Pertapa dan Penjahat

Pengalamannya miskin memaknai arti kebahagian. Alih-alih mengedepankan kalimat ‘semua orang berhak bahagia’, banyak orang yang justru malah tersakiti. Tak banyak hal yang ia mengerti, sedikit pula yang ia pahami. Naif diri melegitimasi sikap yang berujung kesalahan.

“Maaf kan aku,” kata Nabil berbisik dalam hati

Meski begitu, ia tak bohong ketika mengatakan hal itu. Setiap insan berhak merasakannya, pun mereka juga berhak mencaci, dua pasang manusia yang terbuai oleh dosa dan hasrat ingin saling memiliki.

“Sekali lagi, maafkan aku, karena bahagia memang tak sesederhana itu,” katanya sekali lagi.

Ia menghabiskan waktu kembali seperti dulu. Membaca banyak literasi mengenai realitas hidup yang semakin abstrak dan kerap disalahartikan (salah menurut dirinya sendiri), duduk sendiri di sudut kursi panjang kedai minuman favoritnya, sambil melihat orang-orang yang silih berganti lewat di depannya. Mencoba memahami arti arti keramaian melalui kesunyian hatinya.

Tak bisa ia menyalahkan garis takdir. Meski ia selalu bertanya ‘adakah kebahagiaan bisa ia rengkuh kembali?’ Matanya yang kosong mengintip masa lalu yang tak sengaja diputar balik dalam ingatan. Ketika mereka berdua berdansa di panggung tanpa penonton, atau bahkan di saat bermain-main di pinggir jurang kematian. Meski begitu, mereka bahagia. Hingga saat ia sadar telah melukai banyak orang.

Tak pula ia bisa mengutuk masa lalunya yang kelam. Ketika ia memaksakan diri merenggut apa yang bukan menjadi haknya. Seperti Adam dan Hawa, ia kini harus terjun jauh dari kenikmatan abadi dan menebus kesalahannya di dasar alam kesendirian. Menyusun anak tangga satu persatu untuk kembali ke langit tertinggi menuju kebahagiaan.

“Apa bahagia itu? Apa yang kau butuhkan? Apa yang kau cari? Dan apa yang hendak kau lakukan?” ia berdialek kepada diri sendiri.

Rahasia itu tetap diam, tak terungkap.

Di panggung itu, ia memainkan peran yang digariskannya saat ini. Menjadi pertapa yang tertunduk meratapi kesunyian. Khusyuk tak terganggu oleh pandangan orang-orang yang menatap sinis dan menilai aneh. Menunggu waktu sampai petunjuk datang dan merubahnya menjadi lebih bijak.

Sesaat ia menyamakan dirinya seperti seorang kriminal yang dipenjara dan dipaksa untuk merasakan ketidaknyamanan hidup di balik jeruji besi, sebagai hukuman atas kesalahannya. Menanti masa bebas hingga kembali menghirup udara bebas usai membayar lunas dosa-dosanya.

“Ya mungkin aku sama seperti mereka,” katanya.

Advertisements

Mereka Semua Tahu

Langit pun melihat isi kepala ku

Tak pernah sedetik pun bayang mu tergantikan disana

Malam juga tahu

Karena mereka memperbincangkan kerinduan ku bersama jutaan bintang di atas sana

Tidak kah kau sadar?

Embun pagi mengerti bahwa aku hanya bisa mengendus mimpi indah tentang mu

Bahkan ketika fajar merona

Ia mendengarkan doa yang tak henti-hentinya ku lanturkan untuk mu

Guguran daun juga merasakannya

Bilamana keindahan mu hanya bisa kuraba lewat memori di senja itu

Jadi tidakkah kau memahaminya?

Manifestasi Simbol

Suatu hal yang berbentuk abstrak memerlukan wadah agar membuatnya seoalah-olah menjadi nyata. Menurut saya, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengubah dimensi immaterial menjadi material, agar gejolak emosi dapat dirasakan juga secara mutlak oleh orang lain.

