Kontribusi hati antara perasaan dan logika

Terkadang saya bertanya mengapa Tuhan selalu menghadapkan kita kepada 2 pilihan yang sangat berbeda namun berdampingan dan tidak dapat dipisahkan. Seperti misalnya, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan, kanan dan  kiri, langit dan bumi, surga dan neraka, baik dan buruk, dan salah satu hal yang paling menjadi esensi kita sebagai manusia adalah perasaan dan logika.

Dari sekian banyak hal tersebut, ada titik tengah yang acap kali terlupakan oleh kita (walaupun tidak semua aspek memiliki titik tengah). seperti uang logam, pada sisi kanan dan kiri uang tersebut terdapat 1 sisi tengah.Seperti misalnya, diantara hitam dan putih terdapat warna abu-abu. Begitu pula perasaan dan logika. Kedua hal tersebut hanya terpisahkan oleh seutas benang bernama hati.

Berpikir dengan Menggunakan Logika, Perasaan dan Hati

Istilah ‘hati’ sering sekali dipakai dan didampingkan dengan ‘logika’. Padahal, menurut saya, ‘hati’ bukanlah hal yang patut untuk disetarakan dengan ‘logika’, karena dimensi ‘hati’ justru berada ditengah-tengah antara ‘perasaan’ dan ‘logika’.

Terdapat dua unsur yang menjadi faktor utama dalam proses dengan menggunakan ‘logika’, ‘perasaan’ maupun ‘hati’. Yakni adanya faktor variabel (ketentuan) dan kemanusiaan. Perbedaan porsi terhadap kedua faktor tersebut sangat menentukan apakah kita akan menggunakan ‘logika’, ‘perasaan’ ataupun ‘hati’ dalam merespon setiap kejadian yang ada di sekeliling kita.

Ketiganya akan menghasilkan output yang berasal merupakan proses dari pemikiran otak manusia. Otak merupakan sebuah media yang merespon pengalaman yang kita alami.

Logika

Faktor utama dari output yang dihasilkan ‘logika’ didasarkan pada variabel yang sifatnya pasti ataupun kelaziman. Beberapa orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, mungkin tidak akan memercayai keberadaan Tuhan. Dalam hal ini misalnya seorang ilmuwan fisika yang terbiasa mengalami proses pembuktian dari setiap kejadian. Pengalaman yang mereka alami lebih sering mengutamakan fakta yang didasarkan pada teori logis yang dapat diterima akal sehat oleh orang-orang pada umumnya. Teori logis tersebut mengandung  variabel yang pasti. Tidak adanya variabel yang pasti membuat mereka sangsi terhadap keberadaan Tuhan.

Faktor kemanusiaan bukan menjadi hal yang paling signifikan dalam output dari proses pemikiran dengan menggunakan ‘logika’. Orang yang lebih mengutamakan untuk memilih proses dengan ‘logika’ biasanya menghiraukan emotional feeling. Misalnya, seseorang yang pada awalnya simpati akan berubah menjadi antipati apabila mengetahui bahwa kehidupan seorang pengemis ternyata tidak tidak benar-benar miskin. Ada variabel pasti yang menjadi dasar dalam proses ketika memilih untuk menggunakan ‘logika’ sehingga membuat output orang tersebut berubah 180 derajat. Bahkan, dirinya mungkin akan menggeneralisir pemikirannya kepada seluruh pengemis.

Perasaan

Output dari ‘perasaan’ biasanya merujuk pada hal-hal yang bersifat kemanusiaan dengan menghiraukan variabel atau ketentuan. Menggunakan proses ‘peraasaan’ juga menembus dimensi akal pikiran manusia yang didasari pada rasa empati. Ikut merasakan suatu hal yang dirasakan oleh orang lain kendati kita tidak pernah mengalami hal tersebut. Misalnya, turut merasakan kesedihan teman yang ditinggal mati oleh orang yang dicintainya.

Hati

Sedangkan output dari ‘hati’ merupakan sebuah pertimbangan yang prosesnya melibatkan dua faktor, yakni variabel dan pengalaman. Langsung saja bearlanjut kepada contoh kasus untuk lebih mempermudah penjelasan mengenai hal ini.

Contoh Kasus

S mencuri ayam millik N. Lalu, N melaporkan S ke polisi. Ternyata dalam perjalanan kasusnya (misalnya), S diharuskan untuk melalui proses persidangan. Setelah disidang dan mendapat putusan hakim, N dinyatakan bersalah dan divonis 1 bulan penjara.

