut diambil. Pulitzer Prizes adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada seluruh jurnalis foto di dunia atas dedikasi yang mereka berikan dalam bidang jurnalistik, foto yang berhasil memenangi Pulitzer Prizes biasanya bertemakan tentang “humanity” dan mampu memberikan feed back terhadap pembaca (menarik untuk dibahas, mungkin nanti saya akan membahas lebih jauh mengenai Pulitzer Prizes.) Foto tersebut lalu muncul untuk pertama kali 26 Maret 1993 di media cetak Amerika bernama New York Times. Foto tersebut membuat seluruh dunia terdiam, tercengang atas apa yang sebenarnya terjadi di negara Sudan pada khususnya dan negara-negara di benua Afrika pada umumnya. Dukungan dan bantuan semakin banyak datang dari berbagagi macam organisasi yang ada dunia, Kevin Carter tidak pernah menyangka bahwa foto tersebut akan membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan orang-orang yang ada di Afrika. Bantuan dan dukungan memang datang ke berbagai negara miskin di Afrika, namun tidak untuk anak yang berada di dalam foto tersebut. Banyak versi cerita mengenai apa yang terjadi pada anak tersebut. Sebagian mengatakan bahwa anak itu mati beberapa saat setelah foto tersebut diambil dan Kevin Carter memilih untuk tidak membawa anak tersebut ke kamp karena ia takut tertular penyakit. Sumber lain mengatakan bahwa ia mengusir burung pemakan bangkai tersebut dan menyuruh relawan dari PBB untuk membawa anak itu ke kamp. Apapun yang terjadi -tanpa mempedulikan mana cerita yang benar atau salah- tiga bulan setelah ia memenangkan Pulitzer Prizes, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Ia ditemukan tewas akibat keracunan karbon monoksida secara sengaja. Sebelum memutuskan untuk bunuh diri, ia meninggalkan pesan terakhir, yaitu :

 “I’m really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist… depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money!!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners … I have gone to join Ken if i am that lucky”

 Kevin Carter terlihat depresi atas apa yang selama ini ia lihat, ia dihantui oleh kenangan melihat tumpukan mayat-mayat, anak-anak yang kelaparan atau terluka dan orang-orang gila yang terlihat sangat menikmati kegilaan yang dialaminya. Sungguh ironis, mungkin Kevin Carter mampu merubah dunia kearah yang lebih baik, namun sayangnya ia tidak mampu untuk merubah dunianya sendiri. Kisah hidup Kevin Carter di jadikan sebuah film berjudul The Death of Kevin Carter: Casualty of the Bang Bang Club yang dirilis pada tahun 2004. To be honest, i haven’t seen it yet. Saya baru mengetahui hal tersebut pada saat saya menulis cerita ini, padahal saya tahun tentang foto itu sejak tahun 2009, so dumb!! Kevin Carter akan tetap dikenang sebagai seorang jurnalis foto yang mampunmendeskripsikan sebuah fakta tentang apa yang terjadi dan berhasil membuat feed back kepada orang yang membacanya hanya dengan sebuah foto.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s