Realitas pertama, lazimnya manusia, menumpahkan emosi –yang merupakan hal berbentuk abstrak-  melalui perbuatan. Seperti layakanya menunjukkan kebencian dengan cara merubah raut muka atau bahkan tindakan nyata.

Kedua, menumpahkannya melalui gagasan berupa penciptaan simbol, agar terlihat nyata oleh panca indera yang notabene hanya mampu menangkap objek yang kasatmata. Seperti misalnya, simbol hati melambangkan cinta, atau bahkan membuat simbol matahari yang sempat dipuja selama berabad-abad.

Kedua hal tersebut merupakan manifestasi pikiran yang kemudian simbol tersebut dilegetimasi secara universal agar bisa diterima khalayak. Bisa dikatakan bahwa hal itu merupakan upaya manusia menghadirkan realitas. Ini merupakan suatu keistimewaan manusia yang selalu bisa menemukan caranya sendiri dalam menciptakan gagasan dari fenomena yang dialaminya.

Sama halnya dengan perlambagan mengenai Tuhan yang kerap dipertanyakan keberadaannya. Kerap dicari letaknya. Kerap diharapkan kedekatakannya sejak zaman nenek moyang. Begitu kuatnya perasaan spiritual yang meledak-ledak menjadikan mereka, nenek moyang kita, mempercayai ada kekuatan besar yang hanya dapat dirasa, bukan dilihat, maupun disentuh.

Minimnya informasi mengenai sang khalik ketika itu membuat mereka beranggapan bahwa hal yang tak mampu mereka gapai, seperti matahari dan bintang, patut dipuja. Karena itu, mereka memerlukan sebuah media untuk bisa memanisfestasikan simbol ketuhanan versi mereka sendiri. Agar dekat dan tetap menjaga keturunannya aman dari marah bahaya di alam semesta.

Tak heran simbol-simbol di goa atau bahkan tempat spiritual lain melambangkan hal-hal yang sifatnya magis. Goresan di dinding goa nyatanya mampu menuntun mereka meraih kedamaian temporer.

Seiring berjalannya waktu, goresan tersebut kemudian bertransformasi menjadi bentuk yang dipercantik oleh tangan-tangan mereka sendiri. Manifestasi ketuhanan yang awalanya hanya berupa gambar, perlahan berubah menjadi bentuk patung. Kreativitas meningkat seiring bertambahnya pola pikir manusia.

Manusia dengan segala keterbatasannya…

Cahaya dan Selembar Pemahaman

Tak perlu memperdebatkan mana yang lebih dulu muncul, penciptaan atau ketiadaan. Keduanya bukan hal yang bisa dijawab seorang insan yang dibatasi oleh cangkang jasmani, yang terbatas pemahamannya, pengetahuannya, atau bahkan inderanya. Ya, itulah manusia, yang kerap dipaksa untuk berhenti karena keterbatasan yang kita miliki dalam memahami sesuatu.

Jadi mari kita mulai dengan menyebut ‘cahaya’ sebagai satu awal dari perjalanan panjang alam semesta. Suatu bentuk immaterial yang merupakan manifestasi ‘Sang Pencipta’. Suatu esensi yang kerap dilambangkan sebagai petunjuk.

Sejak dulu, nenek moyang kita menatap ke atas dan bertanya-tanya dari lantai bumi mengenai hal yang ada di langit. Mencoba menemukan relasi dari keberadaannya bersama alam semesta dan Tuhan, dengan cara memandang ke atas. Menjadi suatu hal yang logis apabila mereka pernah menyembah bintang dan matahari. Ketidakmampuan mereka meraih hal yang dapat dilihat oleh indera menjadikan dua benda di sistem tata surya sempat dipuja selama berabad-abad lamanya.

Mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Sebagian kecil dari selembar pemahaman mereka dapat dibenarkan. Karena yang pertamakali diciptakan oleh-Nya sebelum malaikat, alam semesta dan manusia adalah ‘Nur Muhammad’. Kita semua berasal dari ‘cahaya’ yang sama.