Apabila kita menggunakan ‘perasaan’ mungkin banyak dari kita yang berpikir bahwa tidak perlu untuk menghukum S, karena mencuri ayam hanyalah masalah kecil. Pada saat itu lah ‘perasaan’ mengambil alih kontrol otak, yang lalu direspon dan menghasilkan output sebuah ‘rasa’ simpati. Hal tersebut, juga tidak terlepas dari rasa empati seseorang.

Beberapa orang tidak dapat membenarkan hal tersebut. Pihak yang dirugikan oleh perbuatan itu bisa jadi menginginkan orang tersebut untuk dihukum karena adanya variabel berupa hukum yang mengatur mengenai hal itu. Penalaran logikanya mengatakan bahwa orang yang salah itu harus diberi hukuman atau ganjaran.

Adanya pihak berwajib dan institusi hukum lainnya yang ada di dunia ini membuktikan bahwa kita manusia masih memiliki hati nurani untuk dapat mempertimbangkan kesalahan seseorang. Hati nurani adalah titik tengah antara perasaan dan logika.

Hati nurani yang dalam hal ini adalah institusi hukum memiliki sebuah prosedur dan proses untuk dapat menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak, karena itu pada saat vonis diputuskan, seorang hakim berkata “setelah menimbang, mengingat, memperhatikan,…” selain itu pihak yang bersalahpun diberikan kesempatan untuk menggunakan pengacara yang berguna untuk meringankan hukumannya. Perasaan dan logika itu bagai timbangan dengan hati sebagai penyeimbang diantara keduanya. Dua hal tersebut memang tidak dapat dipisahkan namun penggunaan hati nurani dapat menuntun kita untuk memilih jalan tengah agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

imagesKesalahan adjudgment antara pemilihan perasaan dan logika dapat memberikan efek yang buruk bagi kita, hal itu akan menjadi lebih buruk apabila kita tidak melibatkan hati nurani kita dapat berpikir dan mengambil keputusan. Saya jadi teringat cerita sahabat saya yang menangis setiap ia diberi nasehat oleh ibunya. Itu terjadi karena ia lupa atau bahkan mengabaikan hati nuraninya. Ia lebih menggunakan perasaaannya dalam mencerna kata-kata dari ibunya. Hal yang seharusnya terjadi setelah ia dinasehati adalah berbincang-bincang dan menimbang-nimbang nasehat tersebut dengan hati kita sendiri, dengan begitu ia tahu bahwa tidak seharusnya ia menangis pada saat dinasehati orang tua. tidak seharusnya ia memasukan perkataan orang tuanya kedalam perasaannya, karena nasehat akan menjadi suatu hal yang berharga apabila kita menerima dan memasukannya ke dalam logika.

Kondisi hati yang bersih, netral dan damai harus tetap terjaga agar kita tepat dalam mengambil keputusan dalam menggunakan perasaan atau logika. Hal yang mungkin terjadi apabila hati tidak bersih, tidak netral dan tidak dalam kondisi yang damai adalah adanya pihak yang terluka. Pemberian waktu dalam menentukan pilihan terdengar lebih bijak agar kondisi hati kita bersih dan netral. Karena hati yang bersih akan menentukan pilihannya karena suara hati itu jujur, hati yang netral akan memberikan kemenangan untuk semua pihak dan hati yang damai akan mendamaikan semua orang. Semua yang saya katakan mungkin terlihat klise, namun berilah hati sedikit ruang untuk bernafas apabila perasaan dan logika menghimpit, berilah hati sedikit pandangan untuk melihat kedepan apabila keberadaannya mulai ditutupi oleh asap perasaan dan logika, dan berilah hati sedikit waktu untuk berada dalam kondisi yang damai. Karena pada akhirnya hatilah yang akan menentukan pilihan.

Advertisements

Sekilas Dibalik Foto “Vulture Stalking a Child”

Apakah anda tertarik dengan dunia fotografi dan jurnalistik? Kalau anda menyukai kedua hal tersebut salah satu profesi yang cocok untuk anda adalah menjadi seorang jurnalis foto. Jurnalis foto ditugaskan untuk memfoto situasi yang sedang terjadi tentang hal yang ingin dia liput. Ternyata foto-foto yang ditampilkan didalam sebuah berita tidak hanya asal “ngejepret” aja. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan agar foto tersebut layak untuk dijadikan sebuah deskripsi tentang berita yang ingin anda liput. Dalam buku serial photo journalistic yang diterbitkan oleh Time Life, dikatakan bahwa sebuah foto yang layak ditampilkan untuk menjadi deskripsi sebuah berita adalah harus menceritakan sesuatu yang akan membuat orang lain memberikan feed back dan bertindak. Berbicara tentang jurnalis foto, saya jadi teringat kisah hidup seorang jurnalis foto yang berhasil merubah tidak hanya kehidupan pribadinya, namun kehidupan orang banyak.

