Look at closer, then u’ll understand

Salah satu hal yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya adalah bahwa Tuhan memberikan kita 2 pilihan dalam berpikir, yaitu menggunakan perasaan dan logika. Banyak yang berkata bahwa kebanyakan laki-laki berpikir lebih sering menggunakan logika daripada perasaannya, sementara perempuan kebalikannya. Hal tersebut menjadi wajar karena mulai dari kecil seorang perempuan secara tidak langsung dituntut oleh kedua orang tuanya untuk bersikap santun, lembut, dsb. Sebagai contoh seorang anak perempuan pasti dilarang oleh orang tuanya untuk memanjat pohon. Alasan pertama sudah pasti karena orang tuanya takut apabila anak tersebut jatuh, alasan kedua mungkin karena orang tuanya menilai bahwa hal tersebut tidak pantas untuk dilakukan oleh anak perempuan. Anak laki-laki lebih disodorkan permainan yang menguras tenaga, seperti sepak bola dan petak jongkong misalnya yang lebih membutuhkan pemakaian logika untuk dapat menang atau bertahan. Sementara itu anak perempuan lebih disodorkan permainan yang mengutamakan perasaannya seperti masak-masakan, bermain boneka, dll. Stereotype seperti inilah yang terjadi pada masyarakat kita. Hal yang dibentuk mulai dari anak-anak sampai remaja membuat laki-laki dan perempuan berbeda dalam menentukan keputusan dalam memilih apakah mereka harus menggunakan perasaan atau logika dalam mengambil keputusan.

Beberapa orang berpendapat bahwa logika diatas segalanya, karena penggunaan logika akan menghasilkan “Win Win Solution” dalam berbagai hal. Intinya sih gk mau rugi. Tidak sedikit pula orang yang menilai bahwa penggunaan perasaan harus lebih diutamakan karena dengan begitu kita dapat belajar untuk mengikhlaskan sesuatu dan menerima apapun keputusannya dengan lapang dada. Menurut saya semua hal itu tidak salah. Semua itu tergantung dari seperti apa permasalahan yang kita hadapi. Permasalahannya justru terletak pada sedekat apa kita melihat permasalahan tersebut. Sebuah hal kecil yang sering terlupakan oleh kita semua dalam menentukan pengguanaan logika dan perasaan. Ya, kurangnya pemahaman kita.

Contoh kasus, anda semua pasti pernah melihat seorang anak kecil yang berusia antara 5 sampai 7 tahun mencari uang dengan cara mengemis, entah itu di lampu merah, dari angkot ke angkot ataupun dari rumah ke rumah. Hal pertama yang terlintas dibenak anda adalah mungkin rasa iba terhadap ketidakberuntungan anak-anak tersebut. Tidak seharusnya anak seusia itu harus memikul beban berat hanya untuk sesuap nasi. Setelah itu adjudgement yang anda ambil tentu saja memberikan mereka uang. Bandingkan dengan pedagang asongan keliling yang menjual permen atau rokok yang ada di pinggir lampu merah atau bis-bis kota. Relakah anda memberikan kembalian anda untuk mereka apabila anda membeli dagangan mereka? Mari kita berestimasi agar kita semua tahu mana yang lebih worth it untuk kita bantu. Pengemis tidak membutuhkan modal apapun dalam menghasilkan uang, yang mereka perlukan hanya wajah memelas untuk dapat menarik perhatian. Berbeda dengan pedagang asongan yang membutuhkan modal untuk dapat berdagang. Tidak banyak keuntungan yang mereka ambil. Mereka mengambil tidak lebih dari 300 rupiah dari sebatang rokok yang berharga 1000 rupiah. Mungkin anda pernah melihat pemberitaan di televisi tentang pengemis yang memiliki penghasilan 5jt sebulan, atau berita mengenai pengemis yang naik haji, atau mungkin pengemis yang memiliki rumah yang bagus. Pernahkah anda mendengar pemberitaan yang sama tentang pedagang asongan keliling? Hal seperti itu terdengar tidak adil bagi saya pribadi ketika kerja keras seseorang tidak lebih dihargai daripada seorang pengemis. Hal itu membuat saya antipati tehadap pengemis dan mulai untuk menyamaratakan mereka semua sebagai orang yang tidak mau berusaha untuk mendapatkan sesuatu (walaupun saya tahu sebagian dari mereka tidak dapat bekerja karena kondisi fisik mereka yang tidak memungkinkan, mohon maaf, cacat fisik misalnya.) Hal tersebut juga yang membuat saya lebih menghargai para pengamen-pengamen walaupun saya tahu sebagian dari mereka mungkin akan memakai uang tersebut untuk membeli minuman keras. Saya pribadi lebih memilih untuk menghargai usaha mereka dalam mencari uang, walaupun itu hanya bermodalkan tepuk tangan dan suara yang mungkin annoying.

 Saya lebih memilih untuk menggunakan logika saya dalam menanggapi masalah ini. Sebagian dari anda mungkin berpikir bahwa tidak seharusnya saya menyamaratakan pengemis. Namun, saya pernah mendengar cerita tentang seorang nenek yang tidak memiliki kaki bekerja sebagai pembersih WC di stasiun, di negara China. I mean, there must be something they can do even in their own condition, in order to survive. Saya hanya membayangkan seberapa bersihnya kota Jakarta beserta kali-kalinya apabila mereka dijadikan petugas kebersihan. Pemerintah kota Bandung sedang mengupayakan hal ini dan apakah anda tahu jawaban dari mereka para pengemis? “ya jelas gak mau, paling gede gajinya cuma 2jt, saya ngemis perbulan bisa dapet 5jt.” Miris ya? Saya miris bukan karena mereka tidak mau jadi petugas kebersihan, tapi karena, they lose their will to survive. Seakan-akan mereka mati apabila mereka tidak mengemis. Seakan-akan mereka sudah memasrahkan diri mereka kepada hidup tanpa dapat melakukan usaha apapun untuk dapat merubah nasib. Mereka sudah jauh kalah lebih dulu sebelum berperang. Semangat untuk hidup sudah meninggalkan mereka disaat mereka memulai untuk menadahkan tangan mereka. Hal itulah yang saya pahami dari permasalahan ini and i’ve made up my mind, how about you? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s