Setitik Debu Di Jagad Raya

Bukan rahasia lagi bahwa penciptaan alam semesta bukan hanya diperuntukkan bagi umat manusia yang ada di muka bumi. Dari 9 planet yang berada di dalam solar system atau tata surya kita, untuk saat ini memang hanya bumi yang terdeteksi dapat ditempati oleh makhluk hidup.

Temperatur permukaan di planet Merkurius mencapai 467 derajat celsius. Hampir tidak mungkin rasanya ada makhluk hidup yang dapat bertahan disana.

Hal yang sama juga terjadi di planet yang sering dikunjungi oleh para astronot sebagai tempat penelitian. Tidak nampak setitik pun kehidupan di planet Mars. Keberadaan air sebagai entitas utama penunjang kehidupan memang ditemukan di planet ini, namun komposisi air di planet Mars terlalu berasam dan bergaram, sehingga sulit mendukung kehidupan.

Eksistensi manusia sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya membuat kita terkadang merasa spesial dan memiliki pemikiran bahwa kehidupan di alam semesta hanya ditujukan untuk manusia saja.

Beberapa orang bijak menyatakan bahwa “Manusia Hanyalah Debu Di Padang Pasir”. Bagaimana mungkin itu terjadi ketika kita berpikir bahwa sejauh pangamatan dan penelitian yang dijalani, tidak pernah kita temui makhluk hidup seperti manusia yang mempunyai akal dan pemikiran melebihi dari kita sendiri.

Kata-kata bijak tersebut bukanlah sebuah kebohongan belaka manakala kita mengetahui kebenaran dari keberadaan alam semesta dan seluruh isinya. Menyadari bahwa letak bumi bahkan tidak terlihat di galaksi bima sakti.

Tata Surya (Solar System)

Anda tentu mengetahui bahwa bumi merupakan salah satu dari 9 planet yang bernaung di satu matahari yang berada di dalam Tata Surya.

solarsystem
Ilustrasi Solar System

Dapat dilihat bahwa posisi bumi berada pada urutan ketiga yang terdekat dengan matahari pada sistem tata surya setelah planet Merkurius dan Venus.

Hal tersebut pertama kali disadari oleh seorang astronom dan pendeta berkebangsaan Polandia yaitu Copernicus. Ia menyebutkan bahwa bumi bukanlah poros dari tata surya seperti yang dipikirkan oleh orang-orang pada jamannya. Bahwa bumi sama seperti planet-planet lain, berputar mengelilingi matahari. Apakah hanya sebatas itu saja? Mari kita melihat pada skala yang sedikit lebih besar.

Imajinasi Gila Seorang Biarawan

Gagasan yang lebih besar justru datang bukan dari kalangan astronom atau ilmuwan. Giordano Bruno hanyalah seorang biawaran asal Napoli, Italia. Ia menilai bahwa Copernicus belum terlalu jauh melihat posisi bumi di alam semesta.

Keresahan Bruno terhadap penilaian sempit mengenai Tuhan oleh Gereja dan masyarakat membuat dirinya mencari tahu kebenaran dengan membaca buku sains yang notabene dilarang Gereja pada saat itu. Buku tersebut berisi tentang ilmu perbintangan karangan Lucretius yang mati pada 1500 tahun yang lalu.

Lucretius mengajak para pembacanya untuk membayangkan seorang pemanah berdiri diujung tepian alam semesta. Ketika anak panah tersebut dilepaskan, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, bahwa anak panah tersebut akan terus melaju tanpa henti, ataupun membentur sebuah tembok.

Apabila membentur tembok maka jelaslah bahwa alam semesta yang kita pikirkan masih jauh dari batasnya. Katakanlah kemudian pemanah tersebut berdiri pada ujung tembok dan melakukan hal yang sama. Lucretius menyatakan bahwa pemanah itu akan terus menemui batas temboknya hingga dia akan selalu dapat melakukan hal yang sama secara terus menerus, dalam arti jagat raya memang tidak memiliki batas.