title of the picture : vulture stalking a child
title of the picture : vulture stalking a child

Foto tersebut diambil oleh seorang jurnalis foto yang berasal dari Afrika Selatan bernama Kevin Carter. Ia lahir pada tanggal 13 September 1960. Pada tahun 1993 ia bertugas di Sudan untuk meliput berita tentang situasi negara Sudan yang pada saat itu sedang dilanda badai kelaparan. Sampai pada suatu ketika ia melihat seorang anak yang sedang menghadapi situasi antara hidup dan mati. Dibelakang anak tersebut burung pemakan bangkai sedang berdiri seakan-akan menanti anak tersebut mati. Burung tersebut sedang menanti makanannya untuk disantap. Sungguh Ironis. Foto itu memenangkan Pulitzer Prizes setahun setalah foto tersebut diambil. Pulitzer Prizes adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada seluruh jurnalis foto di dunia atas dedikasi yang mereka berikan dalam bidang jurnalistik, foto yang berhasil memenangi Pulitzer Prizes biasanya bertemakan tentang “humanity” dan mampu memberikan feed back terhadap pembaca (menarik untuk dibahas, mungkin nanti saya akan membahas lebih jauh mengenai Pulitzer Prizes.) Foto tersebut lalu muncul untuk pertama kali 26 Maret 1993 di media cetak Amerika bernama New York Times. Foto tersebut membuat seluruh dunia terdiam, tercengang atas apa yang sebenarnya terjadi di negara Sudan pada khususnya dan negara-negara di benua Afrika pada umumnya. Dukungan dan bantuan semakin banyak datang dari berbagagi macam organisasi yang ada dunia, Kevin Carter tidak pernah menyangka bahwa foto tersebut akan membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan orang-orang yang ada di Afrika. Bantuan dan dukungan memang datang ke berbagai negara miskin di Afrika, namun tidak untuk anak yang berada di dalam foto tersebut. Banyak versi cerita mengenai apa yang terjadi pada anak tersebut. Sebagian mengatakan bahwa anak itu mati beberapa saat setelah foto tersebut diambil dan Kevin Carter memilih untuk tidak membawa anak tersebut ke kamp karena ia takut tertular penyakit. Sumber lain mengatakan bahwa ia mengusir burung pemakan bangkai tersebut dan menyuruh relawan dari PBB untuk membawa anak itu ke kamp. Apapun yang terjadi -tanpa mempedulikan mana cerita yang benar atau salah- tiga bulan setelah ia memenangkan Pulitzer Prizes, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Ia ditemukan tewas akibat keracunan karbon monoksida secara sengaja. Sebelum memutuskan untuk bunuh diri, ia meninggalkan pesan terakhir, yaitu :

 “I’m really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist… depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money!!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners … I have gone to join Ken if i am that lucky”

 Kevin Carter terlihat depresi atas apa yang selama ini ia lihat, ia dihantui oleh kenangan melihat tumpukan mayat-mayat, anak-anak yang kelaparan atau terluka dan orang-orang gila yang terlihat sangat menikmati kegilaan yang dialaminya. Sungguh ironis, mungkin Kevin Carter mampu merubah dunia kearah yang lebih baik, namun sayangnya ia tidak mampu untuk merubah dunianya sendiri. Kisah hidup Kevin Carter di jadikan sebuah film berjudul The Death of Kevin Carter: Casualty of the Bang Bang Club yang dirilis pada tahun 2004. To be honest, i haven’t seen it yet. Saya baru mengetahui hal tersebut pada saat saya menulis cerita ini, padahal saya tahun tentang foto itu sejak tahun 2009, so dumb!! Kevin Carter akan tetap dikenang sebagai seorang jurnalis foto yang mampunmendeskripsikan sebuah fakta tentang apa yang terjadi dan berhasil membuat feed back kepada orang yang membacanya hanya dengan sebuah foto.

Look at closer, then u’ll understand

Salah satu hal yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya adalah bahwa Tuhan memberikan kita 2 pilihan dalam berpikir, yaitu menggunakan perasaan dan logika. Banyak yang berkata bahwa kebanyakan laki-laki berpikir lebih sering menggunakan logika daripada perasaannya, sementara perempuan kebalikannya. Hal tersebut menjadi wajar karena mulai dari kecil seorang perempuan secara tidak langsung dituntut oleh kedua orang tuanya untuk bersikap santun, lembut, dsb. Sebagai contoh seorang anak perempuan pasti dilarang oleh orang tuanya untuk memanjat pohon. Alasan pertama sudah pasti karena orang tuanya takut apabila anak tersebut jatuh, alasan kedua mungkin karena orang tuanya menilai bahwa hal tersebut tidak pantas untuk dilakukan oleh anak perempuan. Anak laki-laki lebih disodorkan permainan yang menguras tenaga, seperti sepak bola dan petak jongkong misalnya yang lebih membutuhkan pemakaian logika untuk dapat menang atau bertahan. Sementara itu anak perempuan lebih disodorkan permainan yang mengutamakan perasaannya seperti masak-masakan, bermain boneka, dll. Stereotype seperti inilah yang terjadi pada masyarakat kita. Hal yang dibentuk mulai dari anak-anak sampai remaja membuat laki-laki dan perempuan berbeda dalam menentukan keputusan dalam memilih apakah mereka harus menggunakan perasaan atau logika dalam mengambil keputusan.

Beberapa orang berpendapat bahwa logika diatas segalanya, karena penggunaan logika akan menghasilkan “Win Win Solution” dalam berbagai hal. Intinya sih gk mau rugi. Tidak sedikit pula orang yang menilai bahwa penggunaan perasaan harus lebih diutamakan karena dengan begitu kita dapat belajar untuk mengikhlaskan sesuatu dan menerima apapun keputusannya dengan lapang dada. Menurut saya semua hal itu tidak salah. Semua itu tergantung dari seperti apa permasalahan yang kita hadapi. Permasalahannya justru terletak pada sedekat apa kita melihat permasalahan tersebut. Sebuah hal kecil yang sering terlupakan oleh kita semua dalam menentukan pengguanaan logika dan perasaan. Ya, kurangnya pemahaman kita.

Contoh kasus, anda semua pasti pernah melihat seorang anak kecil yang berusia antara 5 sampai 7 tahun mencari uang dengan cara mengemis, entah itu di lampu merah, dari angkot ke angkot ataupun dari rumah ke rumah. Hal pertama yang terlintas dibenak anda adalah mungkin rasa iba terhadap ketidakberuntungan anak-anak tersebut. Tidak seharusnya anak seusia itu harus memikul beban berat hanya untuk sesuap nasi. Setelah itu adjudgement yang anda ambil tentu saja memberikan mereka uang. Bandingkan dengan pedagang asongan keliling yang menjual permen atau rokok yang ada di pinggir lampu merah atau bis-bis kota. Relakah anda memberikan kembalian anda untuk mereka apabila anda membeli dagangan mereka? Mari kita berestimasi agar kita semua tahu mana yang lebih worth it untuk kita bantu. Pengemis tidak membutuhkan modal apapun dalam menghasilkan uang, yang mereka perlukan hanya wajah memelas untuk dapat menarik perhatian. Berbeda dengan pedagang asongan yang membutuhkan modal untuk dapat berdagang. Tidak banyak keuntungan yang mereka ambil. Mereka mengambil tidak lebih dari 300 rupiah dari sebatang rokok yang berharga 1000 rupiah. Mungkin anda pernah melihat pemberitaan di televisi tentang pengemis yang memiliki penghasilan 5jt sebulan, atau berita mengenai pengemis yang naik haji, atau mungkin pengemis yang memiliki rumah yang bagus. Pernahkah anda mendengar pemberitaan yang sama tentang pedagang asongan keliling? Hal seperti itu terdengar tidak adil bagi saya pribadi ketika kerja keras seseorang tidak lebih dihargai daripada seorang pengemis. Hal itu membuat saya antipati tehadap pengemis dan mulai untuk menyamaratakan mereka semua sebagai orang yang tidak mau berusaha untuk mendapatkan sesuatu (walaupun saya tahu sebagian dari mereka tidak dapat bekerja karena kondisi fisik mereka yang tidak memungkinkan, mohon maaf, cacat fisik misalnya.) Hal tersebut juga yang membuat saya lebih menghargai para pengamen-pengamen walaupun saya tahu sebagian dari mereka mungkin akan memakai uang tersebut untuk membeli minuman keras. Saya pribadi lebih memilih untuk menghargai usaha mereka dalam mencari uang, walaupun itu hanya bermodalkan tepuk tangan dan suara yang mungkin annoying.