Hidayah yang didapatkan Bruno mempengaruhi pola pikirnya tentang konsep Ketuhanan yang selama ini disalah artikan oleh Gereja, bahwa Tuhan yang ia sembah tidak memiliki batasan. Lalu dia menyebarkan apa yang diyakininya ke seluruh masyarakat Eropa.

Namun, Bruno tidak dapat membuktikan gagasannya secara gamblang dengan berbagai tolak ukur yang jelas. Ia hanya memberitahukan kepada khalayak berdasarkan apa yang ia lihat dari dalam mimpi dan imajinasinya tentang pengalaman spiritualnya yang terbang dan menemukan bahwa ternyata planet dan matahari di alam semesta tidak terhitung jumlahnya.

Hal tersebut sudah barang tentu tidak dapat diterima oleh masyarakat dan menilai bahwa Bruno hanyalah orang gila. Nasibnya sama seperti Socrates, mati karena kebenaran yang diyakininya. Ia dihukum oleh Gereja dengan cara dibakar hidup-hidup karena dinilai telah menyebarkan ajaran sesat.

Solar Interstellar Neighborhood

Terdapat beberapa sistem tata surya lainnya di dalam Solar Interstellar Neighborhood. Tata surya diperkirakan masuk ke dalam tatanan yang berbentuk menyerupai awan ini pada 44.000-150.000 tahun yang lalu dan berada di dalamnya dalam kurun waktu 10.000-20.000 tahun.

earth-location-in-the-universe-solar-interstellar-neighborhood
ilustrasi Solar Interstellar Neighborhood

Galaksi Bima Sakti (Milky Way)

Sepuluh tahun usai kematian Bruno, Galileo Galilei untuk pertama kalinya melihat dengan teleskop dan menyadari bahwa yang dikatakan Bruno selama ini adalah benar. Galaksi Bima Sakti (Milky Way) terdiri dari bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.

Tebakan Bruno memang hanyalah sebuah keberuntungan. Namun yang dilakukannya memancing orang lain untuk paling tidak membuktikan bahwa yang dikatakan Bruno selama ini salah dan itulah yang dilakukan Galileo.

milky way
ilustrasi Milky Way

Gambar diatas merupakan Galaksi Bima Sakti yang memiliki 200-400 miliar bintang dan 3.264 planet. Matahari sebagai pusat tata surya sama seperti bintang-bintang lain yang selama ini kita lihat. Gravitasi beserta efek matahari dapat dirasakan oleh bumi karena letaknya yang begitu dekat dengan bumi yakni sekitar 149.6 juta kilometer.

Sedangkan jarak matahari menuju pusat galaksi yang dikenal sebagai lubang hitam (black hole) adalah 27.700 tahun cahaya. Sebagai informasi, 1 detik cahaya dapat menempuh jarak sejauh 300.000 kilometer.Hampir sama dengan jarak antara Bumi dan Bulan. Kini Anda dapat menghitung sejauh apa jarak kita menuju pusat lubang hitam.

Di dalam Galaksi ini pula terjadi proses kemunculan dan kematian bintang saat terjadi ledakan Suprnova. Dalam satu tahun, Galaksi Bima Sakti tercatat dapat melahirkan 7 bintang baru.

Local Group

Galaksi Andromeda dan beberapa kumpulan galaksi lainnya disebut sebagai sebagai local group.

5_Local_Galactic_Group_(ELitU)
ilustrasi Local Group

 

Virgo Supercluster

Dalam skala yang lebih besar terdapat Superkluster Virgo yang  setidaknya terdapat 100 kelompok galaksi. Setiap cahaya yang terlihat merupakan galaksi yang di dalamnya memiliki miliaran matahari dan planet yang tidak terhitung jumlahnya.