 Saya lebih memilih untuk menggunakan logika saya dalam menanggapi masalah ini. Sebagian dari anda mungkin berpikir bahwa tidak seharusnya saya menyamaratakan pengemis. Namun, saya pernah mendengar cerita tentang seorang nenek yang tidak memiliki kaki bekerja sebagai pembersih WC di stasiun, di negara China. I mean, there must be something they can do even in their own condition, in order to survive. Saya hanya membayangkan seberapa bersihnya kota Jakarta beserta kali-kalinya apabila mereka dijadikan petugas kebersihan. Pemerintah kota Bandung sedang mengupayakan hal ini dan apakah anda tahu jawaban dari mereka para pengemis? “ya jelas gak mau, paling gede gajinya cuma 2jt, saya ngemis perbulan bisa dapet 5jt.” Miris ya? Saya miris bukan karena mereka tidak mau jadi petugas kebersihan, tapi karena, they lose their will to survive. Seakan-akan mereka mati apabila mereka tidak mengemis. Seakan-akan mereka sudah memasrahkan diri mereka kepada hidup tanpa dapat melakukan usaha apapun untuk dapat merubah nasib. Mereka sudah jauh kalah lebih dulu sebelum berperang. Semangat untuk hidup sudah meninggalkan mereka disaat mereka memulai untuk menadahkan tangan mereka. Hal itulah yang saya pahami dari permasalahan ini and i’ve made up my mind, how about you? 🙂

Bigger than you think, better than you know

Hallo, selamat datang di blog seorang “blogger amatir” yang baru-baru ini mulai kecanduan menulis blog. Jujur saya kebingungan untuk memberi nama di blog saya. Pada awalnya, tempat ini akan saya jadikan tempat pelampiasan ide-ide saya. Saya akan mencoba untuk menulis apapun disini. Sampai akhirnya terlintas dibenak saya sepenggal kata bijak dari seorang filsuf bernama plato yang mengatakan bahwa “ideas are the source of all things” yang artinya adalah gagasan/ide adalah sumber dari segala hal. hal tersebut tidak terlepas dari apa yang dirumuskan olehnya mengenai “dunia ide.” Menurut Plato, ide-ide harus memiliki karakteristik tertentu dan menurutnya ide-ide adalah abadi, eternal, tidak bermula dan berakhir, tidak berubah karena ruang dan waktu, ide-ide akan tetap ada dan kekal, sebagaimana adanya. Hakikat ide-ide tidak dapat dicapai melalui indra, ide-ide hanya dapat diketahui melalui fakultas rasio yang menyadarinya. Apapun dapat anda realisasikan melalui dunia ide. Sebuah dunia yang tidak memiliki limitation. sebuah dunia yang dapat membuat anda menjadi apapun yang anda inginkan. Ide yang berada didalam dunia ide bersifat abadi. Begitu luar biasanya Tuhan menganugerahkan kita sebuah otak yang dirancang khusus tidak hanya untuk berpikir, namun lebih dari itu otak adalah tempat dimana kita semua dapat berimajinasi dan bermain-main dengan ide-ide yang kita miliki. Begitu luar biasanya dunia ide bagi kita umat manusia karena dari situlah semua penemu mulai berimajinasi dan mengaplikasikan ide-ide yang dimilikinya menjadi sebuah penemuan yang nyata.

 Kita sebagai manusia memiliki batasan waktu untuk hidup, begitu juga semua hal yang  bernyawa, namun hal tersebut tidak berlaku didalam dunia ide yang kekal karena sifatnya yang tidak memilki limitation. Manusia boleh mati, namun ide-ide yang ada didalam dunia ide akan selalu diteruskan oleh orang-orang yang memiliki ide yang serupa seperti manusia tersebut. Seperti sosok Jhon Lennon yang selalu mengusung ide “humanity.” Apakah setelah ia tiada ide “humanity” mati begitu saja? Tentu saja tidak. Karena menurut Plato ide-ide dapat masuk ke dalam tubuh dan keluar kembali ketika manusia mati. Ide tentang “humanity” akan tumbuh kembali pada sosok lain yang berani untuk mengaplikasikan ide tersebut di dalam dunia nyata.

Tempat ini seperti tempat peristirahatan sementara bagi saya yang letih setelah bermain-main di dalam dunia ide. Waktu istirahat akan menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan setelah lelah dengan rutinitas yang ada. Saya harap kesenangan yang saya dapatkan ditempat ini membuat saya lebih giat lagi bekerja di dalam dunia ide yang mudah-mudahan akan memberikan anda sebuah pemahaman baru dan tentu saja bermanfaat tidak hanya untuk saya pribadi tapi juga untuk anda.