6_Virgo_Supercluster_(ELitU).png
ilustrasi Virgo Supercluster

 

Laniakea Supercluster

Supercluster Laniakea terdiri dari sekitar 100.000 galaksi dan berjarak terbentang sejauh 520 juta tahun cahaya. Terdapat empat supercluster di dalam Laniakea selain supercluster Virgo, yaitu Hydra-Centaurus, Pavo-Indus, dan Fornax-Eridanus ditambah Antlia Wall.

Keberadaannya berhasil ditemukan oleh peneliti Institut Astronomi, Universitas Hawaii, bernama R Brent Tully pada September 2014 lalu dengan bantuan beberapa temannya. Setalah melakukan pengamatan gerak lebih dari 8.000 galaksi, ia menemukan bahwa Galaksi Bima Sakti berkumul bersama grup dan gugus galaksi lain. Mereka bergerak menuju Great Attractor dengan tarikan gravitasi masif di arah Gugus Galaksi Centaurus.

1409766568152_wps_4_National_News_and_Picture
Ilustrasi Laniakea Supercluster

 

Observable Universe

Satu bagian kecil dari Laniakea Supercluster membenteuk Observable Universe atau Jagad Raya. Sebuah jaringan terbesar dari ratusan miliar galaksi. Belum ada waktu yang cukup dalam 13,8 miliar umur alam semesta agar cahaya dapat mencapai bumi dalam skala tersebut. Bahkan kita hanya dapat mengira-ngira dimana letak Galaksi Bima Sakti berada. Siapa tahu disana memang ada makhluk hidup seperti manusia yang memiliki kehidupan yang sama seperti kita di bumi.

lFnDf
ilustrasi Observable Universe

Tuhan yang menciptakan kita bukanlah sebuah entitas yang dapat dengan mudah dipahamai apalagi dicari, melihat kemungkinan yang hampir mustahil untuk dapat menggapai Observable Universe. Sungguh menakjubkan apabila kita memikirkan bagaimana sang Khalik dapat mengatur begitu banyaknya kehidupan yang ada di dalam satu kesatuan Observable Universe.

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa Observable Universe hanyalah satu molekul kecil yang berada di dalam air dengan kehidupan yang tanpa akhir dalam air terjun yang tak berujung. Menelisik keberadaan-Nya tidak akan pernah mampu dicapai oleh kita yang besarnya bahkan lebih kecil dari dari setitik debu, nyaris tak terlihat. Allahu Akbar.

source : Wikipedia, TV Mini-Series – Cosmos a Spacetime Odyssey

“Look at the sky in the night. Above there, a never ending story with many characters lies ahead.  A story about a million stars versus the dark,”

 

 

The Long and Winding Road dan Jumat yang Sama

Jumat itu sama seperti Jumat biasanya, Iril untuk kesekian kalinya sengaja menyempatkan waktu untuk menonton cover music dari band kesukaannya, The Beatles. Penampilan selama kurang lebih 3 jam nyatanya tak pernah gagal membantu merefresh otak setelah seminggu digempur tekanan pekerjaan yang menguras tenaga. Bagaimana tidak? Iril yang merupakan seorang jurnalis bekerja bak kuda, dipaksa berlari sampai tengah malam demi memenuhi tuntutan kantor. Menjadi sangat wajar ketika isu terkini semakin membuatnya terpojok dengan deadline.

Sebuah rutinitas yang sebenarnya tidak membosankan. Bagi Iril, menjadi penulis adalah sebuah mimpi. Dapat memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai realitas hidup yang acapkali hanya dipandang dengan kacamata sempit dari sosial merupakan tujuan hidupnya. Namun, Ia menyadari bahwa ilmunya mengenai penulisan dan kehidupan belum cukup mampu menggugah banyak orang. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis.

Bertemu orang-orang hebat dari berbagai macam bidang membuat pemahamannya semakin mendalam. Belum lagi teman sesama jurnalis punya keterikatan yang saling terkait, saling mambantu memberikan informasi kendati baru bertemu dalam jangka waktu hanya 1 menit. Para jurnalis sadar bahwa kelak mereka akan dihadapkan pada posisi membutuhkan pertolongan, oleh karena itu dengan berazaskan ‘senasib sepenanggungan’ mereka tidak pernah berkeberatan memberikan foto, rekaman maupun ‘tikpad’.

Kolega Iril bertambah banyak semenjak ia menjadi jurnalis. Seiring berjalannya waktu, lingkaran di dalam kehidupannya bertambah besar, tanpa ia sadari di dalamnya terdapat kotak kecil. Sebuah ruang kosong bertuliskan kehampaan menempati sudut di relung hati kecilnya.

***

Seperti pada Jumat yang lain, sore itu ia duduk di depan cafe dengan segelas minuman dingin yang berbahan dasar teh. Sambil menunggu penampilan cover music The Beatles, Iril melansir beberapa berita yang infonya ia dapatkan dari teman sesama jurnalis, atau pun mengutip dari kantor berita pusat milik pemerintah.

Di depan meja yang ia tempati merupakan jalan tempat orang-orang berhulu-lalang. Ia duduk di kursi sofa panjang yang cukup nyaman untuk didiami selama berjam-jam. Iril sengaja untuk duduk di outdoor agar dirinya dapat merokok sambil melansir berita.

Seperti biasa, ia mengetik dengan menggunakan laptop. Bukan hanya laptop, cafe dan minuman dingin juga menjadi teman karibnya hari itu. Sofa dan meja yang berada di pojok cafe didaulat olehnya sebagai singgasana pribadi. Orang-orang seperti satpam dan penjaga cafe yang lain sudah terbiasa melihat Iril duduk di sofa pojok setiap Jumat.

Terlalu seringnya hingga pada suatu Jumat, seorang penjaga cafe ‘gatal’ ingin mengetahui apa yang ia lakukan. Alih-alih meminjam korek, salah satu penjaga cafe bertingkah layaknya jurnalis sungguhan, mengumpulkan data hingga lalu disebar ke khalayak.

“Mas, boleh minjem korek?” pinta petugas cafe.

“Silahkan mas,” tutur Iril seraya memberikan koreknya.

“Numpang duduk ya mas,”

“sok-sok,” jawab Iril spontan dengan menggunakan bahasa Sunda.

“lagi ngapain mas?” kata petugas cafe.

“ini mas, ngetik berita, kerja,” jawab Iril.

Iril sedikit lega karena pada akhirnya ada seseorang yang memberanikan diri untuk bertanya, setelah sebelumnya, beberapa dari mereka hanya memandang aneh dirinya yang duduk selama lebih dari 6 jam di cafe hanya dengan segelas minuman dingin dan laptop. Terlebih lagi ia ‘sendiri’.

“ohh, wartawan ya mas? Wah hebat dong,” puji petugas cafe.

“iya mas, ahh biasa aja kok,” jawab Iril.

Sisanya, obrolan mereka tidak terlepas dari curhat mengenai pekerjaan dan gaji yang tidak seberapa. Iril sudah mulai terbiasa melihat tatapan aneh orang-orang mengenai dirinya yang duduk sendirian selama berjam-jam. Tatapan mereka semakin tajam ketika Iril pindah ke kursi di dekat panggung untuk menikmati music cover setelah jam 8 malam. Iril tahu percis arti dari tatapan merendahkan mereka. Tak jarang beberapa dari mereka melemparkan senyum meledek dan sambil lalu melewati Iril. Ia hanya dapat berkata dalam hati sembari menguatkan diri, “kalian semua menertawakan ku karena aku berbeda, tapi ijinkan saya menertawakan kalian, karena kalian semua sama,” ucap suara yang berasal dari ‘ruang kosong’.

***

Pada awalnya, Iril tidak terlalu mengindahkan penilaian mereka. Namun setelah sekian lama ia seperti ditarik mendekati pusaran mata sosial. Indera penglihatannya memberikan refleksi kehidupan Iril secara jelas. Matanya sendiri seolah-olah berbicara lantang dan tak mampu terelakkan.

Melihat gelak tawa orang-orang yang datang bersama sahabatnya, memperhatikan kasih sayang kedua orang tua yang mengajak anaknya merayakan akhir pekan, atau menyaksikan kedua insan yang tidak malu memperlihatkan cintanya lewat genggaman tangan. Mereka yang berusaha keras mengabadikan momen dengan berfoto bersama, mereka yang bersama-sama menertawakan masa kejayaannya, atau mereka yang sedang melewati malam dengan sebuah lilin di tengah meja sambil menceritakan kebahagiaannya.

Apa yang dilihat Iril bertranformasi menjadi sebuah tanya besar dan menuntut untuk dijawab. Seperti debt collector, ia menagih hutangnya untuk dibayar lunas tanpa ada tenggang waktu. “Apakah aku kesepian? Hingga selalu datang sendiri di setiap Jumat.”

Terlalu sering Iril dan ‘sahabat-sahabatnya’ menjadi saksi perayaan akhir pekan orang-orang yang secara sosial hidup dengan cara berbagi kasih antara sesama. Sebuah gambaran bentuk cinta kasih insan manusia yang jarang dilukis oleh Iril. Mungkin ia hampir lupa bahwa warna langit di kanvas bukan hanya oranye senja, bahwa cuaca yang indah untuk digambar bukan hanya hujan dan tidak semua goresan gambar dermaga dilabuhi hanya dengan satu kapal.

Ia tidak menyadari bahwa dirinya semakin akrab berdialog dengan ‘kesendirian’, bukti bahwa pada awalnya ia tidak menghiraukan perkataan orang lain merupakan wujud nyata bahwa Iril mulai menikmati kesepiannya. Hati kecilnya menuntut eksistensi yang selama ini kerap disangkalnya dengan pembenaran dan kata-kata bijak penghibur diri.

“Mungkin mereka benar, bahwa aku aneh. Dan mungkin kau (hati kecil) benar, bahwa aku kesepian,” ucap Iril dalam hati. “The Long and Winding Road” mengalun selepas pengakuan diri. “Ahh, lagu ini mungkin pas buat kamu (hati kecil), selamat menikmati,” kata Iril dalam hati sambil tersenyum.

“The wild and windy night that the rain washed away
Has left a pool of tears, crying for the day
Why leave me standing here, let me know the way

Many times I’ve been alone and many times I’ve cried
Anyway you’ll never know the many ways I’ve tried

And still they lead me back to the long and winding road
You left me standing here a long, long time ago
Don’t leave me waiting here, lead me to you door”

(The Beatles – The Long and Winding Road)

Perihal Cinta

Ia yang mengatur, dua jaring yang pada awalnya tak diketahui alurnya. Terpisah, tanpa bentuk dan berserakan menyelimuti pohon kehidupan. Mereka bersinggungan dan membentuk garis baru yang mulai terpola. Menghiasi sepucuk daun di balik ranting yang enggan rapuh termakan usia.

Ia yang memanggil, dua hati yang enggan berbicara kepada mereka yang tidak layak. Berbisik di sela telinga yang kian lelah mendengar kedustaan. Suaranya menggema penuhi ruang kehampaan. Melagukan kerinduan lewat getaran hati yang tak mampu dipahami. Membangunkan mereka dari mimpi panjang dan mengakhiri penantian.

Ia yang menuliskan, rangkaian aksara dari sejuta keinginan. Menguntai kata indah penuh makna. Menggoreskan tinta tanpa sedikitpun kebohongan. Mencatat semua suka dan duka bersama. Merangkai semua tangis dan tawa berdua. Menuangkan memori dalam buku bertajuk ‘kehidupan’.

Ia yang melihat, dua insan yang kerap menadahkan kedua tangan. Memandang mereka yang mulai letih mencari. Menilisik jauh ke dalam hati yang suci. Memperhatikan mereka yang tanpa letih menanti. Mencari mereka yang tanpa henti percaya, bahwa kelak akan dipertemukan lewat apapun itu namanya.